Bisnis Indonesia Online » Kolom




Kolom - Detail

Jumat, 18/07/2008 13:17 WIB

Budi Frensidy

Lain Amerika, lain Indonesia

oleh : Budi Frensidy
Staf pengajar FEUI dan penulis buku

Apa yang salah dengan penggunaan buku-buku teks keuangan dan investasi dari Amerika di sini? "Buku-buku itu kemahalan untuk ukuran orang Indonesia," jawab seorang mahasiswa saya. Inilah susahnya mental mahasiswa kita yang terbiasa dengan buku bajakan atau buku fotokopi-an. Repotnya, banyak dosen dan mahasiswa kita yang tidak merasa malu apalagi bersalah membawa dan menggunakannya dalam kampus.

Sewaktu studi di luar negeri, karena memperoleh beasiswa, saya rasanya tidak pernah melihat buku bajakan di sana. Jika ada mahasiswa, terutama dari Indonesia, ingin memfotokopi sebuah buku, tidak ada kios fotokopi yang bersedia melakukannya.

Kembali ke pertanyaan di awal, jawaban yang saya harapkan bukan soal harga atau daya beli kita, tetapi mengenai isi bukunya. Bahwa tidak semua materi dalam buku-buku itu cocok untuk konteks Indonesia. Maksudnya, adalah buku-buku itu menggunakan kasus dan contoh nyata yang ada di Amerika. Tidak jarang kasus dan contoh itu tidak ada atau tidak relevan untuk kondisi kita.

Saham atau obligasi

Buku teks Amerika hanya mengajarkan dua pilihan untuk perusahaan yang membutuhkan dana yaitu mengeluarkan saham atau obligasi. Tidak disebutkan alternatif berutang ke bank. Padahal hingga 1988, jumlah perusahaan di Indonesia yang tercatat di bursa hanya 24 dan yang mengeluarkan obligasi jauh lebih sedikit lagi.

Inilah salah satu materi buku teks asing yang membuat banyak mahasiswa bingung, termasuk saya, karena sangat berbeda dengan praktiknya. Anehnya lagi, buku akuntansi dan manajemen keuangan yang ditulis ahli-ahli Indonesia juga memberikan dua pilihan itu tanpa menyebutkan sedikit pun jika kedua alternatif itu hanya tersedia untuk 30 korporasi besar di Indonesia saat itu. Baru beberapa tahun kemudian saya mengetahui alasan mengapa buku teks keuangan Amerika hanya memberikan dua pilihan itu.

Pertama, karena Amerika adalah salah satu negara yang menganut sistem keuangan market-based, yaitu negara yang pembiayaan dan pendanaan perusahaan-perusahaannya sebagian besar dari pasar modal. Sementara, Indonesia hingga saat ini adalah negara dengan sistem keuangan bank-based. Masih kurang dari 500 korporasi yang mempunyai akses ke pasar modal. Sekitar 390 korporasi mengeluarkan saham dan sekitar 105 korporasi dengan menerbitkan obligasi. Perusahaan lainnya, di luar 500 korporasi di atas, belum mempunyai akses ke pasar modal.

Kedua, judul buku teks keuangan itu adalah corporate finance atau manajemen keuangan korporasi. Karena bicara tentang korporasi atau perusahaan besar, wajar saja kalau yang ditawarkan adalah pilihan saham atau obligasi. Menjadi kurang tepat kalau buku itu digunakan di negara yang sistem keuangannya bank-based seperti Indonesia karena pembiayaan dari bank lebih dominan.

Memahami dua sistem keuangan ini, kita tidak kaget ketika membaca separuh rumah tangga di AS berinvestasi langsung atau dalam reksa dana sementara di Indonesia, jumlah investor lokal di pasar modal hanya sekitar 0,2%. Tidak ada yang aneh ketika mendengar investor asing menguasai 2/3 hingga? kepemilikan saham di BEI. Juga tidak salah jika dikatakan masyarakat kita masih 'deposito-minded' karena jumlah dana yang dihimpun perbankan di Indonesia masih sangat besar. Tahun ini jumlah deposito, giro, dan tabungan itu mencapai Rp1.500 triliun lebih.

Asumsi dan produk

Dalam membaca buku keuangan dan investasi Amerika, kita juga harus hati-hati melihat asumsi yang digunakan. Contohnya, sebagian besar buku itu mengatakan seorang investor saham dikatakan sukses jika dia dapat melipatgandakan nilai investasinya dalam lima tahun. Kinerja investasi yang seperti ini ternyata hanya memerlukan return tahunan 14,9%. Untuk negara seperti Amerika dengan rata-rata inflasi tahunan 2,5%, hasil ini memang sangat bagus.

