Bisnis Indonesia Online » Kolom
Kolom - Detail
Jumat, 04/07/2008 13:35 WIB
Cara Hulk kendalikan emosi
oleh : Anthony Dio Martin
Managing Director HR Excellency
"You will not like me when I'm angry" (Dr.Bruce Banner dalam Incredible Hulk)
Pembaca, saat ini film superhero tentang manusia hijau dengan kekuatan luar biasa yang disebut dengan Hulk, sedang diputar di bioskop-bioskop. Film yang diinspirasikan dari komik karya Stan Lee dan Jack Kirby yang beredar sejak 1962 ini, merupakan salah satu kisah soal tokoh fiksi yang sudah tidak asing lagi buat anak-anak.
Dalam film terbaru ini diceritakan soal Dr.Bruce Banner (diperankan Edward Norton) yang sedang berkelana ke Brazil untuk belajar seni bela diri jiujitsu dan yoga dalam rangka belajar mengendalikan emosinya.
Bicara soal Hulk, terdapat suatu bagian yang menarik yang bisa menjadi pembelajaran buat kita, yakni soal pengendalian emosi. Dikisahkan, sejak dirinya mengalami perubahan akibat radiasi sinar gamma, Dr.Bruce Banner akan berubah menjadi manusia raksasa hijau saat dirinya dalam kondisi emosi tinggi. Untuk mengendalikan dirinya, Dr.Bruce Banner memasang alat pendeteksi detak jantung.
Dia sadar jika detak jantungnya mencapai angka 200, dirinya akan segera berubah menjadi monster hijau yang sulit terkendali perilakunya. Itulah sebabnya, dia berusaha mengendalikan dirinya agar tidak mencapai level emosional yang kelewat tinggi, baik terlalu marah maupun terlalu bergairah (excited).
Belajar dari tokoh Hulk ini, apa yang dialami Dr.Bruce Banner bisa memberi inspirasi yang menarik bagi kita soal pengendalian emosi. Idealnya, setiap dari kita punya kesadaran mengenai level emosi kita, sama seperti yang dirasakan Dr.Bruce Banner. Lebih baik lagi andaikata kita tahu ambang batas di mana kita masih bisa bertindak rasional, dan di mana level kita mulai bertindak secara irasional.
Sebagai contoh, ada seorang manajer sales suatu produk yang datang terlambat untuk meeting. Mood-nya sedang jelek karena baru saja bicara tidak enak dengan customer yang ngeyel. Dengan kesal dia melangkah masuk ke ruang meeting yang tengah berjalan. Saat itu ada seorang manajer lain yang sedang presentasi di depan direktur.
Saat dia masuk, seorang rekannya yang sudah terkenal dengan kejahilannya, meledeknya dengan berkata "Ciee...orang penting, telat nih ye...". Semua orang di ruang pun jadi tertawa. Si manajer sales ini langsung melototkan matanya ke arah rekannya yang jahil tersebut dengan harapan rekannya akan berhenti.
Justru saat dipelototin, rekannya tersebut balas melotot dengan muka yang dibuat lucu. Si manajer sales ini pun makin merasa panas hatinya. Tangannya mulai terkepal. Tapi masih berusaha ditahannya. Beberapa menit kemudian, si rekannya itu mulai berceloteh menangggapi orang yang presentasi, "E suruh aja yang barusan datang telat, maju presentasi. Pasti deh nggak siap!".
Saat itu juga, hatinya panas dan segera dia mengambil botol air di depan meja dan dilemparkannya ke arah temannya tersebut dengan marah. Si direktur yang ternyata menyaksikan apa yang terjadi akhirnya jadi marah dan mereka berdua pun kemudian diusir keluar ruangan meeting.
Begitu pun saya pernah melihat seorang resepsionis yang suatu sore, memukul-mukul printer hingga menghancurkannya. Saat itu printer tersebut ngadat untuk kesekian kalinya. Seharian memang dirinya menghadapi banyak masalah sehingga emosinya jadi terpicu oleh printer yang macet tersebut.
