Bisnis Indonesia Online » Kolom




Kolom - Detail

Senin, 12/05/2008 15:33 WIB

Djony Edward

Psikologi krisis

oleh : Djony Edward
Wartawan Bisnis Indonesia

Indonesia hari ini mencerminkan wajah krisis. Setelah 10 tahun lamanya membenahi krisis, kini tiba-tiba harus menghadapi krisis lagi. Krisis 10 tahun lalu lebih disebabkan oleh gejolak di pasar uang, krisis kali ini merupakan gabungan krisis energi, krisis properti AS dan krisis keuangan itu sendiri.

Saat kita berhadapan dengan krisis, yang terbayangkan adalah kesulitan, dan yang terekspresikan adalah kecemasan. Wajar dan manusiawi. Apa bedanya kecemasan dan ketakutan? Kecemasan terbentuk sebagai reaksi terhadap bayangan atau perkiraan apa yang akan terjadi. Bisa jadi merupakan perkiraan konsekuensi terhadap peristiwa saat ini.

Ketakutan adalah reaksi terhadap sesuatu yang riil. Jika seorang investor mendengar pasar bumpy atau ada keputusan yang merugikan, mereka segera melakukan take profit atau paling tidak cut lost, itulah ketakutan. Jika seorang investor membatalkan investasinya setelah mendengar dan mendapat paparan prediksi suatu negara, katakanlah Indonesia saat ini, itulah kecemasan.

Dalam krisis terbayang sebuah kecemasan. Ahli sejarah mengatakan krisis sebagai turning point in history/life, suatu titik balik dalam kehidupan. Dampaknya memberikan pengaruh yang hebat. Bisa negatif, bisa pula positif. Tergantung reaksi yang ditunjukkan oleh individu, kelompok masyarakat atau suatu bangsa. Ahli strategi menyatakan sebagai zero hour, tidak ada waktu untuk berdiam diri, harus segera melakukan tindakan tertentu. Ada desakan waktu, sehingga penundaan suatu tindakan akan membawa konsekuensi negatif.

Menurut definisi psikologi, krisis adalah perubahan tiba-tiba yang dihadapi individu. Situasi ini menuntut adjustment dan acap menciptakan stress. Dalam menghadapi krisis terdapat dua kemungkinan: seseorang dapat mengatasi situasi krisis dengan baik, akan 'lebih kuat' dalam menghadapi krisis berikutnya, sebaliknya seseorang yang tidak dapat mengatasi dengan baik akan lebih rentan dalam menghadapi krisis berikutnya. Jadi bagaimana keadaan kita setelah melewati krisis 1998? Lebih kuat ataukah justru lebih rentan dalam menghadapi krisis pada saat ini? (Himawan Wijanarko, The Jakarta Consulting Group).

Kecemasan kolektif

Yang menghkhawatirkan adalah, jika rasa takut dan kecemasan itu meliputi hampir seluruh komponen bangsa, ada semacam kecemasan kolektif, sungguh sangat berbahaya. Kecemasan kolektif ini dapat melahirkan apa yang dinamakan pesimisme kolektif, seolah tak ada jalan lain kecuali...

Krisis yang melanda dunia, yang ditandai dengan melonjaknya harga minyak dunia dengan menembus level psikologis kedua, US$120 per barel (saat artikel ini ditulis telah menembus level US$126 per barel), telah membuat pusing tujuh keliling para pemimpin dunia, tanpa kecuali pemerintahan SBY-JK.

Apa pasal? Lantaran daya tahan APBN-P 2008 menurut Menko Perekonomian, yang per 17 Mei menjadi Gubernur BI, Boediono, daya dukungnya hanya sanggup jika harga minyak berada pada kisaran US$90 hingga US$95 per barel. Kini harga minyak sudah US$30 hingga US$35 lebih tinggi dari kapasitas APBN-P 2008, padahal setiap dolar kenaikan harga minyak akan bedampak pada tambahan subsidi sebesar Rp3,5 triliun. Alhasil, diperlukan tambahan kocek APBN sedikitnya Rp122,5 triliun. Tapi kalau harga minyak dunia terus merangkak naik menembus level US$200 per barel, itu sudah runyam urusannya.

Ada hitung-hitungan ekonometrik yang menyebutkan bahwa daya dukung APBN-P 2008 sebenarnya jika kenaikan minyak bisa ditoleransi maksimum US$140 per barel. Itu artinya terpaut US$15 tiap barelnya. Sementara itu, kecenderungan harga minya dunia terus merangkak naik, seiring naiknya ekspektasi raja-raja minyak dari Timur Tengah.

