Bisnis Indonesia Online » Kolom
Kolom - Detail
Selasa, 13/05/2008 10:50 WIB
Trauma kenaikan BBM
oleh : Kemal Syamsuddin
Direktur Eksekutif National Institute
Harga minyak dunia semakin tidak terkendali. Lonjakan harga minyak, yang sempat menembus level US$124 per barel pada Jumat pekan lalu, diperkirakan masih akan terus naik.
Kondisi ini menempatkan pemerintah pada posisi yang semakin sulit. Pemerintah mau tidak mau harus menempuh kebijakan yang sangat tidak populer yaitu kembali akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) untuk sektor transportasi maupun kebutuhan rumah tangga.
Keputusan untuk menaikkan harga BBM tersebut jelas akan berpengaruh secara fundamental terhadap seluruh sendi-sendi perekonomian nasional. Yang sudah pasti terjadi dan memang telah terjadi, kendati harga BBM belum benar-benar naik, harga barang-barang kebutuhan pokok masyarakat telah lebih dulu mengalami kenaikan secara sporadis dan variatif.
Kenaikan harga bahan kebutuhan pokok ini tidak terhindarkan karena adanya pengaruh ekspektasi negatif yang sangat kuat dan masalah psikologis. Masyarakat masih belum dapat menghilangkan efek traumatis dari kebijakan pemerintah pada 2005 yang menaikkan harga BBM hingga rata-rata lebih dari 100%.
Dan efek traumatis itu masih melekat hingga saat ini, karenanya keputusan menaikkan harga BBM tahun ini akan semakin mempertebal trauma masyarakat. Magnitude dampak kenaikan harga BBM terhadap kesejahteraan masyarakat kali ini akan sangat besar. Terlebih saat ini ketahanan daya beli masyarakat, terutama masyarakat lapis bawah, sudah semakin lemah.
Masyarakat miskin yang memang secara struktural telah tidak berdaya, semakin menjadi tidak berdaya akibat kenaikan harga BBM tersebut. Karena itu, berapapun prosentase kenaikan harga BBM yang akan diputuskan pemerintah, jelas akan menjadi pukulan yang sangat keras dan berat bagi masyarakat.
Pemerintah memang sulit untuk menentukan prosentase kenaikan harga BBM yang pas. Karena harga minyak di pasar global yang sempat menyentuh level US$124 per barel tadi adalah harga untuk kontrak pembelian dengan penyerahan bulan Juli yang akan datang. Sedangkan prediksi permintaan minyak dunia setelah bulan Juli juga masih akan tetap tinggi.
Karena permintaan minyak dari China masih akan terus tinggi sebagai persiapan pelaksanaan Olimpiade pada September. Nah harga kontrak minyak untuk penyerahan pada September akan dapat diketahui pada Juli.
Karena itu pemerintah harus memperhitungkan kemungkinan terjadinya kenaikan harga minyak pada Juli untuk penyerahan September. Karena bagaimanapun terbentuknya harga minyak pada Juli akan mempengaruhi pas atau tidak pasnya persentase kenaikan harga BBM yang akan segera diputuskan pemerintah.
Masalahnya, selama ini para ekonom teknokrat hanya memperhitungkan prosentase kenaikan harga BBM maupun dampaknya, dari sisi moneter dan fiskalnya saja. Seharusnya, bersamaan dengan keputusan untuk menaikkan harga BBM itu, pemerintah juga memutuskan dan melaksanakan kebijakan audit energi nasional, termasuk di dalamnya adalah efisiensi struktural di sektor energi. Audit energi dan efisiensi struktural selama ini tidak pernah dipikirkan apalagi dijalankan oleh pemerintah.
Seharusnya saat ini pemerintah kembali menghitung, misalnya, satu liter high speed diesel atau marine fuel oil dapat menghasilkan berapa kilowat untuk masing-masing pembangkit listrik. Dari perhitungan ini akan dapat diketahui tingkat efisiensi masing-masing pembangkit listrik, dan kemudian dapat ditentukan tindakan korektifnya. Audit energi semacam ini seharusnya dapat dilakukan secara rutin dari tahun ke tahun.
Tetapi langkah kebijakan mendasar tersebut tidak pernah dijalankan pemerintah. Yang terjadi selama ini pemerintah lebih senang melakukan kebijakan fiskal yang bersifat window dressing atau cosmetic development berupa tambal sulam anggaran. Kebijakan yang hanya memberikan polesan tipis di permukaan itu jelas tidak akan mampu menyentuh masalah mendasar dari seluruh sistem perekonomian nasional.
