JAKARTA (Bisnis.com): Penurunan BI Rate sebesar 25 basis poin diharapkan dapat memberikan stimulus bagi perbankan untuk terus menurunkan suku bunga kredit.
Ekonom Senior BNI Ryan Kiryanto berpendapat BI Rate memang harus turun secara konsisten karena ekspektasi inflasi hingga akhir tahun tetap melandai.
"Ini [penurunan suku bunga acuan] memberikan stimulus bagi perbankan untuk terus menurunkan suku bunga kredit. Apalagi kondisi makro tetap terjaga dengan baik sehingga ancaman kredit bermaslah [non performing loan] dapat ditangkal. Bursa saham juga akan bergairah karena pemodal akan masuk pasar saham memburu saham-saham yang diuntungkan oleh turunnya BI Rate," ujarnya kepada Bisnis.com, hari ini.
Bank Indonesia kembali menurunkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,75%. Pejabat Gubernur BI Miranda Swaray Goeltom mengatakan keputusan itu diambil setelah mengevaluasi perkembangan situasi ekonomi dan keuangan dalam negeri dan luar negeri.
"Berbagai indikator mutakhir menunjukkan perkembangan ekonomi global ternyata lebih suram dari yang diperkirakan beberapa bulan yang lalu," katanya.
Dia menyampaikan penurunan BI Rate itu diharapkan bisa memfasilitasi percepatan pemberian kredit tanpa menghilangkan unsur kehati-hatian dalam jangka waktu lebih panjang.
Menurut dia, kondisi perbankan nasional sampai saat ini masih cukup bagus untuk menopang pertumbuhan kredit. Hal itu tercermin dari rasio permodalan di level 17,3% dan rasio NPL perbankan yang tetap pada batas-batas yang aman.
Dia menambahkan kondisi likuiditas perbankan, termasuk aliran likuiditas dalam pasar uang antarbank, mulai mengalami perbaikan dibandingkan dengan beberapa bulan yang lalu.(yn)
Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »