Bisnis Indonesia Online » Kolom
Kolom - Detail
Jumat, 11/07/2008 13:07 WIB
Berutang dengan bijak
oleh : Budi Frensidy
Staf pengajar FEUI dan penulis buku
Dari tulisan yang lalu, kita belajar bahwa tidak ada rasio utang yang optimal untuk korporasi. Rasio utang korporasi berbeda antarnegara dan juga antar industri. Di negara yang menganut sistem keuangan market-based seperti Amerika dan Inggris, rasio utang umumnya lebih rendah daripada korporasi di negara dengan sistem bank-based seperti Jepang dan Indonesia. Dalam industri yang sama, rasio utang juga bervariasi dan berhubungan terbalik dengan tingkat profitabilitas.
Ada yang kemudian bertanya, apakah konsep yang sama dapat diterapkan untuk keluarga? Jika ya, adakah rasio utang yang optimal untuk keluarga?
Sejatinya, ada banyak perbedaan antara keluarga atau pribadi dan korporasi karena keluarga bukan merupakan badan hukum sehingga akses berutangnya relatif terbatas yaitu hanya ke bank, koperasi, dan perusahaan leasing.
Tidak seperti korporasi yang dapat berutang ke publik secara langsung. Meskipun demikian, konsep yang sama dapat diterapkan untuk keluarga. Bedanya, untuk keluarga, pendekatan yang digunakan bukan berdasarkan aset melainkan berdasarkan penghasilan.
Kepada korporasi yang memohon utang, kreditor umumnya akan menanyakan jaminannya sedangkan untuk keluarga yang mengajukan kredit, bank akan meminta bukti penghasilan. Aset yang akan dibeli (rumah, apartemen, atau kendaraan bermotor) langsung menjadi jaminan.
Rasio yang digunakan untuk evaluasi permohonan kredit korporasi adalah proporsi utang (dari total aset) dan rasio utang terhadap ekuitas yaitu utang dibagi ekuitas (debt to equity). Beda antara keduanya adalah proporsi utang satuannya persen dari 0 hingga mendekati 100.
Sementara rasio utang satuannya kali dan nilainya dari 0 hingga sekitar 9. Maksudnya, jika proporsi utang 50%, rasio utang terhadap ekuitas adalah 50% : 50% atau 1. Jika proporsi utang 75%, maka rasio utang menjadi 3. Semakin tinggi proporsi atau rasio utang, semakin besar risiko korporasi default.
Times installment earned
Rasio lain yang juga populer dalam evaluasi kredit korporasi adalah times interest earned (TIE) atau rasio laba sebelum bunga dan pajak (earnings before interest and taxes) dibagi biaya bunga atau EBIT/interest.
TIE menyatakan laba operasi korporasi itu berapa kalinya bunga. Satuan TIE adalah kali dan angkanya berkisar dari 2 hingga puluhan kali. Semakin rendah rasio TIE ini, semakin besar kemungkinan gagal bayar.
Logikanya adalah, jika TIE 2 maka EBIT hanya 2 kali biaya bunganya. Dengan rasio sebesar ini, biaya bunga mengambil porsi hingga 50% atau Rp1 dari setiap Rp2 EBIT sehingga laba setelah bunga tetapi sebelum pajak (earnings before taxes) hanya tinggal 50% dari EBIT. Biaya bunga yang mencapai 50% dari EBIT ini tentunya memberatkan dibandingkan dengan beban bunga yang persentasenya hanya 10% dari EBIT yaitu yang mempunyai rasio TIE sebesar 10 (1/10%). Untuk permohonan kredit korporasi, baik proporsi utang maupun rasio TIE selalu dievaluasi.
Namun untuk keluarga, hanya rasio TIE yang digunakan bank dan perusahaan leasing ketika menilai kelayakan permohonan KPR, KPA, dan KKB. TIE yang dimaksud adalah times instalment earned dan bukan times interest earned.
