Bisnis Indonesia Online » Kolom
Kolom - Detail
Jumat, 09/05/2008 12:28 WIB
Keputusan baik vs hasil baik
oleh : Budi Frensidy
Staf pengajar FEUI dan penulis buku
Mana yang lebih penting, keputusan baik (good decision) atau hasil baik (good result)? Yang awam akan bilang keduanya sama. Buat mereka, keputusan baik dan hasil baik seperti dua sisi dari sebuah koin. Sebuah keputusan akan dikatakan baik jika hasilnya baik dan dikatakan jelek jika hasilnya jelek, persis seperti komentar Tantowi Yahya sebagai host kuis di televisi Deal or no deal pada akhir acara.
Sejatinya, keduanya tidak sama. Sebuah keputusan adalah baik jika informasi, hitungan, dan kriteria yang ada saat pengambilan keputusan menyimpulkan keputusan itu yang terbaik.
Keputusan baik mestinya tidak dinilai dari hasilnya karena keputusan dibuat di depan sementara hasil umumnya diketahui di belakang dan antara kedua waktu itu ada ketidakpastian.
Tidak selalu keputusan baik membuahkan hasil baik dan keputusan jelek mendatangkan hasil jelek. Jika nasib sedang sial, keputusan baik bisa saja memberikan hasil jelek sementara keputusan jelek dapat juga membuahkan hasil baik, jika sedang beruntung.
Idealnya, keputusan yang kita ambil dan hasilnya baik semua. Kembali ke pertanyaan mana yang lebih penting, banyak orang mengatakan hasil baik jauh lebih penting karena kinerja, bonus, dan promosi seringnya didasarkan atas hasil dan bukan proses. Manajemen juga mengajarkan kita hal yang sama bahwa, "Results count, not words."
Alasan yang masuk akal tetapi yang bijak berpendapat lain. Bahwa kita sebaiknya lebih memusatkan perhatian pada keputusan baik karena hasil baik sering berada di luar kendali alias uncontrollable. Untuk mudahnya, saya akan menggunakan contoh nyata di sekitar kita.
Keputusan baik
Misalkan Anda seorang yang sangat rasional, tidak risk averse, dan mendasarkan semua keputusan keuangan pada expected value (EV) sesuai dengan ilmu statistik dan investasi yang telah Anda pelajari.
Anda baru saja membeli sebuah mobil secara tunai dan sedang mempertimbangkan membeli asuransi total loss only (TLO). Premi asuransi yang ditawarkan perusahaan asuransi adalah 1,2% per tahun. Untuk itu, Anda mencari tahu probabilita mobil hilang di kota Anda dalam setahun dari kantor kepolisian setempat dan mendapatkan kalau angkanya adalah 0,1% (1 dari 1.000 mobil).
Membandingkan premi asuransi sebesar 1,2% dengan probabilita yang hanya 0,1%, keputusan baik untuk orang yang risk netral atau risk taker adalah tidak mengasuransikan mobil, karena premi asuransi sungguh kemahalan. Jika ternyata mobil Anda tidak hilang, Anda mendapatkan hasil yang baik (keputusan baik berbuah hasil baik).
Sebaliknya, jika Anda memutuskan tidak membeli asuransi tetapi mobil Anda ternyata hilang, hasil yang Anda dapat adalah jelek (keputusan baik dengan hasil jelek).
Keputusan jelek
Bagaimana jika Anda seorang risk averse yang umumnya tidak menggunakan kriteria expected value tetapi expected utility (EU) untuk pengambilan keputusan keuangan? Membayar premi sebesar 1,2% dari uang pertanggungan mobil akan menurunkan sedikit kesejahteraan Anda, katakan 100 util (satuan utility).
Tetapi jika mobil tidak diasuransikan dan terjadi kehilangan mobil, pengurangan utility yang Anda alami menjadi sangat besar, katakan 150.000 util. Jika mobil tidak hilang, tentunya tidak ada sedikit pun pengurangan kesejahteraan.
