Bisnis Indonesia Online » Keuangan » Perbankan


Rabu, 27/08/2008 15:05 WIB

Mandiri bantu 3.000 penderita TBC

oleh : M. Yunan Hilmi

JAKARTA (Bisnis.com): Bank Mandiri memberikan bantuan kepada 3.000 penderita TBC yang tidak mampu senilai Rp564 juta melalui kerja sama dengan Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) sebagai bagian dari Program Bina Lingkungan.

Direktur Bank Mandiri Bambang Setiawan mengatakan kerja sama ini sudah terjalin sejak 2004. "Sejak 2004 realisasi pemberian hibah tahap I–III senilai total Rp453,25 juta digunakan untuk membantu pengobatan sebanyak 1.822 penderita TBC, melebihi target awal sebanyak 1.580 pasien," katanya dalam siaran pers, hari ini.

Dia menjelaskan dari angka tersebut jumlah pasien yang berhasil sembuh sebanyak 1.457 orang atau 80%. Menurut dia, penanganan TBC membutuhkan dukungan semua pihak. Untuk memastikan terkenanya seseorang dengan penyakit ini membutuhkan serangkaian tes seperti BTA (Basil Tahan Asam) atau radiologi, dengan biaya yang relatif mahal untuk ukuran masyarakat tidak mampu.

Selain itu, waktu pengobatan yang harus kontinyu dan cukup lama (berkisar 6-9 bulan) dengan jenis obat yang cukup banyak serta tingkat pengetahuan masyarakat miskin yang masih rendah. Dibutuhkan dukungan nyata untuk membantu biaya pengobatan dan pemeriksaan dini, sehingga jumlah penderita TBC dapat ditekan.

Untuk itu, lanjutnya, bantuan berupa biaya pengobatan yang terdiri atas biaya konsultasi dokter, rontgent dan pemeriksaan dahak serta uang transportasi bagi penderita TBC dari keluarga tidak mampu yang berobat dengan sistem DOTS (Directly Observed Treatment Shourtcourse), sangat dibutuhkan.

"Hampir 75% penderita TBC ditemukan pada kelompok usia produktif yaitu usia 14-54 tahun, sehingga menyebabkan beban sosial semakin besar. Kami berharap dengan keterlibatan Bank Mandiri dapat meringankan beban mereka sehingga angka kesembuhan penderita TBC dapat meningkat,” kata Bambang.

Ketua Umum Pengurus Pusat PPTI Ratih Siswono Yudo Husodo menjelaskan salah satu faktor utama penyebab rendahnya angka penemuan penderita TBC dan kegagalan pengobatan adalah ketiadaan biaya. Padahal, tanpa pengobatan yang teratur, seseorang yang terinfeksi kuman TBC menjadi penular aktif bagi orang lain sehingga penularan akan semakin meluas dan penegakan diagnosis serta pengobatan secara teratur mutlak dibutuhkan.

"Penyakit TBC merupakan penyebab kematian terbesar ketiga sesudah penyakit jantung dan ISPA dengan pertambahan sekitar 534.000 kasus setiap tahunnya di Indonesia. Bahkan dari 22 negara di dunia, Indonesia berada di peringkat ketiga setelah India dan China dengan masalah TBC terbesar di dunia. Sebagian besar penderitanya adalah masyarakat yang hidup di lingkungan kumuh dengan tingkat kebersihan lingkungan yang rendah."(yn)

bisnis.com

 

Berita Lain

  • HSBC pangkas 500 karyawan di Asia
  • Mandiri gandeng IHF buka 40 sekolah SBB
  • Paskah: Belum saatnya full guarantee
  • Nasabah Bank Century tak bisa cairkan deposito

Komentar

Beri Komentar