Bisnis Indonesia Online » Keuangan » Perbankan


Jumat, 15/08/2008 18:18 WIB

Bank Lippo catat penurunan laba bersih

oleh : M. Yunan Hilmi

JAKARTA (Bisnis.com): Bank Lippo mencatat penurunan total laba bersih setelah pajak dan provisi selama semester I/2008 menjadi Rp150 miliar yang disebabkan kinerja yang lebih rendah ini akibat dari 'mark to market' yang terjadi karena volatilitas pasar dalam portofolio pendapatan tetap yang mayoritas berupa obligasi pemerintah Republik Indonesia.

Direktur Treasury Gottfried Tampubolon mengatakan pihaknya menghadapi semester pertama yang penuh tantangan tahun ini karena pasar masih mengalami dampak negatif akibat krisis subprime mortgage di Amerika Serikat. Kondisi itu diperburuk oleh inflasi yang tinggi karena kenaikan harga energi.

"Walaupun demikian, kami percaya bahwa kondisi ekonomi makro akan berangsur-angsur membaik dalam semester kedua tahun ini. Kami terus optimistis atas prospek dari bisnis kami dalam jangka pendek dan seterusnya," katanya dalam siaran pers, hari ini.

Marjin bunga bersih (NIM) juga mengalami tekanan karena spread antara tingkat suku bunga kredit dan simpanan mengecil dalam 12 bulan terakhir. Hal ini mencerminkan kenaikan tingkat suku bunga dan ketatnya persaingan bisnis. Permodalan bank tetap kuat dengan posisi ekuitas mencapai Rp3,52 triliun semester I/2008.

Sementara capital adequacy ratio (dengan memperhitungkan risiko pasar) menurun dari 24,5% menjadi 17,1% disebabkan kuatnya pertumbuhan kredit. Bank Lippo catat pertumbuhan kredit sebesar 61% year-on-year (yoy) menjadi Rp24,58 triliun secara konsolidasi untuk periode tahun buku yang berakhir 30 Juni 2008.

Presdir dan CEO Bank Lippo Henk Mulder mengatakan pertumbuhan kredit di atas 50% ini merupakan tahun keempat berturut-turut. Hal ini, lanjutnya, mencerminkan komitmen bank terhadap tanggung jawab intermediasi untuk mendukung perekonomian. Portofolio kredit Bank Lippo terdiri dari 40% kredit komersial/SME, 31% kredit korporasi, dan 29% kredit consumer (termasuk piutang pembiayaan yang disalurkan melalui anak perusahaan, PT Kencana Internusa Artha Finance. "Penekanan kredit kepada segmen konsumen dan UKM telah dan akan terus berkelanjutan," katanya dalam siaran pers, hari ini.

Aset Bank Lippo (konsolidasi) pada semester I/2008 mencapai Rp41,38 triliun, meningkat 11% yoy. Di sisi kewajiban, total dana pihak ketiga (DPK) tumbuh sebesar 13% menjadi Rp33,44 miliar. "Komposisi dana murah Bank Lippo tetap kuat, dimana giro dan tabungan menyumbang 66% dari total DPK. Pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan dana mengakibatkan peningkatan loan to deposit ratio (LDR) dari 52% menjadi 73%," ujarnya.

Bank Lippo mempertahankan kualitas portofolio kredit dan memperbaiki rasio NPL kotor dari 1,7% menjadi 1% semester II/2008, jauh di bawah batas maksimum 5% yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. CFO Thila Nadason mengatakan pihaknya berhasil memperbaiki rasio NPL kendati portofolio kredit tumbuh lebih dari 50% dengan menjalankan prinsip kehati-hatian dalam manajemen risiko kredit dan tata kelola perusahaan.

Bank ini membukukan total pendapatan operasional sebesar Rp1,14 triliun paruh pertama 2008. Beban operasional dikelola secara hati-hati dan meningkat hanya sebesar 6% yoy menjadi Rp786 miliar di tengah kondisi inflasi yang tinggi.(yn)

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Rasio kredit bermasalah di Korsel makin naik
  • Mandiri biayai 40 mitra usaha CV Vita Husada
  • Kredit belum tersalur Bank DKI Rp300 milar
  • Perbankan akan fokus garap fee based income

Komentar

Beri Komentar