Padahal dampak kenaikan harga minyak, tak hanya merepotkan pemerintah Indonesia, tapi juga pemerintah negara-negara Asia lainnya, bahkan Eropa dan terutama Amerika. Kalau sudah begini kejadiannya, bisa jadi kenaikan harga minyak yang dalam bingkai kapitalisme ini, memicu perang dunia ke-III menyusul tidak terimanya Amerika dan Eropa atas keuntungan yang dinikmati raja-raja Timur Tengah.

Karena itu, kecemasan kolektif tak hanya melanda Indonesia, tapi juga warga dunia, tentu dengan pengecualian para emir tersebut. Mungkin saja para emir itu memiliki motif sekadar mengejar profit, mungkin juga memberi pelajaran kepada kaum kapitalis bahwa kapitalisme murni telah memakan korban, yakni warga dunia. Boleh jadi ini adalah bagian dari perang ideologi dengan amunisi adalah kapitalisme itu sendiri.

Lepas dari apapun motif yang sesungguhnya, pergerakan harga minyak, semakin membengkaknya kredit macet sektor properti, serta melonjaknya kartu kredit yang tak tertagih, telah menyebabkan kecemasan kolektif warga dunia. Hal itu dipicu oleh tidak adanya solusi yang bisa diambil, kecuali dengan menciptakan huru-hara perang, memfitnah Iran sebagai teroris sehingga bisa dijadikan sasaran tembak berikutnya dari kaum kapitalis internasional.

Mahasiswa bergolak

Yang agak mengkhawatirkan, mahasiswa di Tanah Air sudah turun ke jalan dan bahkan tak segan-segan melakukan tindak anarkis. Kemarahan mahasiswa kali ini selain teknik pengumuman rencana kenaikan harga BBM sebulan sebelum kenaikan itu sendiri. Artinya, para spekulan memiliki waktu sebulan suntuk untuk memainkan dan mengatrol harga-harga sembako, menimbun energi, dan berusaha memancing di air keruh.

Sementara itu, DPR sendiri tengah bersiap-siap menggelar hak angket kenaikan BBM. Praktis, siapapun pemerintahnya saat ini, pastinya pusing tujuh keliling dibuatnya.

Sebagai pemerintah, kenaikan harga BBM memang cara yang paling gampang dan instan, kendati masih banyak alternatif yang sebenarnya bisa dilakukan. Paling tidak menanamkan mental krisis bagi anggota Kabinet Indonesia Bersatu, pejabat di DPR, Gubernur dan seterusnya.

Perasaan sense of crisis itu harus dibangun, paling tidak dengan mengurangi kenikmatan fasilitas yang dinikmati pejabat selama ini, belum lagi mengajak mereka berkorban seperti dengan memotong gaji.

Sementara dari sisi migas, masih banyak langkah yang bisa ditempuh selain menaikkan harga BBM. Wajar kalau kemudian mahasiswa marah kepada pemerintah SBY-JK yang telah dua kali mengatrol harga minyak dunia. Kenaikan yang ketiga kalinya, boleh jadi akan menghasilkan kemarahan kolektif, kalau sudah begini kejadiannya, ucapan manis apapun sudah terasa hambar, bahkan pahit.

Ya Allah, keluarkan hamba-hambamu ini dari krisis ini. Jangan Engkau bebani kami dengan beban yang kami tak sanggup memikulnya... (djony.edward@bisnis.co.id)

bisnis.com

 

Kolom »

  • Cara Hulk kendalikan emosi

    Anthony Dio Martin
    Managing Director HR Excellency

  • Budaya organisasi pendukung ekonomi kreatif

    A. B. Susanto
    Managing Partner The Jakarta Consulting Group

  • Menjelajah alam dalam diri

    Ary Ginanjar Agustian
    Pendiri dan Pemimpin ESQ Leadership Center

  • Rasio utang yang optimal

    Budi Frensidy
    Staf pengajar FEUI dan penulis buku

Komentar

#1 - salah kamar....

masalah PSIKOLOGI KRISIS atau MINYAK?

fatman - jakarta/indonesia @ 14/05/2008 - 14:07 WIB dari 202.147.242.12 (202.147.242.12)

Beri Komentar