Bisnis Indonesia Online » Kolom
Kolom - Detail
Jumat, 09/05/2008 12:30 WIB
Gaya Fernandes menerbangkan 'bangkai'
oleh : Ary Ginanjar Agustian
Pendiri dan Pemimpin ESQ Leadership Center
Sering, untuk membela sebuah keyakinan, seorang visioner harus menanggung dua beban sekaligus. Selain upaya mewujudkannya memang tidak mudah sehingga membutuhkan energi dan pengorbanan ekstra, keyakinan itu kerap mendahului zamannya. Alhasil, hambatan bisa bertambah dari orang-orang di sekeliling, yang bukan sekadar tidak percaya, tetapi malah menghalangi upayanya.
Begitulah yang dialami Tony Fernandes ketika ngotot membeli 'bangkai' maskapai penerbangan milik pemerintah Malaysia, AirAsia, pada akhir 2001. Semua orang tahu saat itu industri penerbangan dunia 'tiarap' gara-gara serangan teroris yang meruntuhkan menara kembar World Trade Center, New York, pada 11 September 2001.
Hanya empat hari setelah tragedi itu, Continental mengumumkan pembabatan 12.000 pegawai. Satu per satu, maskapai penerbangan Amerika lainnya menyusul. United Airlines dan American Airlines masing-masing merumahkan 20.000 pegawai; Northwest Airlines 10.000 pegawai dan US Airways 11.000 pegawai.
Gelombang kelesuan itu menjalar ke berbagai belahan bumi. Canada 3000 (maskapai terbesar kedua di Kanada), Ansett Australia dan Swissair berhenti beroperasi. Pada 7 November tahun itu juga, maskapai penerbangan Belgia, Sabena, yang mempekerjakan 12.000 orang, mengakhiri 78 tahun sejarahnya karena bangkrut. British Airways mem-PHK 7.000 pegawai.
Tony, yang jelas-jelas bukan 'orang penerbangan', muncul dalam cuaca sedemikian ekstrem bagi industri yang dimasukinya itu, dan dengan penuh keyakinan mempertaruhkan harta dan kemapanan karier. Dia menggadaikan rumah, menjual seluruh sahamnya di Warner Music dan melepas jabatan Vice President Warner Music untuk Asia Pasifik demi membela AirAsia.
Anak perusahaan DRB-Hicom (milik pemerintah Malaysia) yang terlilit utang US$ 11 juta itu dia beli sebagai pijakan untuk mengusung visi pelopor regional low-cost-carrier, atau penerbangan berbiaya murah.
Lahir pada 1964 di Kuala Lumpur, Malaysia, Fernandes belajar di sekolah asrama Epsom College, London, pada 1977-1983. Lulus sarjana dari London School of Economics pada 1987, dia sempat bekerja sebentar di Virgin Atlantic, lalu di Virgin Record milik Richard Branson pada 1987-1989.
Gitaris amatir
Pulang ke Malaysia, dia menjadi direktur termuda Warner Music Sdn. Bhd. Meskipun bidang akademisnya akuntansi, Tony adalah juga gitaris amatir, keahlian yang membawanya ke bisnis musik. Saat meninggalkan posisi menterengnya di Warner Music, usianya baru 37 tahun.
Maka, saat dua pesawat Boeing 737-300 milik AirAsia mulai mengangkasa lagi pada Januari 2002, banyak orang tersenyum sinis. Tony diramalkan hanya butuh waktu tiga bulan untuk segera bangun dari mimpi 'sinting'-nya. Namun, Tony membuktikan keyakinan, kekuatan visi, dan kerja keras bisa mengalahkan ramalan skeptis itu.
Dalam waktu tujuh bulan AirAsia membukukan pendapatan Rp282,5 miliar, laba Rp48,5 miliar, 1,1 juta penumpang, neraca stabil, dan tentu saja utangnya terbayar lunas!
Tony tidak hanya memiliki keyakinan kuat. Ketajaman indra bisnisnya mampu menembus iklim suram yang melingkupi bisnis penerbangan dan menemukan potensi di baliknya. Kelesuan yang oleh banyak orang dipandang sebagai hambatan, dibaca Tony sebagai peluang.
Dia melihat banyaknya maskapai yang memberhentikan pegawai berarti tersedia banyak staf berpengalaman untuk direkrut, tentu dengan harga murah. Potensi lain yang dilihatnya adalah rata-rata harga sewa pesawat saat itu turun 40%.
Dalam lingkup lokal, Tony melihat potensi pertumbuhan jumlah penumpang pesawat, walau secara global ada hawa yang membuat orang takut terbang. Hanya 6% warga Malaysia yang bisa bepergian dengan pesawat, dan di mata Tony, itu fakta yang sangat kuat untuk mendorong optimisme membangun bisnis penerbangan. Harga murah, kata Tony, bisa mengesampingkan rasa takut mati warga Malaysia yang masih memandang bepergian dengan pesawat sebagai kemewahan.