Ini mestinya tidak berlaku untuk investor Indonesia yang secara rata-rata mengalami inflasi tahunan 10%. Dengan inflasi sebesar ini, return tahunan 14,9% dari saham tidak terlalu menarik, dibandingkan dengan risikonya. Oleh karena itu, harus menunggu lima tahun untuk dapat melipatgandakan investasi di Indonesia adalah kelamaan.

Hal lain yang juga kurang relevan adalah buku-buku itu menjelaskan banyak produk keuangan dan investasi yang di sini belum ada. Maklum saja karena kita hanya punya satu bursa dengan sekitar 400 saham tercatat, sementara Amerika mempunyai beberapa bursa yang memperdagangkan hingga 7.000 saham korporasi. Jumlah reksa dana yang ditawarkan ke publik di sana pun sampai 6.000-an, belasan kali lipat dari yang ada di sini.

Contoh lainnya adalah country fund, international fund, sekuritisasi aset, efek beragun aset, unit investment trust, dan real estate investment trust (REIT). Semua produk itu dijelaskan di buku teks investasi Amerika karena ada di pasar mereka. Tetapi di sini, produk-produk itu belum ada. Selorohnya adalah, "Mana ada TRUST di Indonesia? Jika Amerika punya banyak fund manager, kita juga punya ribuan fun manager." Anda tahu kan bedanya fund dan fun?

Contoh terakhir adalah derivatif. Sejak sekitar belasan tahun lalu, sekuritas derivatif sudah diajarkan di perguruan tinggi kita. Praktiknya, pasarnya antara hidup dan mati. Semester dua tahun lalu ternyata tidak ada satu pun transaksi kontrak LQ-45, satu-satunya kontrak futures yang ditawarkan di BEI. Kontrak opsi saham juga baru tersedia untuk empat saham dan sering tidak ada transaksi setiap harinya.

Di Bursa Berjangka Jakarta, produk yang ditawarkan pun sangat sedikit dengan jumlah dan frekuensi transaksi yang juga sangat tipis. Menurut saya, kita semua berkepentingan dengan berkembangnya bursa kita dengan semua produk-produk barunya. Seperti di negara lain, pasar modal yang maju akan dapat menciptakan banyak lapangan kerja baru.

bisnis.com

 

Kolom »

  • Tragedi Lehman Brothers

    Ary Ginanjar Agustian
    Pendiri dan Pemimpin ESQ Leadership Center

  • Menghitung kapasitas berutang

    Budi Frensidy
    Staf pengajar FEUI dan penulis buku

  • Bencana keuangan negeri Paman Sam

    Kemal Syamsuddin
    Direktur Eksekutif National Institute

  • RUU Pornografi masih bermasalah

    Herni Sri Nurbayanti
    Peneliti pada Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia

Komentar

#3 - Market-based tidak selalu lebih baik

Jawaban dari saya: Sistem mana yang lebih baik? Levine dalam jurnalnya  Bank-based or market-based financial systems: which is better?  mengatakan kalau tidak ada sistem yang lebih unggul atau lebih efektif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Data empiris menunjukkan bahwa pembagian sistem keuangan dalam bank-based, market-based, tidak mampu menjelaskan proses pertumbuhan yang dialami negara-negara di dunia. Siapa yang tidak tahu rendahnya spread atau net interest margin (selisih tingkat bunga pinjaman dengan tingkat bunga tabungan) bank di Jepang dan keperkasaan Bundesbank Jerman? Dua negara itu menganut bank-based. Siapa juga yang meragukan Amerika sebagai negara adi daya dengan sistem market-based? Masalahnya di Indonesia, sistem market-based belum lama berkembang sehingga masih jauh dari optimal. Umurnya masih sangat muda sementara pasar modal Amerika sudah ada sejak 1792. Sementara itu, sistem bank-based juga masih rapuh karena rendahnya pengawasan, kepatuhan, dan kesehatan perbankan di Indonesia. Akibatnya spread relatif besar, rasio loan to deposit rendah, dan kredit macet menjadi momok perbankan nasional terutama bank-bank BUMN.

Budi Frensidy - Jakarta @ 05/08/2008 - 18:44 WIB dari 152.118.24.10 (angel.ui.edu)

#2 - Manajemen Keuangan

Betul sekali, saat saya kuliah, saya memang sempat kebingungan waktu membaca buku Manajemen Keuangan saya.....

nia - Bandung/Indonesia @ 21/07/2008 - 11:13 WIB dari 125.163.73.87 (87.subnet125-163-73.speedy.telkom.net.id)

#1 - Sistem Keuangan

Mengenai sistem keuangan Indonesia yang bank based - apakah akan terus berlanjut dalam beberapa tahun kedepan, dan sekiranya sistem keuangan Indonesia menjadi market based - apakah tidak telambar untuk belajar dari Amerika?

Gersom Nainggolan - Jakarta @ 21/07/2008 - 09:57 WIB dari 122.216.23.170 (122x216x23x170.ap122.ftth.ucom.ne.jp)

Beri Komentar