Bisnis Indonesia Online » Kolom




Kolom - Detail

Jumat, 11/07/2008 13:10 WIB

Ary Ginanjar Agustian

Paradigma baru bisnis

oleh : Ary Ginanjar Agustian
Pendiri dan Pemimpin ESQ Leadership Center

Judul di atas saya tujukan kepada proyek yang sedang digarap (belum selesai, tentu saja) oleh Lars Kolind, bekas CEO Oticon, produsen alat bantu dengar terkemuka di dunia dari Denmark. Dia berusaha merumuskan paradigma baru bisnis, sebagai koreksi atas apa yang disebutnya paradigma atau model bisnis industrial saat ini.

Proyek tersebut terinspirasi dari pengalamannya membantu Oticon pada 1988-1998, yang kemudian dia tuangkan dalam buku Second Cycle: Winning the War Against Bureaucracy (Mei 2006). Buku itu kini menjadi materi wajib untuk studi kasus manajemen klasik di berbagai sekolah bisnis terkemuka di dunia.

Menurut Kolind, paradigma industrial diciptakan sekitar 100 tahun lalu untuk membantu aktivitas kerajinan berskala kecil menjadi industri berskala besar. Kebutuhan itu memang terpenuhi. Akan tetapi, katanya pula, untuk menghadapi tantangan yang benar-benar berbeda, yakni mentransformasi industri berskala besar menjadi bisnis berbasis knowledge, kini diperlukan paradigma yang lebih kuat.

Bagaimana sebetulnya deskripsi Kolind tentang paradigma industrial? Dalam model ini, katanya, tujuan bisnis adalah keuntungan dan ukurannya imbal modal, aset, penjualan atau faktor sejenis. Aset utamanya gedung, lahan, mesin, stok, piutang dan hak properti intelektual.

Bingkai legalnya perseroan terbatas yang di dalamnya investor, direktur dan pegawai menjadi kelompok yang terpisah-pisah.

Pegawai menjadi faktor produksi, yang dibeli dengan harga serendah mungkin -sebagaimana faktor-faktor produksi lain, seperti peralatan dan energi. Bentuk organisasinya hierarki fungsional; pekerjaan ditentukan dengan kombinasi fungsi (misalnya, manufaktur) dan level (misalnya, manajer menengah). Manajemen didasarkan pada kekuatan dan keterampilan profesional.

Apabila tak sependapat dengan deskripsi itu, Anda bisa menyampaikan langsung ke blog yang dia buat, Second Cycle. Untuk menggarap proyek besarnya tersebut, Kolind memang sengaja mengundang komentar dan pendapat dari siapa pun yang berminat.

Akan tetapi, ada baiknya kita simak hasil pengamatan Kolind yang mungkin tak pernah Anda bayangkan. Pada era modern ini, kian besar dan kian sukses sebuah organisasi bisnis, semakin besar pula perhatian, kreativitas dan sumberdaya dikerahkan untuk birokrasi. Menurut matematikawan kelahiran 1947 yang pernah memimpin Pusat Riset Nasional Denmark itu, kebanyakan di atas 30%.

Kolind memberikan contoh ekstrem: di salah satu perusahaan tempatnya bekerja, kurang dari 25% waktu riil seorang insinyur digunakan untuk pekerjaan yang langsung berhubungan dengan keteknikan. Selebihnya adalah untuk rapat, perencanaan, laporan, anggaran, prosedur administratif, email dan sebagainya. Dengan kata lain, di mata Kolind, birokrasi adalah titik lemah pemborosan yang melekat dalam paradigma bisnis industrial.

Meski proyek belum selesai, Kolind sebetulnya telah menawarkan seperangkat langkah alternatif dalam membangun paradigma baru. Resep itu terbukti manjur membawa Oticon dari perusahaan yang terseok-seok kehilangan separuh lebih ekuitasnya hanya dalam waktu setahun, menjadi perusahaan di garda depan.

Lima resep

Inilah lima resep Kolind. Pertama, definisikan sebuah makna yang melampaui soal keuntungan, dan dia mendefinisikannya dengan semboyan 'utamakan orang' (people first). Kedua, ciptakan kemitraan dengan staf, pemasok dan pelanggan. Untuk ini, Oticon mengajak seluruh stafnya (sekitar 1.100 orang) menjadi pemilik bersama.

Ketiga, bangun organisasi kolaboratif. Langkah terjemahannya adalah menghapuskan organisasi, departemen, jabatan, dan prosedur-prosedur formal, bahkan kantor dan kertas. Keempat, lupakan manajemen konvensional dan arahkan dengan visi dan nilai-nilai. Kelima, wujudkan itu semua melalui proses perubahan yang dirancang dengan hati-hati.

Itu semua dilakukan pada 1991, saat kebanyakan orang di dunia belum bersentuhan dengan teknologi telepon bergerak, komputer portabel, dan Internet. CNN dan sejumlah media besar lainnya sampai-sampai menyebut Oticon waktu itu perusahaan paling gila di muka bumi.

Faktanya, sejak itu, Oticon tumbuh sekitar 19% per tahun. Oticon bisa menawarkan lebih banyak produk baru daripada pesaing-pesaingnya. Oticon akhirnya berhasil memaksa pemain besar seperti 3M, Sony, Philips, AT&T, Ascom dan Beltone mundur teratur dari pasar industri ini. Pada 2005, nilai penjualannya mencapai US$600 juta.

Tampak jelas bahwa langkah Kolind berangkat dari sebuah kesadaran akan pentingnya kecerdasan spiritual. Ketika mencari makna bisnis yang tidak sekadar keuntungan, sesungguhnya dia telah melakukan inner journey untuk mengenal jati dirinya, makna hidupnya, dan tujuan hidupnya.

Ketika mengajak pegawai menjadi pemilik bersama, dia tak lagi memandang mereka faktor produksi, tapi pribadi-pribadi (khalifah) berbekal kekuatan yang terpantul dari Sifat-Sifat Mulia Tuhan (Asmaul Husna). Ketika meleburkan organisasi-departemen-jabatan-prosedur formal, Kolind tentu percaya setiap pribadi di Oticon bisa diandalkan untuk bekerja sama, dan kecerdasan kerja sama (dari sifat Al-Jaami') itulah yang mendatangkan kekuatan baru yang tak terbayangkan sebelumnya.

Ketika Kolind mengedepankan visi dan nilai-nilai, maka sesungguhnya yang muncul adalah kecerdasan visioner (dari sifat Al-Aakhir). Perencanaan perubahan yang hati-hati sesungguhnya adalah pantulan dari sifat Al-Baari' (Yang Maha Merencanakan).

Bagaimana wujud paradigma baru bisnis Kolind tampaknya masih perlu ditunggu. Akan tetapi, kata-katanya berikut ini patut direnungkan: "Bagi saya, spiritualitas adalah penerimaan akan adanya Tuhan, dan mematuhi agama yang mengekspresikan keyakinan itu."

bisnis.com

 

Kolom »

  • Sisi gelap perlu diwaspadai

    Anthony Dio Martin
    Managing Director HR Excellency

  • Manis dan pahitnya inovasi

    A. B. Susanto
    Managing Partner The Jakarta Consulting Group

  • Qualitative judgment dan ROI MarComm

    Amalia E. Maulana
    Brand Consultant & Head of School, Marketing, Binus Business School

  • Keluarkan potensi spiritual

    Ary Ginanjar Agustian
    Pendiri dan Pemimpin ESQ Leadership Center

Komentar

Beri Komentar