Menggunakan kriteria ini, kita akan membandingkan EU dari membeli asuransi dengan EU dari tidak membeli asuransi yaitu -100 util dengan -150 util (99,9%*0 + 0,1%*(-150.000). Berdasarkan hitungan ini, keputusan baik adalah membeli asuransi mobil karena mengakibatkan penurunan kesejahteraan yang lebih ringan, hanya -100 util.
Jika sebagai risk averter, Anda memutuskan tidak mengasuransikan mobil, Anda membuat keputusan jelek. Jika kemudian mobil Anda tidak hilang, keputusan jelek Anda memang membuahkan hasil yang baik (keputusan jelek tetapi berbuah hasil baik).
Namun, jika yang terjadi sebaliknya, mobil Anda hilang, maka hasil dari keputusan jelek Anda adalah juga jelek. Perhatikan kalau keputusan yang sama, tidak mengasuransikan mobil, dapat menjadi keputusan baik atau keputusan jelek, tergantung kriteria yang digunakan.
Deal or no deal
Mau contoh lain lagi? Anda mungkin pernah menonton kuis Deal or no deal. Misalkan Andi, kawan Anda, telah membuka 23 tas dan kini tersisa 3 tas terakhir. Ketiga tas itu katakan bernilai Rp75 juta, Rp100 juta, dan Rp2 miliar. Salah satu dari nilai itu akan menjadi milik Andi.
Bankir yang menjadi lawan Andi dalam permainan ini menawarkan uang, katakan Rp500 juta untuk Andi berhenti bermain. Jika Andi memutuskan setuju (deal), dia akan membawa pulang Rp500 juta itu dan melepaskan kemungkinan mendapatkan Rp2 miliar.
Menggunakan kriteria EV, keputusan baik untuk Andi adalah tidak setuju (no deal) karena EV permainan adalah Rp725 juta (1/3 * Rp2,175 miliar).
Jika dia mengambil opsi deal pada tawaran Rp500 juta dan setelah disimulasikan, ternyata dia mendapatkan Rp2 miliar jika meneruskan permainan, Andi telah membuat keputusan jelek dan mendapatkan hasil jelek (mestinya memperoleh Rp2 miliar dan bukan Rp500 juta). Jika setelah disimulasikan, hadiah yang didapat hanya Rp100 juta, keputusan jelek Andi telah memberikannya hasil baik (beruntung telah menerima tawaran Rp500 juta).
Jika Andi menolak tawaran Rp500 juta dan maju terus dengan mengambil opsi no deal, dia sebenarnya telah membuat keputusan baik. Kalau pada akhirnya dia dapat membawa pulang hadiah Rp2 miliar, hasil yang dia peroleh adalah baik. Jika hadiah yang didapat hanya Rp75 juta atau Rp100 juta, hasil dari keputusan baiknya ternyata jelek.
Jika Andi menggunakan kriteria EU dan bukan EV, keputusan baik dan jelek dapat saja berubah. Ngomong-ngomong, dalam pengambilan keputusan keuangan dan investasi, Anda menggunakan kriteria expected value atau expected utility?
bisnis.com
Kolom »
Belajar sukses dari matematika Sederhana
Anthony Dio Martin
Managing Director HR Excellency
Tryvertising
Amalia E. Maulana
Brand Consultant & Head of School, Marketing, Binus Business School
Mengalahkan belenggu diri
Ary Ginanjar Agustian
Pendiri dan Pemimpin ESQ Leadership Center
Lain Amerika, lain Indonesia
Budi Frensidy
Staf pengajar FEUI dan penulis buku
Sudah maksimal, likuid pula
Eko Endarto
Perencana Keuangan Biro Perencanaan Keuangan Safir Senduk dan Rekan
Partai nano nano
Djony Edward
Wartawan Jaringan Berita Bisnis Indonesia