Bisnis Indonesia Online » Kolom




Kolom - Detail

Jumat, 11/07/2008 13:04 WIB

Mike R. Sutikno

Jangan biarkan kas jeblok

oleh : Mike R. Sutikno
Mike Rini & Associates- Financial Counselling & Education

Dalam sebuah kursus menulis , seorang instruktur meminta kami untuk menulis tentang apa yang kami bisa deskripsikan sebagai My Perfect Day-sebuah hari yang sempurna.

Jadi kami tandai sebuah tanggal pada masa depan, seolah-olah hari itu pasti akan terjadi. Hampir semua peserta membayangkan diri mereka dan pasangan mereka sedang di rumah mengurusi bisnisnya masing-masing sambil menjadi guru untuk anak-anak mereka dengan metode home schooling.

Saya sendiri tidak berpendapat bahwa menjadi pengusaha lebih baik daripada menjadi karyawan sehingga menganjurkan orang utnuk berbisnis saja atau memvonis home school lebih baik daripada sekolah formal.

Keputusan apapun yang dibuat seseorang sifatnya unik, artinya dia bisa punya alasan tersendiri kenapa cenderung begini atau begitu. Yang menarik, betapa ide berbisnis sendiri dan homeschooling menjadi alternatif yang makin diminati orang. Mungkinkah mereka dianggap sebagai simbol dan refleksi dari kebebasan?

Yang pasti, Anda tidak bisa benar-benar bebas tanpa kebebasan finansial. Untuk meraihnya, tabungan dan investasi saja tidak cukup. Dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas seperti sekarang ini mengelola cash flow adalah kuncinya.

Ketika Anda dapat membeli apa saja yang anda inginkan tanpa pusing memikirkan uangnya dari mana, Anda memiliki kebebasan finansial. Bisakah hal itu kita raih dengan kondisi inflasi menembus dua digit seperti sekarang? Sementara jatah tabungan dan investasi makin berkurang terpakai untuk membeli kebutuhan pokok yang terus melambung.

Bagaimana dengan kondisi sekarang ini Anda mendeskripsikan My Perfect Day? Kebanyakan orang memilih berkompromi, sedikit orang lainnya berjuang melawan realita.

Di mana Anda menginginkan berada nanti dimulai dari apa yang dideskripsikan sebagai sebuah hari yang sempurna. Yang saya tawarkan adalah sebuah ide dan konsep, sebuah strategi mengatur arus kas dan bagaimana cara ini akan membantu Anda sampai kepada hari yang sempurna itu.

Strategi mengatur arus kas tersediri dari tiga tahapan, yaitu prioritas, pengendalian, pembayaran.

Prioritas

Sebuah cara penggunaan uang yang efisien adalah membelanjakannya dengan anggaran prioritas. Beberapa tulisan-tulisan saya sebelumya menyarankan urutan prioritas dari yang paling atas yaitu : (1) tabungan dan investasi; (2) cicilan hutang jika ada; (3) premi asuransi yang jatuh tempo; (4) dan terakhir biaya hidup.

Jumlah pembelanjaan keseluruhan tidak boleh melebihi penghasilan. Pos keempatlah yang paling sulit diatur, sebab masih dibagi lagi ke dalam berpuluh jenis pembelian barang dan jasa dengan jumlah kecil-kecil. Jadi ketika prioritas 1, 2 dan 3 sudah dialokasikan, perhatian khusus perlu kita berikan pada prioritas nomor 4, dengan melaksanakan pengendalian

Pengendalian

Pada praktiknya pelaksanaan anggaran tidak selalu berjalan mulus, tidak jarang kita menemukan halangan. Terutama saat harga-harga terus berubah dan cenderung naik seperti sekarang. Akibatnya anggran yang dialokasikan tidak lagi mencukupi kebutuhan akibat perubahan harga tersebut atau karena sebab hal lainnya.

Penghematan harus dilakukan dan kita terpaksa memangkas beberapa pengeluaran. Masalahnya tidak semua pos pengeluaran bisa di pangkas dengan mudah. Contohnya belanja dapur jangan dipangkas sembarangan jika tidak mau kurang gizi. Karena itu konsep pengendalian disini meliputi beberapa teknik pengendalian dengan mempertimbangkan konsekuensi agar tidak sembarangan melakukan penghematan.

Strategi pengendalian itu berupa:

  • Pemangkasan artinya melakukan pemotongan atau meniadakan sama sekali suatu pembelanjaan. Contohnya memangkas pengeluaran membeli baju, meniadakan biaya berlangganan TV kabel.

  • Subtitusi artinya mengganti pembelian suatu barang dengan barang lain yang fungsinya sama tetapi harganya berbeda. Contoh, jika lauk daging mahal, bisa diganti dengan lauk ayam, ikan atau telur. Contoh lain kebutuhan sandang, misalnya dapat disubtitusi dari pakaian bermerk menjadi produk garmen biasa.

  • Mengurangi frekuensi, artinya mengurangi aktivitas pembelanjaan. Contoh, sebelumnya setiap minggu nonton bioskop dan makan di restoran, sekarang dilakukan dua minggu sekali saja.

    Alat pembayaran

    Analoginya seperti Mercedez Benz yang dikendarai ala sopir metro mini. Maka alat pembayaran dapat membantu lalu lintas traksaksi Anda jika memahami kendaraannya. Jika digunakan tidak semestinya justru akan menyusahkan diri sendiri.

    Untuk membeli berbagai kebutuhan hidup biasanya kita menggunakan dana yang ada dan membayarnya dengan uang tunai. Enaknya, penggunaan uang tunai tidak menimbulkan kewajiban utang seperti alat pembayaran dengan sistem kredit.

    Utang cocok untuk kebutuhan darurat, untuk transaksi dalam jumlah yang terlalu besar jika harus dibayar tunai. Utang hanya cocok jika Anda disiplin dalam mengembalikannya. Jadi berbagai tawaran penghematan melalui kartu kredit seperti diskon belanja dan cashback pembelian bensin, harus anda cermati dengan baik.

    Program benefit seperti hanya akan memberi manfaat optimal dan benar-benar memberikan janji penghematan ketika kartu kredit dikendarai seperti uang tunai Anda sendiri. Bukan uang lebih yang jika digunakan kemudian harus dikembalikan berikut bunganya.

  • bisnis.com

     

    Kolom »

    • Sisi gelap perlu diwaspadai

      Anthony Dio Martin
      Managing Director HR Excellency

    • Manis dan pahitnya inovasi

      A. B. Susanto
      Managing Partner The Jakarta Consulting Group

    • Qualitative judgment dan ROI MarComm

      Amalia E. Maulana
      Brand Consultant & Head of School, Marketing, Binus Business School

    • Keluarkan potensi spiritual

      Ary Ginanjar Agustian
      Pendiri dan Pemimpin ESQ Leadership Center

    Komentar

    Beri Komentar