bisnis.com
Kolom »
Wisata yacht
Hilda Sabri Sulistyo
Wartawan Bisnis Indonesia
Cermati siklus hidup finansial
Mike R. Sutikno
Mike Rini & Associates- Financial Counselling & Education
Harmoni jiwa dan alam
Ary Ginanjar Agustian
Pendiri dan Pemimpin ESQ Leadership Center Penemu ESQ Model
Strategi menjadi nomor satu
Goenawan Loekito
Marketing Director PT Oracle Indonesia
Mimpi bunga kartu kredit turun
Budi Frensidy
Staf Pengajar FEUI dan penulis buku
'Lampu kuning' buat Partai Kuning
Djony Edward
Wartawan Jaringan Berita Bisnis Indonesia
Komentar
#3 - Koreksi harga
Saya ingin mengkoreksi harga minyak sudah mencapai U$ 125 dollar per barel. (koreksi) Penurunan mata uang Rupiah sudah mencapai ratusan persen terhadap banyak mata uang di dunia (koreksi) Penyandaran mata uang Rupiah bisa meniru sistem Fiji dengan Australia, atau sistem Singapura yang sengaja menurunkan mata uangnya, karena adanya transaksi valas besar-besaran pangeran Jeffry di Pasar uang Singapura.(yang menyebabkan kerugian mencapai lebih dari 20 milyar dollar). Semua yang disampaikan penulis adalah kisah nyata yang seharusnya bisa ditiru Indonesia dalam waktu singkat. Reschedule seluruh hutang luar negeri harus menjadi prioritas tahun per tahun dan dilihat kembali, karena adanya sistem ini membatasi pengurangan cadangan devisa dollar ataupun mata uang yang banyak dipergunakan Bank Indonesia. Sehingga kemungkinan jumlah uang Rupiah beredar akan ditarik dari pasaran dalam negeri sendiri. Saya meyakini inilah solusi Indonesia tidak terjebak dalam skenario terus-terusan membandingkan harga minyak dalam negeri dengan luar negeri. Selain itu pembatasan jumlah mobil dalam 1 rumah atau dimiliki oleh 1 orang juga harus mulai diterapkan, alternatif penggunaan bahan bakar lain seperti LPG sudah harus mulai diterapkan saat ini juga. Belum adanya pengalakkan pemerintah dalam pengangkutan SEMBAKO menggunakan kereta api di pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan, merupakan salah satu penyebab kenaikannya harga-harga bahan SEMBAKO di tanah air pasca kenaikan harga BBM. Begitu banyaknya dana yang dimiliki pemerintah untuk melakukan subsidi BBM sebaiknya dialihkan untuk membangun infrastruktur jangka panjang seperti jalan kereta antar kota (mengurangi penggunaan mobil), jalan dan terowongan bawah laut kereta antar pulau. Saya meyakini solusi-solusi jangka pendek ini mulai bisa mengatasi banyak masalah.
Bt.Willie - Sydney/Australia @ 14/05/2008 - 21:12 WIB dari 202.7.166.173 (syd-pow-pr10.tpgi.com.au)
#2 - Perbandingan harga dengan negara tertentu
Saya tidak mengkritisi pemerintah SBY-JK, ini adalah data perbandingan harga BBM terutama adalah harga Bensin Ethanol 10% (Bebas Timbal)- dimana harga di pasaran Australia sudah mencapai 1.45 dollar di pasaran umum. Ini artinya adalah harga bensin mencapai kurang lebih Rp.12,000 dibandingkan dengan harga di Indonesia yang hanya dibandrol Rp.4,500. Memang sulit membandingkan apel dengan apel, apalagi Pendapatan perkapita Indonesia sangatlah jauh dibandingkan dengan Australia. Tapi saya hanya berharap harus ada solusi damai yang menguntungkan semua pihak,jangan rakyat dibodoh-bodohi diberikan uang bantuan hanya Rp.100,000. Sebaiknya pemerintah berani menyewakan pulau-pulau tidak berpenghuni dalam jangka waktu 75 tahun kepada negara investor (bukan negara kolonialis atau penjajah ataupun negara yang suka perang). Sandarkan mata uang Rupiah kepada negara tersebut. Karena terus terang Indonesia mengalami penurunan daya beli karena mata uang Asing yang begitu kuat dibandingkan Rupiah. Siapa yang sanggup mengejar kenaikan ratusan persen yang sudah dialami Indonesia. Lalu berlakukan pula fasilitas-fasilitas pajak khusus, di pulau-pulau tidak berpenghuni, haruskan negara-negara ini memberikan tambahan cadangan devisa dalam jumlah besar untuk memperkuat Rupiah... Patok mata uang Rupiah setelah itu dan batasi keluar masuk Rupiah dari Indonesia. Inilah jalan keluar Siapapun yang memimpin Indonesia pasti menaikkan BBM dengan harga minyak yang sudah mencapai 5 dollar per barel. Negara ini bila tidak menaikkan, pasti APBN terancam jebol atau alias bangkrut atau terancam kelangkaan BBM di dalam negeri. Semua pihak harus memahami keadaan ini, jangan cuma banyak bicara tapi tidak ada solusi Indonesia mempunyai pulau yang begitu banyak tetapi didiamkan saja dan tidak berpenghuni, suatu saat pasti habis terkena abrasi, belum lagi digali dan diambil pasirnya untuk diekspor keluar negeri.
Bt.Willie - Sydney/Australia @ 14/05/2008 - 20:58 WIB dari 202.7.166.173 (syd-pow-pr10.tpgi.com.au)
#1 - Cerah!
kata para analis asing, ekonomi Indonesia pasca kenaikan BBM: ibarat tikus tanah perut kenyang di lumbung padi penuh sesak... artinya: tentram, aman, damai, sentosa, adem ayem, produktif, lancar, sempurna, indah, bersih, dkk ... he3... orang2an sih
apatisabis - bogor @ 14/05/2008 - 13:15 WIB dari 118.136.18.248 (248.18.136.118.fast.net.id)