Bisnis Indonesia Online » Kolom




Kolom - Detail

Jumat, 04/07/2008 13:30 WIB

A. B. Susanto

Budaya organisasi pendukung ekonomi kreatif

oleh : A. B. Susanto
Managing Partner The Jakarta Consulting Group

Industri kreatif Indonesia sangat prospektif. Anak-anak muda menangguk penghasilan yang besar dalam industri ini, yang dapat membuat iri para seniornya yang bergerak di luar industri kreatif yang harus menekuni profesinya selama bertahun-tahun sebelum sampai kepada posisi berpenghasilan mapan.

Mereka menangguk miliaran rupiah dari karya-karya mereka dari lagu, desain, film, dan bidang-bidang sejenis. Bandingkan dengan profesi "tradisional" seperti di sektor manufaktur, untuk menjadi seorang manajer seseorang harus menunggu bertahun-tahun sejak entry level. Namun, acap pula kesuksesan yang diperoleh itu tidak berlangsung lama. Cepat memperoleh kesuksesan, cepat pula pudar.

Demikian pula dalam lingkup organisasi, banyak perusahaan yang kesuksesannya tidak berumur panjang. Bagaimana agar dapat mempertahankan keunggulan kompetitifnya? Salah satu yang terpenting adalah membangun budaya perusahaan yang sesuai.

Ekonomi kreatif ini mencakup bidang-bidang seperti industri musik dan pertunjukan, periklanan, arsitektur, kerajinan, berbagai jenis desain, software komputer, serta program-program acara di televisi dan radio. Namun, di samping bidang-bidang di atas yang lebih banyak berhubungan dengan seni serta berorientasi pada estetika, Howkins misalnya, memasukkan pula bidang-bidang sains, sebagai bagian dari industri kreatif.

Perusahaan yang bergerak dalam industri kreatif perlu didukung oleh budaya organisasi yang sesuai, di mana kreativitas dan inovasi menjadi sumber kehidupannya. Berarti identik dengan keberanian mengambil risiko, sehingga organisasi harus memberi keleluasaan lebih bagi anggotanya untuk bereksperimen dan mengembangkan cara-cara baru.

Konsekuensinya, perusahaan menoleransi kesalahan-kesalahan dalam batas tertentu. Bukankah kesalahan merupakan bagian dari proses pembelajaran agar menjadi lebih unggul pada masa depan? Perusahaan haruslah mengapresiasi setiap upaya untuk menghasilkan kreasi-kreasi baru yang dapat meningkatkan keunggulan kompetitif.

Keleluasaan yang diberikan bagi para anggota organisasi memang berpotensi menimbulkan konflik, karena alur pemikiran setiap anggota organisasi berbeda-beda. Sehingga sebuah perusahaan yang bergerak dalam industri kreatif haruslah memiliki toleransi yang tinggi terhadap konflik dengan mendorong anggota organisasi agar bersedia untuk selalu mengembangkan sikap kritis.

Namun, tentu saja harus dijaga agar situasi yang mempunyai potensi konflik tinggi ini tidak menjadi destruktif. Kita sering mendengar perusahaan yang bergerak di industri ini dirundung konflik yang mengganggu eksistensinya. Manajemen konflik perlu mendapat perhatian khusus.

Salah satu sumber kekuatan yang diperlukan adalah kemampuan anggota organisasi untuk mengatasi konflik dan menegosiasikan solusi. Dalam situasi semacam ini, menurut Schein, perlu diciptakan sebuah struktur organisasi yang mampu memaksa setiap orang menegosiasikan solusi terhadap setiap masalah. Solusi apa pun yang ditawarkan dalam memecahkan suatu masalah harus mempertimbangkan kepentingan orang lain.

Karyawan diberdayakan agar dapat memecahkan masalah yang dihadapi para pelanggan tanpa perlu panduan, kebijakan, dan otoritas yang berlebihan. Kebanyakan karyawan memiliki kebutuhan yang kuat akan otonomi dan peluang untuk pencapaian prestasi individual. Apalagi struktur organisasi dalam industri kreatif ini banyak yang diatur berdasarkan spesialis teknis, disiplin khusus, ataupun teknologi yang khas/unik. Orang yang bekerja dalam industri ini memiliki latar belakang dan disiplin yang sangat beragam.

Para pekerja kreatif dalam industri ini biasanya merasa bangga akan kreativitas, bakat, dan keterampilan individual yang mereka miliki, sehingga mereka akan bekerja dengan sepenuh hati dan dedikasi. Para seniman atau para perancang software misalnya, bersedia bekerja melebihi batas jam kerja normal. Bagi mereka kepuasan akan diperoleh manakala hasil kreasi mereka mampu memberikan nilai tambah dan dapat menjadi sumber inspirasi bagi orang lain.

Tugas organisasi adalah bagaimana agar mereka juga merasa bangga menjadi anggota organisasi, di samping rasa kebanggaan terhadap profesi yang ditekuninya. Seorang software engineer misalnya di samping merasa bangga akan profesi serta karya yang dihasilkan, hendaknya juga merasa bangga menjadi bagian dari perusahaan.

