Kemal Syamsudin

Waspadai Government Loose

Senin, 09/06/2008 14:54:28 WIBOleh: Kemal Syamsudin
Harga minyak terus melambung semakin tak tertahankan. Pada perdagangan di bursa New York akhir pekan lalu harga minyak jenis light sweet ditutup pada posisi US$138 per barrel. Ini merupakan indikasi harga untuk penyerahan Agustus-September 2008.

Dengan demikian maka perkiraan Morgan Stanley bahwa harga minyak akan terus menanjak hingga menembus level US$150 per barrel merupakan suatu keniscayaan yang sangat masuk akal.

Harga minyak US$150 per barrel itu kemungkinan akan tercapai pada pekan pertama pertama bulan Agustus yang akan datang. Atau bahkan bisa lebih cepat bila terjadi kejutan yang mengguncang pasar. Sebab pada bulan Agustus akan terjadi penutupan kontrak perdagangan untuk penyerahan musim dingin, dengan demikian sudah dapat dipastikan akan terjadi peningkatan permintaan yang mendorong naiknya harga.

Terdapat beberapa faktor yang mendasari perkiraan itu. Pertama, kondisi perekonomian domestik, terutama di Amerika Serikat. Seperti diketahui, perekonomian negari Paman Sam ini masih belum pulih dari resesi. Bahkan pengumuman dari Departemen Tenaga Kerja AS yang baru dirilis pekan lalu menyebutkan angka pengangguran pada bulan Mei telah mencapai 861.000 orang.

Angka pengangguran terbuka ini merupakan rekor tertinggi yang terjadi sejak 1986 silam.

Tingginya angka pengangguran di AS menunjukkan bahwa aktivitas bisnis di negara tersebut masih belum mampu lepas dari kondisi resesi. Investasi baru masih tetap sangat lamban, sehingga menyebabkan lambatnya pertumbuhan ekonomi yang berujung pada kontraksi penyerapan tenaga kerja.

Kedua, adalah krisis politik di Timur Tengah berkaitan dengan rencana serbuan besar-besaran Israel ke Jalur Gaza, serta masih belum adanya kepastian penyelesaian konflik Nuklir di Iran. Krisis politik ini dikhawatirkan mengganggu stabilitas kawasan Timur Tengah yang notabene merupakan kawasan penghasil minyak terbesar di dunia.

Ketiga, masalah internal pasar minyak dunia. Di sisi suplai terjadi kontraksi pasokan minyak dari negara-negara penghasil minyak Non OPEC, khususnya pasokan yang berasal dari Syria.

Kapasitas produksi minyak di Syria merosot drastis hingga 800.000 barrel per hari sejak pertengahan bulan lalu. Sementara itu, pada saat yang sama dari sisi permintaan terjadi peningkatan yang cukup signifikan, terutama permintaan yang datang dari China untuk memenuhi kebutuhan energi untuk persiapan penyelenggaraan olimpiade bulan September.

Desakan kebutuhan pasokan energi itu mendorong China melakukan pembelian minyak langsung ke negara-negara penghasil minyak di Timur Tengah.

Paduan tiga faktor tersebut secara bersama-sama terus mendorong kenaikan harga minyak. Namun demikian, dengan atau tanpa ada konflik politik di Timur Tengah pun, harga minyak akan tetap terus melonjak karena adanya permintaan yang tinggi di tengah isu kelangkaan energi dan pemanasan global.

Lantas bagaimana Indonesia menyikapi serta menghadapi kondisi tersebut. Dengan harga minyak US$130 per barrel saja sudah sangat sulit bagi pemerintah untuk mengatasi dampaknya. Bila kondisi perekonomian dan struktur keuangan negara masih tetap seperti saat ini, maka dapat dipastikan bila harga minyak terus meroket hingga menembus level US$150 per barrel kondisi perekonomian akan menjurus kearah collaps.

Kekhawatiran ini sangat wajar mengingat pemerintah tidak memiliki ruang lagi untuk melakukan penyesuaian struktural terhadap keuangan negara. Bila tidak ada langkah antisipatif yang mendasar sifatnya, maka pemerintah akan berada pada kondisi government loose.

Masalahnya, sampai kapan pemerintah dapat menahan agar government loose tersebut tidak sampai menjadi kenyataan?

Komentar

Kolom

Hak Cipta © 2007 - 2009 - PT Jurnalindo Aksara Grafika