Faktor situasi
Perhatikan, kedua contoh tersebut di atas memperlihatkan kepada kita bagaimana situasi ataupun orang-orang di sekitar kita bisa menjadi pemicu atas reaksi emosi yang negatif. Sebenarnya reaksi kita lebih terkendali, kalau saja tidak didahului oleh berbagai situasi yang membuat jengkel atau marah.
Celakanya, berbagai emosi itu disimpan dan bertumpuk-tumpuk, lantas akhirnya meletup karena dipicu oleh suatu kejadian atau seseorang. Akibatnya, reaksi emosi yang terjadi pun menjadi lebih sulit dikendalikan.
Itulah sebabnya, seperti kisah pada diri Hulk, sebaiknya kita belajar pula mengendalikan emosi kita sebelum mencapai ambang batas yang berada di luar kendali. Yang terpenting sebenarnya adalah memahami di manakah level emosi yang masih kita izinkan. Sekaligus juga paham, level di mana kita harus berhenti, supaya tidak menjadi tak terkendali.
Pada kenyataannya, film Hulk menunjukkan banyak situasi di mana Dr.Bruce Banner akhirnya tidak mampu mengendalikan dirinya sehingga dia pun berubah menjadi Hulk dengan emosi yang tidak terkendali.
Seperti yang sering dibahas dalam acara radio yang saya pandu, saya menekankan perlunya kita memiliki semacam 'thermometer emosi' yang bisa menjadi pengukur buat kita. Ada batas suhu normal, dan ada batas suhu yang jika terlewati akan menjadi berbahaya. Itulah suhu emosi di mana kita tidak boleh melewatinya.
Kita mesti sadar, saat kita sudah mencapai level ambang batas itu, penting bagi kita untuk menekan tombol 'stop' dan mencoba untuk mengalihkan ke situasi yang lain. Caranya adalah dengan melakukan hal-hal antisipatif seperti keluar dari ruangan, menghentikan pembicaraan, merilekskan diri sejenak, ataupun mencari aktivitas lain yang bisa mengalihkan emosi kita sejenak. Dengan berbagai langkah ini, kita selalu bisa menjaga agar emosi kita dalam rentang kendali kita.
Ingatlah selalu, dalam perjalanan karier kita, saat kita kehilangan emosional adalah saat-saat di mana kita 'kalah'. Bayangkan persepsi yang muncul tentang si manajer sales dan si sekretrais tersebut, serta cap yang diberikan kepada mereka bahwa mereka tergolong orang yang sangat emosional.
Adanya persepsi semacam ini mungkin akan merampok karier kita. Karena itulah perlu dijaga kondisi emosional kita, sehingga kita tidak perlu mengucapkan kalimat yang selalu diucapkan Dr.Bruce Bannner dalam film Hulk, "You will not like me, when I'm angry...". Yang jelas, kita sebenarnya bisa menjadi tuan atas emosi kita kok!
bisnis.com
Kolom »
Truly capitalism
Djony Edward
Wartawan Jaringan Berita Bisnis Indonesia
4R hadapi gejolak finansial
Mike R. Sutikno
Mike Rini & Associates- Financial Counselling & Education
Sempalan budaya di perusahaan
A. B. Susanto
Managing Partner The Jakarta Consulting Group
Position power vs personal power
Anthony Dio Martin
Managing Director HR Excellency
Marketing goes politics
Hermawan Kartajaya
Chairman, MarkPlus Inc.
Tanggung jawab spiritual dan sukses bisnis
A. M. Lilik Agung
Mitra Pengelola High Leap Consulting, praktisi bisnis
Komentar
#1 - Mengingatkan
Wah, lagi2 kata2 pak Anthony mengingatkan kita untuk kembali "baik".Thx.
Go Hongjin - Solo, Indonesia @ 07/07/2008 - 18:17 WIB dari 125.163.208.63 (63.subnet125-163-208.speedy.telkom.net.id)