Lee Byung-chul tak hanya mewariskan sebuah imperium global. Saat dia meninggal dunia pada 19 November 1987, Samsung Group yang awalnya sebuah perusahaan pengekspor beras-memang sudah merambah pasar teknologi global, terutama di bidang elektronik dan semikonduktor. Warisan pokok yang diemban putra ketiganya, Kun Hee Lee, adalah sebuah kultur bisnis yang tahan segala cuaca.
Di tangan Kun Hee Lee, Samsung (dalam bahasa Korea berarti tiga bintang) berhasil melalui fase-fase krusial dan melakukan lompatan spektakuler, yang kini menempatkannya di garda terdepan teknologi digital.
Perhatikanlah sebagian prestasi Samsung di pentas dunia. Pada 1999, Samsung memelopori pengembang-an peranti memori berkapasitas 256 Megabite. Inovasi ini diteruskan dengan target terciptanya kartu memori pertama berkapasitas 20 Terabite pada 2015 kapasitas yang sanggup memuat seluruh buku di Perpustakaan Kongres Amerika Serikat. Kini, Samsung adalah raksasa semikonduktor nomor dua di dunia setelah Intel Corp.
Di ranah elektronik, dengan andalan terbarunya, Samsung Bordeaux Plus, Samsung memuncaki pasar televisi global. Di toko elektronik ternama London, Dixons, satu dari setiap tiga produk yang terjual pasti bermerek Samsung.
Samsung juga menjadi vendor televisi pertama yang bisa masuk Istana Buckingham melalui tender pada 2006. Pada triwulan kedua 2007, Samsung menggeser Sony di puncak tangga pasar televisi Amerika Utara. Nama Samsung pula yang menempati posisi teratas dalam hal volume penjualan televisi di Prancis.
Lee Byung-chul memulai bisnis dengan modal 30.000 won (sekitar Rp288.000) di Taegu, 281 kilometer sebelah tenggara Seoul, pada 1938. Bisnisnya ketika itu adalah ekspor beras, ikan asin, sayur-mayur dan buah-buahan ke Manchuria dan Beijing. Tak terlalu berhasil, memang. Tapi, sekitar satu dekade kemudian, perusahaannya punya mesin penggilingan tepung dan pabrik gula. Pabrik gula yang diberi nama Cheil Sugar Manufacturing Co itu, kini sudah berdiri sendiri, tak terafiliasi dengan Samsung.
Pada 1954 Lee meluaskan kepak sayap bisnisnya dengan mendirikan perusahaan pengangkutan, lalu dua perusahaan asuransi diakuisisinya masing-masing pada 1958 dan 1963. Kiprah bisnis Lee terus menjalar ke mana-mana, ke pasar swalayan, rumah sakit, peternakan, industri hiburan, bahkan pabrik kertas dan media. Pada 1965 Lee mengakuisisi pabrik kertas Saehan (diubah namanya menjadi Chonju pada 1968) dan mendirikan koran Joong-Ang keduanya kini tak terafiliasi dengan Samsung.
Menjelang akhir dekade 1960-an, Lee menapak ke bisnis elektronik dengan mendirikan Samsung Electronic Manufacturing. Bisnis ini menjadi pondasi bagi gurita Samsung memasuki dekade 1970-an, yang merupakan awal era industrialnya.
Pada dekade inilah Samsung meletakkan dasar-dasar strategis untuk pertumbuhannya di kemudian hari dengan berinvestasi di industri berat, kimia dan petrokimia. Kelak, imperium bisnis global yang dibangun Lee menghasilkan laba bersih US$9,4 miliar per tahun dengan total aset US$233 miliar dan 230.000 pegawai di berbagai pelosok bumi (Desember 2005).
Ada satu kata kunci yang dapat menjelaskan bagaimana Samsung bisa sukses mengikuti filosofi warisan Lee Byung-chul. Presiden dan CEO Samsung Electronics Dr. Hwang Chang-gyu menggambarkan betapa inovasi merupakan nyawa pemberi hidup daya saing perusahaannya. Ketika satu tujuan tercapai, itu berarti awal menetapkan tujuan baru.
Kaum nomad
Dalam hal inovasi, Hwang mengibaratkan orang-orang Samsung hidup seperti kaum nomad. Mereka terus mengembara mencari temuan-temuan baru. Mereka mengubah fokus bisnis ketika teknologi dan standar berevolusi. Mereka berhijrah ketika perusahaan lain puas dalam kemapanan. Itu artinya, manusia-manusia Samsung ditempa untuk selalu siap memerhitungkan dan menghadapi risiko. "Orang-orang bicara tentang manajemen risiko, tapi saya kira mengambil risiko justru lebih penting," kata Hwang.
Samsung memertontonkan buktinya, ketika pasar semikonduktor dunia loyo pada 2003. Kala itu, Samsung malah menggelontorkan modal segar US$2 miliar untuk pabrik baru perancang memory chip komputer, telepon selular dan game consoles. Hasilnya, kini Samsung bahkan menjadi nomor satu di atas Intel untuk tiga produk memori utama, yakni DRAM, SRAM dan NAND Flash.
Sekali lagi, apa yang diwariskan Lee Byung-chul pada anak-cucunya bukanlah semata-mata gurita bisnis dengan modal yang super mapan. Pun bukan semata bisnis untuk kepentingan bisnis itu sendiri.
Lee telah berhasil menanamkan filosofi bisnis korporat sebagai bentuk pengabdian: "Kami akan mengabdikan sumberdaya dan teknologi kami untuk menciptakan produk dan jasa unggul, sehingga berkontribusi pada perbaikan masyarakat global."
Setiap manusia Samsung dituntut untuk memegang teguh keyakinan bahwa sukses kontribusi mereka pada masyarakat dan bagi kemakmuran bersama manusia, yang melintasi batas-batas kebangsaan, bergantung pada bagaimana mereka mengelola perusahaan. Tentu saja, rumusan misi atau mission statement seperti itu tak akan berarti apa-apa bila tidak menjelma menjadi kultur korporat. Dan, itulah warisan sejati Lee Byung-chul.