Keadaan itu, menurut Tony, berlaku pula untuk skala yang lebih luas, Asia, yang jumlah penduduknya paling banyak dibandingkan dengan kawasan mana pun di dunia. Maka, Tony menyimpulkan low-cost-carrier adalah ceruk bisnis gemuk yang belum terjamah di kawasan ini. Konsep yang juga dikenal dengan sebutan No-frills carrier itu telah sukses di AS(Southwest Airlines) dan Eropa (easyJet dan RyanAir).
Tony pun mulai berburu ilmu dan modal. Dia berkenalan dengan Conor McCarthy, Chief Operating Officer pertama RyanAir, yang kemudian masuk barisan investor AirAsia bersama pengusaha lokal Malaysia, Datuk Pahamin Rajab, Datuk Kamarudin Meranun dan Aziz Bakar.
Mereka menemui Dr. Mahathir Mohammad, Perdana Menteri Malaysia kala itu, dengan membawa proposal bisnis penerbangan berbiaya rendah.
Sambutan Mahatir positif, hanya saja pemerintah tidak mengeluarkan lisensi baru, sehingga akuisisi AirAsia menjadi pilihan. Urusan modal dan izin selesai, sederet hambatan menghadang.
Pertama, tentu saja, regulasi dari pemerintah di kawasan, yang terikat kesepakatan bilateral menyangkut siapa boleh terbang ke mana dan kapan. Itu artinya, Tony harus melobi otoritas penerbangan di kawasan ini.
Di dalam negeri, Tony perlu waktu tiga tahun adu argumentasi dan lobi yang melelahkan. Selain otoritas penerbangan, dia juga menghadapi perlawanan flag carrier Malaysia Airlines (MAS) yang merasa terancam. Saat Tony melobi pembukaan terminal khusus low cost carrier, MAS menentang habis-habisan.
Tony akhirnya berhasil meyakinkan dan terbukti bahwa AirAsia menggali ceruk bisnis baru yang menguntungkan semua pihak. Terminal khusus itu akhirnya dibuka dan mulai beroperasi di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) pada 23 Maret 2006.
Awal tahun ini, AirAsia yang telah melebarkan sayap dengan tiga anak perusahaan (Thai AirAsia, Indonesia AirAsia dan Vina AirAsia) mengumumkan kuartal ke-24 berturut-turut dengan pembukuan laba. Pendapatan 12 bulan penuh pada 2007 mencapai US$592 juta, dengan pertumbuhan sekitar 50%.
bisnis.com
Kolom »
Belajar sukses dari matematika Sederhana
Anthony Dio Martin
Managing Director HR Excellency
Tryvertising
Amalia E. Maulana
Brand Consultant & Head of School, Marketing, Binus Business School
Mengalahkan belenggu diri
Ary Ginanjar Agustian
Pendiri dan Pemimpin ESQ Leadership Center
Lain Amerika, lain Indonesia
Budi Frensidy
Staf pengajar FEUI dan penulis buku
Sudah maksimal, likuid pula
Eko Endarto
Perencana Keuangan Biro Perencanaan Keuangan Safir Senduk dan Rekan
Partai nano nano
Djony Edward
Wartawan Jaringan Berita Bisnis Indonesia
Komentar
#2 - Gaya Fernandes menerbangkan 'bangkai'
To : Bpk. Zainal Cilegon. Sebaiknya melihat sesuatu jangan dari kacamata yg kiri atau kanan saja tetapi pergunakan keduanya biar Balance gitu. Wass Wrwb.
Titik Hikmat S. - Jakarta/Indonesia @ 16/05/2008 - 10:07 WIB dari 118.136.89.190 (190.89.136.118.fast.net.id)
#1 - Gaya Fernandez menerbangkan 'bangkai'
Bila p'AryG bukan Pimpinan ESQ-LC, maka analisanya adalah benar dan menjadi tauladan yang baik, tapi bila dilihat dari persepsi saya yg pernah training ESQ menjadi lain, dimana judul tulisan ini menjadi " Fernandez terbang diatas 'penderitaan & bangkai ' manusia lain ". Hal ini bisa ditunjukkan dari 1) Iklan ticket yang murah (mis. Rp 49.000 aktual yg harus dibayar Rp250.000.... tdk sesuai Nilai Dasar ESQ -JUJUR-) 2) Persyaratan penerbangan yang menyudutkan konsumen dan sepihak,(juga tdk sesuai Nilai Dasar ESQ - Tanggung Jawab, Kerjasama, Adil) Nih Contohnya : 1) NoLate for Check In tapi kalau penerbangan terlambat . . . konsumen tanggung resiko ! 2) Pay first and norefund,. . kalaupun ada refund nunggunya berminggu/bulan (detik.com, - Suara Pembaca) Hemat saya kasus Fernandez ini tidak cocok dengan ESQ apalagi dijadikan sebagai icon ESQ dan disampaikan pada training. Kalau kasus air Aqua dan fenomena sang pilot Garuda Kapten Abdul Razak ...1000000% OK Pak Ary, nyadar dong ach, ...(baca tuh diweb detik.com pd menu Suara Pembaca) Fernandez itu pinter IQ, bukan EQ apalagi SQ, dia itu bukan Visioner tapi Ambisius Wassalam, Alumni ESQ Cilegon
Zainal - Cilegon @ 12/05/2008 - 12:22 WIB dari 202.152.230.2 (202.152.230.2)