Perbedaan keduanya adalah times instalment earned menggunakan penghasilan bulanan (take-home pay) sebelum dikurangi pengeluaran lainnya, dan bukan penghasilan bersih setelah dikurangi biaya-biaya seperti EBIT. Sedangkan interest menjadi angsuran bulanan yang harus dibayar.
Times instalment earned menyatakan penghasilan berapa kalinya angsuran. Rasio TIE yang tinggi mengindikasikan kecilnya risiko debitor gagal bayar. TIE sebesar 8, misalkan, berarti beban utang atau cicilan hanya 1/8 dari penghasilan.
Anda ingin tahu rasio TIE yang dinilai layak oleh bank? Rasio yang masih dianggap aman umumnya adalah sekitar 3. Artinya angsuran sebaiknya tidak lebih dari 30% atau maksimal 35% dari penghasilan seseorang (keluarga). Pemohon kredit dengan TIE di atas 4 layak memperoleh kredit dan pemohon dengan rasio jauh di bawah 2,5 dinilai berisiko tinggi.
Tergantung beberapa faktor
Berapa rasio TIE yang aman sebenarnya tergantung beberapa faktor seperti jumlah anak, beban lain di luar anak, utang lain yang masih ada, aset yang dimiliki, dan perkiraan penghasilan pada masa depan.
Untuk keluarga dengan satu anak, rasio TIE 3 mungkin masih aman, tetapi angka itu kurang tepat untuk keluarga dengan tiga anak. Demikian juga untuk keluarga yang masih harus menanggung kehidupan orang tuanya yang sudah pensiun atau saudara lainnya. Rasio TIE wajar mungkin naik menjadi 4 untuk keluarga seperti itu.
Yang juga sangat penting untuk diperhatikan adalah apakah keluarga itu juga memiliki utang lain yang belum lunas. Jika angsuran utang lama itu sudah mengambil 15% penghasilan keluarga, kemampuan mengangsur hanya tinggal sekitar 15%-20% lagi sehingga TIE wajar untuk utang baru adalah sekitar 6 agar total TIE di atas 3.
Risiko gagal bayar juga menjadi berkurang jika Anda memiliki aset lain yang cukup bernilai sehingga bank akan melihat persentase angsuran 30% dari penghasilan atau TIE sekitar 3,5 masih aman.
Akan lebih baik lagi jika Anda dinilai mempunyai karier yang bagus dengan kemungkinan kenaikan gaji yang sangat besar di kemudian hari, bank akan bersedia menyalurkan kredit walaupun persentase angsuran mencapai 40% atau rasio TIE hanya sebesar 2,5.
Tidak seperti kredit untuk barang konsumtif yang mengenakan bunga sangat tinggi dan hanya diinformasikan bunga flat-nya, suku bunga untuk KPR, KPA, dan KKB umumnya wajar.
Tidak ada jebakan bunga flat, kecuali untuk KKB. Karenanya, saya sangat menganjurkan Anda memanfaatkannya jika membutuhkannya. Pastikan rasio TIE Anda di atas 3. Tanpa kredit bank, sangat mungkin kita tak dapat memiliki aset-aset di atas. Inilah salah satu manfaat utama bank.
bisnis.com
Kolom »
Akhirnya datang juga
Hilda Sabri Sulistyo
Wartawan Bisnis Indonesia
Berebut kue sertifikasi bankir
M. Yunan Hilmi
Wartawan Bisnis Indonesia
Sisi gelap perlu diwaspadai
Anthony Dio Martin
Managing Director HR Excellency
Manis dan pahitnya inovasi
A. B. Susanto
Managing Partner The Jakarta Consulting Group
Qualitative judgment dan ROI MarComm
Amalia E. Maulana
Brand Consultant & Head of School, Marketing, Binus Business School
Keluarkan potensi spiritual
Ary Ginanjar Agustian
Pendiri dan Pemimpin ESQ Leadership Center