Kepemimpinan

Bicara tentang budaya organisasi tidak bisa dilepaskan dari kepemimpinan. Bagaimana kepemimpinan yang cocok sehingga mampu melahirkan budaya yang mendorong terciptanya kinerja yang unggul dalam sektor industri kreatif ini? Karena keberhasilannya selain ditentukan oleh kreativitas, juga bergantung pada kemampuan menyinergikan berbagai masukan yang beragam.

Dengan demikian dituntut kemampuan pemimpin untuk melakukan koordinasi, agar setiap anggota organisasi meletakkan kepentingan organisasi secara keseluruhan daripada kepentingan dan egoisme masing-masing individu dan kelompok. Oleh karenanya pemimpin harus memberi penekanan kepada pengembangan tim bekerja keras membawa perpaduan bakat serta menumbuhkembangkan kerja sama dan organisasi dan berfokus pada integrasi.

Pemimpin harus menumbuhkembangkan penghormatan bagi perbedaan individual serta harus meyakini bahwa setiap perspektif memiliki nilai khususnya pada saat diintegrasikan dengan perspektif yang berbeda. Pemimpin juga perlu mencurahkan perhatian untuk membangun komitmen, dan meleburkan identitas organisasi ke dalam diri mereka, dan perasaan memiliki yang kuat secara psikologis dalam organisasi.

Jika mereka berhasil, karyawan akan memiliki rasa kebanggaan kepada organisasi dan merasa istimewa karena merasa menjadi bagian darinya. Kepemimpinan yang otoriter dan direktif tentu tidak sesuai dengan kreativitas dan inovasi.

Bagi mereka yang bermain dalam industri kreatif, kepuasan serta kebanggaan yang diperoleh adalah pada saat mereka dapat dengan bebas menyalurkan kreativitas yang dimiliki sehingga mampu menghasilkan karya seni dan teknologi yang bernilai tinggi. Oleh karena kontrol yang ketat tidak sesuai dan justru sebaliknya harus bersifat partisipatif. Keputusan dianggap memiliki kualitas yang lebih tinggi manakala terdapat lebih banyak orang yang terlibat dan memiliki komitmen.

bisnis.com

 

Kolom »

  • Tragedi Lehman Brothers

    Ary Ginanjar Agustian
    Pendiri dan Pemimpin ESQ Leadership Center

  • Menghitung kapasitas berutang

    Budi Frensidy
    Staf pengajar FEUI dan penulis buku

  • Bencana keuangan negeri Paman Sam

    Kemal Syamsuddin
    Direktur Eksekutif National Institute

  • RUU Pornografi masih bermasalah

    Herni Sri Nurbayanti
    Peneliti pada Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia

Komentar

#3 - gimana sih

Udah laah... kita jangan mau dininabobokan dengan ucapan-ucapan yang bersifat pujian seperti itu. Nenek moyang kita hebat bisa bangun borobudur, pelaut hebat, wilayah kita secara geografis terletak di antara dua samudra & dua benua... dan segala macem. So what gitchu loch?! Jangan sampai hal-hal semacam itu memanjakan kreativitas kita. OK?!

Temasek Group - Singapore @ 10/07/2008 - 09:08 WIB dari 67.159.45.52 (.)

#2 - Kreatifitas; Our competitive advantage

Saya setuju dengan Pak Susanto, bahwa kita perlu bangga dengan hasil kreatifitas kita. Prof Donald Emerson pernah bilang, bahwa asset Indonesia yang luar biasa sesungguhnya bukan minyak dan gas, tetapi "its creative and resilient people", manusia Indonesia yang kreatif dan tangguh-tanggon. Sepatutnya modal ini diapresiasi dan diimplementasikan dalam sektor teknologi, produksi, leadership & management. Kalau pada abad ke 8 nenek moyang kita bisa bikin civil&architectural masterpiece seperti Borobudur, maka sekarang tentu bisa juga. Why not. Ini salah satu competitive advantage kita.

Agus Djamil - Brunei @ 10/07/2008 - 07:48 WIB dari 202.160.15.178 (www.bnpc.com.bn)

#1 - Pengaruh Pimpinan

Betul kata Pak A.B. Susanto, persis dengan kenyataan2 yg saya amati, umur kelestarian perusahaan memang terkait erat dengan budaya perusahaan, perusahaan yg pimpinannya gaya "OK Boss" biasanya yg bertahan di sekililingnya adalah penjilat2 shg nggak peduli persh. di bawa mana asal nggak di marahi Boss,....Perusahaan yg pimpinannya nggak suka di kritik yah ...akhirnya karyawannya jg sulit untuk kreatif....alhasil produk2 yg jd blackbone jg produk2 usang yg akan termakan usia.....

Go Hongjin - Solo, Indonesia @ 07/07/2008 - 18:43 WIB dari 125.163.208.63 (63.subnet125-163-208.speedy.telkom.net.id)

Beri Komentar