Bisnis Indonesia Online » Kolom
Kolom - Detail
Jumat, 16/05/2008 14:11 WIB
Berhemat atau meningkatkan penghasilan?
oleh : Mike R. Sutikno
Mike Rini & Associates- Financial Counselling & Education
Kunjungan ke dokter gigi selalu membuat saya takut. Begitulah di suatu pagi saya duduk dengan canggung dan keringat dingin persis seperti pertama kali wawancara kerja. Apalagi ditambah lagi suara mesin bor gigi membuat saya makin ngilu.
Majalah yang dari tadi saya bolak-balik terjatuh begitu nama saya dipanggil. Keadaan lebih memalukan lagi di dalam kamar praktik dokter gigi. Jangankan bersuara, membuka mulut nyaris tak bisa saya lakukan tanpa gemetaran. 'Ya..sudah selesai' jadi kalimat yang paling membahagiakan yang saya dengar hari itu.
Dengan harga-harga yang makin melambung, kita pun mau tidak mau harus berhadapan dengan sesuatu yang menakutkan yang boleh saja kita sebut 'kesulitan hidup'. Mulai dari harga BBM yang akan naik 10% - 30% dan tentunya sembilan bahan kebutuhan pokok rumah tangga. Kabarnya, ibu-ibu bingung sebab uang belanja yang biasanya cukup untuk satu hari, kini habis sampai makan siang saja.
Tenang, lonjakan harga adalah kejadian yang berulang, seperti sakit gigi. Anda hanya harus mengatasi rasa takut ke dokter gigi. Artinya, Anda sedikit frustasi tetapi jangan sampai patah semangat sebab ada semacam berkah tersembunyi. Kondisi ini paling tidak membuat perilaku konsumsi menjadi lebih rasional.
Berhemat
Mau tidak mau lonjakan harga yang tidak diimbangi dengan naiknya pendapatan, membuat kita harus melakukan penyesuaian gaya hidup menjadi lebih rasional. Terpangkasnya pengeluaran membuat kita berpikir ulang setiap kali membeli barang. Kita melakukan penghematan, antara lain:
• Mengendalikan hasrat atau keinginan. Bedakan antara keinginan dan kebutuhan. Berbelanjalah berdasarkan kebutuhan dan perhitungkan mana kebutuhan pokok dan mana kebutuhan yang masih bisa disesuaikan dengan anggarannya. Jangan jadikan gengsi sebagai prioritas dalam berbelanja. Keterbatasan anggaran membuat perbaikan perilaku belanja semakin penting. Mungkin tidak ada anggaran lagi untuk membeli pakaian, sepatu, atau aksesori bermerek, juga gonta-ganti handphone hanya sekadar menjaga gengsi. Terapkanlah kiat merawat barang yang sudah kita miliki agar bisa tampil rapi dan hemat biaya.
• Kurangi frekuensi bepergian ke pusat perbelanjaan. Buatlah daftar kebutuhan terlebih dahulu, dan berbelanja barang yang hanya terdapat dalam daftar belanja. Mungkin tidak perlu selalu mengajak si kecil ikut berbelanja, usahakan agar langsung menuju rak atau counter yang sudah direncanakan.
• Cobalah lebih memerhatikan berbagai cara menghindari sakit agar bisa menghindari mahalnya biaya kesehatan, misalnya menghindari stres, karena banyak penyakit yang terpicu oleh gangguan psikis. Terapkan pola makan sehat, juga lakukan olahraga secara rutin untuk meningkatkan kebugaran tubuh tanpa bantuan suplemen.
• Lakukan strategi meminimalkan beban rekening listrik, telepon, dan air. Misalnya, gunakan alat listrik berdaya rendah dan hematlah penggunaannya. Terapkan juga cara penghematan telpon biasa dan pulsa HP. Irit juga dalam penggunaan air, jadwalkan penggunaan pompa listrik, gunakan air 1 - 2 ember untuk cuci mobil, karena selang air membuat air bersih banyak terbuang.
• Rekreasi perlu, tetapi tidak harus mahal. Cobalah menggali hakikat rekreasi dari hal-hal yang sederhana. Misalnya, melakukan kegiatan bersama keluarga di rumah. Intinya, pemangkasan biaya rekreasi tidak harus mengurangi makna rekreasi itu sendiri.
Masih banyak sekali ide penghematan dalam rangka menyiasati kenaikan harga saat penghasilan belum bertambah. Dengan sedikit kreativitas dan kerja sama seluruh anggota keluarga maka penghematan bisa membantu Anda menyeleseaikan masalah ini dalam jangka pendek, sambil secara pelan-pelan dalam jangka panjang Anda melakukan usaha-usaha menambah penghasilan.
Ya..betul, penghematan saja tidak cukup jika tidak diikuti peningkatan penghasilan. Sebab kenaikan harga-harga akan terus terjadi tahun depan, akibatnya pengeluaran kembali naik. Jika tidak diikuti dengan kenaikan penghasilan, jangankan berinvestasi, untuk kebutuhan harian pun pas-pasan.
Multikarier
Dalam ketidakpastian ekonomi memiliki beberapa sumber pendapatan adalah cara yang realistis agar keluarga dapat meningkatkan penghasilannya. Kalau begitu, mengapa hanya menekuni satu bidang pekerjaan? Mengapa tidak menjalankan beberapa profesi bersamaan?
Secara finansial Anda tetap aman karena tidak perlu meninggalkan pekerjaan utama, sambil mempelajari sesuatu yang baru. Lagipula memiliki multikarier memberikan Anda keseimbangan agar tidak kelelahan atau kehilangan minat terhadap pekerjaan utama.
Orang yang memiliki multikarier berarti memiliki dan menjalankan beberapa jenis pekerjaan sekaligus. Mereka ingin menjajal kemampuan di bidang lainnya tanpa harus mengorbankan pekerjaan formalnya saat ini.
Misalnya, seseorang pada jam kerja biasa bekerja sebagai seorang karyawan di bagian akunting, kemudian seminggu tiga kali pada sore hari dia menjadi pelatih fitnes di sebuah pusat kebugaran. Pada akhir pekan dia berjualan batik di berbagai bazar.
Faktanya, di dunia korporasi para pekerja tidak memberikan 100% waktu mereka, melainkan memberikan komitmen 80% dari waktu kerja mereka dan melihat-lihat kalau ada peluang melakukan hal lain.
Golongan orang di luar kelas pekerja pun, umumnya menerapkan waktu kerja secara fleksibel. Jadi konsep bekerja paruh waktu walau belum sepenuhnya diterima tetapi makin banyak diminati. Yang patut diingat, menjalankan multikarier adalah proses berkembang tanpa kehilangan keamanan dari pekerjaan atau kehilangan kepercayaan diri atas keahlian Anda. Selamat mencoba.
bisnis.com
Kolom »
Belajar sukses dari matematika Sederhana
Anthony Dio Martin
Managing Director HR Excellency
Tryvertising
Amalia E. Maulana
Brand Consultant & Head of School, Marketing, Binus Business School
Mengalahkan belenggu diri
Ary Ginanjar Agustian
Pendiri dan Pemimpin ESQ Leadership Center
Lain Amerika, lain Indonesia
Budi Frensidy
Staf pengajar FEUI dan penulis buku
Sudah maksimal, likuid pula
Eko Endarto
Perencana Keuangan Biro Perencanaan Keuangan Safir Senduk dan Rekan
Partai nano nano
Djony Edward
Wartawan Jaringan Berita Bisnis Indonesia