Bisnis Indonesia Online » Keuangan » Multifinance
Selasa, 31/07/2007 15:06 WIB
Mayoritas perusahaan pembiayaan kesulitan
oleh : Siti Munawaroh
JAKARTA (Bisnis): Lebih dari separuh perusahaan pembiayaan mengalami kesulitan selama 2006 antara lain karena kenaikan BBM yang menggerus laba industri ini 5,45% menjadi Rp2,80 triliun dari Rp2,96 triliun pada 2005.
Kajian Biro Riset InfoBank yang dikemas dalam Rating 137 Multifinance 2007 menunjukkan
dari 214 perusahaan pembiayaan yang ada, hanya 152 perusahaan yang mengumumkan laporan keuangan, lima perusahaan diketahui tidak mengumumkan laporan keuangan dan 57 perusahaan masih dalam bentuk izin.
Direktur Biro Riset InfoBank Eko B. Supriyanto menyatakan turunnya perolehan laba dikarenakan tiga hal. Pertama, kenaikan BBM yang mencapai 126%. Kedua, daya beli masyarakat yang menurun sehingga cicilan maupun pembelian pembelian kendaraan bermotor mengalami kemacetan dan penurunan. Ketiga, suku bunga yang masih tinggi. Penurunan laba bersih ini kali pertama sejak 2001 atau sesudah krisis 1997-1998.
"Tapi di tengah situasi makro yang kurang kondusif pada kuartal terakhir atau persisnya September lalu suku bunga perbankan atau simpanan mulai turun. tren penurunan suku bunga ini berlangsung sampai saat ini," katanya dalam siaran pers yang diterima Bisnis hari ini.
Kendati mengalami masalah berat di tahun lalu, Eko menilai industri ini bakal mengalami kecerahan pada 2007. Industri multifinance diperkirakan akan mampu merebut pasar pembiayaan konsumen sebesar Rp77 triliun sampai Rp80 triliun dari pasar otomotif yang diperkirakan Rp150 triliun.
"Kegiatan joint financing bakal meningkat antara bank dan multifinance. Meskipun bank juga melihat secara teliti mana multifinance yang sehat," katanya.
Dalam kajian kinerja keuangan multifinance ini, ada 45 perusahaan yang mendapat predikat "sangat bagus", 43 perusahaan predikat "bagus", 29 perusahaan "cukup bagus", dan 20 perusahaan lainnya "tidak bagus".
Eko menjelaskan ada 15 multifinance walaupun menerbitkan laporan keuangannya tapi tidak ikut di-rating. Hal ini karena laporannya tidak lengkap sehingga untuk menjadi perbandingan dengan multifinance lain atau bahkan dengan kinerjanya sendiri dari tahun ke tahun cukup sulit.
Lima di antara perusahaan pembiayaan yang beraset Rp1 triliun ke atas dan menyabet predikat "sangat bagus" yaitu BFI Finance Indonesia, Chandra Sakti Utama Leasing, Summit Oto Finance, Buana Finance dan BCA Finance.
Sementara itu, lima di antara perusahaan multifinance beraset Rp100 miliar dan dibawah Rp1 triliun yang berpredikat "sangat bagus" yaitu Mandala Multifinance, Astrindo Pacific Finance, Mandiri Finance Indonesia, HD Finance dan Surya Artha Nusantara Finance. (09)
bisnis.com
Berita Lain
- Restrukturisasi pembiayaan macet sepeda motor lebih sulit
- 25 Perusahaan ingin masuk sistem informasi debitor
- KPPU : Izin Central Java tidak ganda
- Pembiayaan Intan Baruprana naik dua kali lipat
- Pembiayaan Mandala capai Rp521 miliar
Komentar
#2 - No.1 Profit
Orientasi utama dari setiap perusahaan adalah profit, seharusnya tidak perlu ada penurunan profit jika setiap perusahaan menerapkan Risk Management dengan benar dan paham "positioning" perusahaannya, masuk ke Samudra Biru dan jangan masuk ke Samudra Merah.
ahmad saugi - Malang @ 29/08/2007 - 14:29 WIB dari 219.83.53.35 (mail.oto.co.id)
#1 - Jeli
Jika multifinance tahu benar kinerja internalnya, pasti tidak akan terpengaruh pada saat adanya kenaikan BBM yang menggerus laba industri ini. Jeli membaca peluang dan konsisten akan membawa multifinance lebih survive, yang tentunya diikuti dengan langkah perubahan internal. Pasar terus berubah itu suatu kenyataan!
ambar widijono - Jakarta/Indonesia @ 12/08/2007 - 23:12 WIB dari 125.161.169.10 (10.subnet125-161-169.speedy.telkom.net.id)