Bisnis Indonesia Online » Keuangan » Multifinance
Selasa, 15/07/2008 17:47 WIB
Restrukturisasi pembiayaan macet sepeda motor lebih sulit
oleh : M. Yunan Hilmi
JAKARTA(Bisnis.com): Restrukturisasi pembiayaan multifinance yang macet di sektor consumer finance khususnya sepeda motor lebih sulit dilakukan karena pola kredit yang berbeda dengan perbankan.
"Sejak tahun lalu, pembiayaan sepeda motor dari industri multifinance banyak yang macet. Mungkin disebabkan kenaikan harga BBM dan tingginya inflasi. Pembiayaan sepeda motor ini berbeda dengan kredit bank seperti KPR atau UKM yang dikelola secara banking. Restrukturisasinya pun beda," ujar seorang konsultan finansial yang enggan disebut namanya.
Menurut dia, karakter nasabah multifinance pembiayaan sepeda motor lebih banyak masyarakat kalangan bawah. Bahkan tidak jarang multifinance tidak membebankan uang muka sepersenpun. Sehingga timbul pemikiran tidak ingin melunasi utang lantaran mendapatkannya pun tanpa modal. "Modalnya saja modal dengkul, kalau mau ditarik ya...tarik saja," paparnya.
Dia menambahkan diperlukan keahlian khusus untuk menangani restrukturisasi pembiayaan macet pada sepeda motor. "Saya pernah menangani kredit motor yang macet di salah satu bank yang telah ditutup. Nilainya puluhan miliyar rupiah. Waktu itu hasilnya tidak begitu menggembirakan," ujarnya.
Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Wiwie Kurnia menilai tidak bisa dibandingkan antara jenis kredit rumah dengan pembiayaan multifinance. "Antara KPR dengan kredit UKM saja lain. Jadi masing-masing mempunyai spesifikasi," jelasnya.
Dia menjelaskan ada tiga jenis pola restrukturisasi yakni diperpanjang, dilunasi, dan sepeda motornya ditarik. "Tidak sedikit pembiayaan yang macet di sepeda motor minta diperpanjang masa pembayarannya. Namun, jika dibandingkan antara yang diperpanjang dengan yang ditarik, itu hampir sama persentasenya. Sementara yang dilunasi lebih lebih sedikit."
Wiwie menilai persentase pembiayaan macet di multifinance saat ini justru menurun. Posisi pada Maret 2008 berkisar 1,8% dari total pembiayaan sekitar Rp100 triliun. Dia mengakui setelah harga BBM naik pada dua tahun lalu pembiayaan multifinance yang macet naik dari 1,9% menjadi 2,9%. "Keadaan membaik sejak 2007 sampai sekarang. Penurunan ini terjadi karena pembiayaan sepeda motor dan mobil sangat berkaitan dengan kondisi ekonomi."
Wiwie menambahkan sejumlah produsen sepeda motor memasukkan sepeda motor yang telah ditarik dari nasabah ke dalam divisi khusus. Selanjutnya, sepeda motor itu diperbaiki dan dijual kembali dengan kondisi bekas melalui dealer.
bisnis.com
Berita Lain
- Kembang 88 Finance biayai 5.854 unit kendaraan
- Kembang 88 Finance dapat pinjaman Rp700 miliar
- Perusahaan pembiayaan laba Rp2,6 triliun
- Indojasa Finance bayarkan amortisasi Rp3,82 miliar
- Laba Clipan Finance melonjak 132%