Bisnis Indonesia Online » Kolom




Kolom - Detail

Jumat, 27/06/2008 13:56 WIB

Anthony Dio Martin

Jadilah pelega, bukan beban

oleh : Anthony Dio Martin
Managing Director HR Excellency

Do not think that love, in order to be genuine, has to be extraordinary. What we need is to love without getting tired. (Mother Teresa)

Saat sedang memberikan training kepada para eksekutif bank nasional terkemuka tentang pemimpin yang peduli dengan pengembangan timnya, saya menceritakan sebuah kisah menarik. Lewat kisah ini, saya mau mengundang mereka memahami arti pemimpin sebagai pelega dan bukan beban bagi timnya.

Kisah ini berawal dengan sosok Johny, seorang penderita down syndrome (cacat bawaan) yang bekerja sebagai pembungkus kantong di supermarket. Suatu hari, perusahaan mengirim semua karyawannya untuk mengikuti training tentang customer service. Dalam training tersebut, Johny terkesiap saat diberitahu bahwa apa pun posisinya, orang bisa belajar untuk meringankan beban pelanggan.

Usai pelatihan, Johny terdorong melakukan sesuatu yang mengesankan bagi pelanggan supermarket di mana dia bekerja. Namun, dia begitu bingung apa yang bisa dilakukannya. Lagi pula, dia hanyalah seorang pembungkus belanjaan di supermarket. Namun, setelah berpikir sekian lama, Johny akhirnya mendapat ide. Dia sendiri suka membaca dan mengumpulkan kata-kata mutiara. Itulah yang memberinya ide untuk memberikannya pula kepada para pelanggan supermarket yang belanjaannya dibungkus.

Akhirnya, dia pun mengetik dan memotong kertas-kertas kecil berisi kata-kata mutiara yang disukainya. Lantas, kalimat-kalimat pendek itu diberikannya kepada setiap pembelanja. Ternyata dia mendapat sambutan yang dramatis. Bahkan, lama kelamaan orang pun rela antre di tempat di mana Johny menjadi pembungkus belanjaan, meski di konter yang lain lebih kosong.

Hal ini membuat manajer toko kagum. Bahkan, lebih dari itu, setiap kali ada sisa-sisa bunga dari bagian penjualan bunga, diberikan kepada Johny sehingga Johny bisa menyematkan bunga tersebut kepada orang yang berbelanja di sana. Bagitulah, seorang Johny yang hanya seorang pembungkus kantong belanja, ternyata memberikan dampak yang luar biasa bagi tokonya. Hal ini dilakukan karena Johny berpikir bagaimana dia bisa menjadi pelega bagi orang di sekelilingnya.

Semangat Johny yang berusaha menjadi pelega bukannya beban seharusnya menjadi teladan yang luar biasa bagi kita. Meskipun posisinya kurang terpandang, Johny berusaha memberikan kelegaan kepada pelanggannya.

2 Jenis manusia

Di sekitar kita, kita melihat dua jenis manusia ini. Manusia yang menjadi pelega, saat orang ini hadir di sekitar kita. Atau, ada satu jenis yang lain yang menjadi beban saat orang ini berada di sekitar kita.

Sungguh nikmat berada di sekitar orang yang menjadi pelega. Ibarat air yang menyejukkan dan permen yang melegakan tenggorokan, mereka membuat hidup kita lebih menyenangkan. Seperti kisah tadi, mereka yang bermental pelega justru berusaha bertanya setiap hari, "Apakah yang bisa saya lakukan saat ini, pada situasi sekarang yang bisa meringankan beban orang ataupun membuat keadaan menjadi lebih baik?"

Saya pun teringat dengan kisah seorang wanita tua di Inggris penghuni kastil yang setiap kali menyapu kastil tersebut hingga bersih total. Wanita itu ditanya bagaimana dia bisa bersemangat melakukannya. Bahkan tidak merasa bosan. Padahal kastil itu begitu luasnya. Si wanita tua itu berkata, "Saya tidak ingin menjadi beban. Harga surga pun tidak murah. Inilah ongkos yang saya bayar untuk orang yang telah memberi saya makan dan biaya yang saya bayar untuk masuk surga". Sungguh menarik sekali filosofinya.

Kenyataan menunjukkan banyak orang yang meskipun sudah dalam posisi yang tinggi, ataupun hidupnya berkelimpahan, justru sering menjadi beban bagi orang lain. Atasan yang menjadi beban bagi bawahannya. Majikan yang menjadi beban bagi pembantunya, ataupun orang-orang berduit yang justru mempersulit dan memeras orang-orang yang lebih kecil. Kenyataan ini menunjukkan bahwa di mana pun dan apa pun kita, bahkan sudah di puncak piramida kehidupan sekali pun, orang masih saja bisa menjadi beban, bukannya pelega.

Pelajaran dari Johny dan si wanita penyapu kastil mengajarkan kepada kita untuk selalu berkomitmen menjadi pelega dan bukannya beban bagi orang lain. Bicara soal beban atau pelega adalah bicara soal kesadaran dan pilihan hidup kita setiap hari. Seandainya saja pada setiap saat, di mana pun kita berada kita selalu bertanya, "Apa yang bisa saya bantu dalam situasi ini", mungkin akan membuat hidup kita begitu menyenangkan bagi orang lain.

Percayalah orang-orang seperti inilah yang sungguh dicintai dan ditunggu-tunggu kehadirannya. Tak mengherankan jika Bunda Teresa pernah mengatakan, "Kebaikan hati kita adalah mukjizat yang luar biasa. Bahkan seorang buta bisa melihatnya dan seorang tuli bisa mendengarnya."

Semoga tulisan saya hari ini mengingatkan kita untuk mau menjadi pelega bagi orang lain bukannya beban.

bisnis.com

 

Kolom »

  • Sempalan budaya di perusahaan

    A. B. Susanto
    Managing Partner The Jakarta Consulting Group

  • Position power vs personal power

    Anthony Dio Martin
    Managing Director HR Excellency

  • Marketing goes politics

    Hermawan Kartajaya
    Chairman, MarkPlus Inc.

  • Tanggung jawab spiritual dan sukses bisnis

    A. M. Lilik Agung
    Mitra Pengelola High Leap Consulting, praktisi bisnis

Komentar

Beri Komentar