Bisnis Indonesia Online » Kolom




Kolom - Detail

Jumat, 08/08/2008 11:36 WIB

Budi Frensidy

Mimpi bunga kartu kredit turun

oleh : Budi Frensidy
Staf Pengajar FEUI dan penulis buku

Sebagai anggota masyarakat modern, kartu kredit sangat mungkin menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup Anda. Pertanyaannya adalah apakah Anda sensitif terhadap suku bunganya.

Sensitif tidaknya pemegang kartu kredit terhadap suku bunga ini ternyata bergantung pada profil risikonya. Paling tidak, itulah yang terjadi di Amerika menurut penelitian Ausubel (1991). Bank di sana sadar dan dengan sengaja telah menetapkan bunga sangat tinggi untuk kartu kreditnya, sebesar tiga hingga lima kali biaya dananya dan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar.

Lebih lanjut, Ausubel dalam artikelnya The Failure of Competition in the Credit Card Market (1991) mengatakan kalau bunga kartu kredit di Amerika itu sticky karena tidak ada persaingan antarpenerbit walaupun pasarnya-volume perdagangan dan jumlah penggunanya- begitu besar.

Di AS pada 1987 transaksi menggunakan kartu kredit mencapai US$375 miliar dengan jumlah pengguna 75 juta orang. Hampir separuh dari nilai ini yaitu US$165 miliar adalah transaksi milik dua kartu kredit utama dunia yaitu Visa dan Mastercard.

Dengan jumlah penerbit kartu kredit di Amerika mencapai 4.000 perusahaan mestinya ada persaingan ketat dalam suku bunga untuk menarik nasabah. Kenyataannya, persaingan antar penerbit tidak terjadi dalam suku bunga tetapi dalam bentuk yang lebih kreatif yaitu yang bersifat bukan harga (nonprice).

Ini persis seperti yang juga kita amati di pasar kartu kredit Indonesia saat ini. Hasil observasi saya menunjukkan bunga kartu kredit di Indonesia sejak dahulu hingga sekarang selalu tinggi yaitu sekitar 2,75%-4,5% per bulan untuk utang belanja dan 3,25%-4,75% per bulan untuk penarikan tunai.

Ini terjadi saat bunga SBI rendah ataupun tinggi dan untuk semua bank penerbit. Bank penerbit tidak bersaing untuk menurunkan suku bunga yang tinggi ini, tetapi mereka bersaing dalam memberikan fasilitas kepada nasabahnya.

Persaingan fasilitas

Contoh fasilitas itu adalah belanja diskon 10%?20% di hypermarket, tiket nonton bioskop gratis, executive lounge gratis di bandara, batas kredit yang fleksibel, pengumpulan poin belanja untuk ditukarkan dengan hadiah, dan iuran tahunan gratis. Beberapa hotel dan restoran bahkan menjanjikan diskon hingga 70% untuk pengguna kartu kredit tertentu. Ausubel dapat menjelaskan terjadinya kondisi ini dengan baik dalam artikelnya.

Dari hasil penelitiannya selama periode 1983-1988, dia mengelompokkan pengguna kartu kredit dalam tiga kelompok. Kelompok pertama adalah mereka yang menggunakan kartu kredit untuk belanja barang dan jasa, serta selalu melunasi seluruh tagihan saat jatuh tempo. Mereka adalah convenience users.

Kelompok ini tidak sensitif terhadap suku bunga karena tidak akan membawa pengaruh apa pun kepada mereka. Berhubungan dengan kelompok ini, bank relatif tidak menghadapi risiko tetapi tidak bisa memperoleh banyak keuntungan. Bank hanya mendapatkan iuran tahunan dari kelompok ini.

Kelompok kedua adalah mereka yang berisiko rendah. Awalnya mereka berniat untuk tidak berutang. Namun kenyataannya, mereka tidak jadi melakukannya karena memandang perbedaan mengangsur dan membayar sekaligus relatif tidak material, dibandingkan dengan penghasilannya. Besar bunga utang yang timbul akibat mengangsur tidak pernah memberatkannya. Kelompok ini juga tidak sensitif terhadap bunga kartu kredit karena pada dasarnya mereka tidak begitu suka berutang.

Kelompok inilah yang menjadi target semua penerbit kartu kredit karena memberikan keuntungan paling besar yaitu iuran tahunan dan bunga utang, selain merchant's fee tentunya. Bank akan melakukan semua usaha untuk nasabah dalam kelompok ini. Untuk mempertahankan mereka sekaligus menjaring nasabah baru, bank menawarkan fasilitas eksklusif dan privat kepada para nasabahnya seperti disebutkan di atas.

Kelompok ketiga adalah mereka yang berisiko tinggi yaitu mereka yang sejak awal berniat utang. Karena alternatif pinjaman dengan bunga lebih rendah sering tidak tersedia untuk kelompok ini, kartu kredit menjadi sumber pinjaman terbaik dan sering juga sebagai satu-satunya pilihan yang ada. Untuk itu, kelompok ini tidak segan untuk membandingkan bunga kartu kredit dari satu bank ke bank lain. Kelompok inilah satu-satunya kelompok yang sensitif terhadap suku bunga kartu kredit.

Utang kartu kredit dari kelompok terakhir ini sering bermasalah karena kemampuan membayar mereka sering lebih kecil dari jumlah utang kartu kreditnya. Tidak jarang bank harus menggunakan jasa debt collector untuk menekan kerugiannya berhubungan dengan kelompok ini.

Karena itu, hampir semua bank penerbit akan berusaha untuk menghindari atau meminimumkan jumlah nasabah dari kelompok ini. Untuk memastikan ini, bank tidak berani mematok bunga kartu kredit yang rendah dan berbeda jauh dari rata-rata bank lain.

bisnis.com

 

Kolom »

  • Waspadai sindrom bulan puasa

    Mike R. Sutikno
    Mike Rini & Associates- Financial Counselling & Education

  • Suara keadilan

    Ary Ginanjar Agustian
    Pendiri dan Pemimpin ESQ Leadership Center

  • Menuju perusahaan kelas dunia

    Goenawan Loekito
    Marketing Director PT Oracle Indonesia

  • Ada apa dengan hipotesis pasar efisien?

    Budi Frensidy
    Staf pengajar FEUI dan penulis buku

Komentar

Beri Komentar