Bisnis Indonesia Online » Keuangan » Perbankan


Kamis, 04/09/2008 15:40 WIB

BI Rate naik arahkan inflasi 12% akhir tahun

oleh : M. Yunan Hilmi

JAKARTA (Bisnis.com): Keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate merupakan upaya bank sentral yang all out untuk mengarahkan inflasi pada level 12% akhir tahun.

Ekonom Senior BNI Ryan Kiryanto mengatakan dinaikkannya BI Rate dari 9% menjadi 9,25% menunjukkan upaya BI untuk pengereman inflasi secara all out.

"Kenaikan ini dilakukan sejak Mei ketika BI Rate pertama kali naik dari 8% menjadi 8,25% hingga saat ini 9,25% dengan tujuan agar inflasi di akhir tahun ini bisa diarahkan ke level 12% dan inflasi 2009 bisa mencapai 6,5% sesuai asumsi RAPBN 2009. Jadi jelas BI tidak hanya melihat past performance dari inflasi y-o-y, inflasi Agustus maupun inflasi y-t-d, namun melihat jauh ke depan," katanya, hari ini.

BI memutuskan untuk kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 9,25%, guna mencapai sasaran inflasi dalam jangka menengah sebesar 6,5%-7,5% mengingat permintaan agregat perekonomian masih kuat. Gubernur BI Boediono mengatakan keputusan tersebut diambil setelah mencermati perkembangan dan prospek ekonomi global, regional serta domestik guna menjaga stabilitas perekonomian dan sistem keuangan Indonesia.

"Sampai saat ini tekanan inflasi di dalam negeri masih kuat, terutama sebagai akibat dari permintaan agregat yang tumbuh cepat. Tekanan dari kenaikan harga energi, pangan dan komoditi di pasar dunia sementara ini mereda, tetapi tetap harus diwaspadai,” ujarnya.

Ryan menambahkan dalam cara pandang yang lain, jika inflasi Agustus yang hanya 0,51% saja bisa mendorong kenaikan BI Rate 25 bps, ada kemungkinan Oktober kembali naik. Hal ini, lanjutnya, didorong oleh perkiraan inflasi September sampai melampaui 1% karena dampak lonjakan harga LPG.

"Juga untuk Desember dimana inflasi menjelang akhir tahun biasanya juga tinggi. Jika pola ini berlanjut sesuai skenario, BI Rate hingga akhir tahun akan berada di kisaran 9,5%-9.75%," tegasnya.

Kenaikan BI Rate saat ini, tuturnya, tentu kurang menggembirakan bagi perbankan di tengah ketatnya likuiditas. Juga kurang menggembirakan bagi sektor riil karena mereka melihat kemungkinannya suku bunga (dana dan kredit) akan naik.

"Padahal bank-bank sedang dihadapkan pada kenaikan biaya dana untuk meningkatkan likuiditas dan sektor riil dihadapkan pada kenaikan biaya operasional terutama bagi yang bergantung kepada import content. Pertanyaannya, apakah BI akan terus menaikkan BI Rate untuk meredam inflasi jika sebenarnya faktor dominan lonjakan inflasi bukan disebabkan oleh variabel moneter?"(yn)

bisnis.com

 

Berita Lain

  • HSBC pangkas 500 karyawan di Asia
  • Mandiri gandeng IHF buka 40 sekolah SBB
  • Paskah: Belum saatnya full guarantee
  • Nasabah Bank Century tak bisa cairkan deposito

Komentar

Beri Komentar