Bisnis Indonesia Online » Kolom
Kolom - Detail
Jumat, 29/08/2008 12:01 WIB
Investor pun punya tingkah laku
oleh : Budi Frensidy
Staf pengajar FEUI dan penulis buku
Berawal dari anomali dan fakta empiris yang terjadi di pasar modal yang menunjukkan kegagalan paradigma hipotesa pasar efisien (EMH) dalam menjelaskan banyak fenomena keuangan, berkembanglah behavioral finance. Sedikitnya ada enam perbedaan antara EMH dan behavioral finance (BF), seperti yang diutarakan Thaler (1994) dan Jegadeesh (1995).
Pertama, EMH mengasumsikan semua agen ekonomi akan memaksimumkan expected utility (kepuasan), sedangkan BF mengasumsikan individu akan meminimumkan expected regret (penyesalan). Ini persis seperti pengakuan Markowitz, pemenang nobel ekonomi untuk teori portofolionya, yang menyatakan bahwa dia membagi portofolionya dalam saham dan obligasi sama besar (masing-masing 50%) karena ingin meminimumkan future regret.
Kedua, EMH bersifat normatif yang mencoba untuk mempredikasi apa yang belum terjadi (ex ante), sedangkan BF adalah teori positif yang berusaha untuk menggambarkan apa yang sudah terjadi (ex post).
Ketiga, EMH mengatakan manusia itu bersifat risk averse alias menghindari risiko. Sifat inilah yang menyebabkan banyak orang di seluruh dunia membeli produk asuransi dan banyak kas surplus di Indonesia tidak menyukai investasi di pasar modal dan lebih memilih deposito yang relatif tidak berisiko.
Menurut BF, investor itu sebenarnya bukan risk averse tetapi loss averse. Ini sesuai dengan teori prospeknya Daniel Kahneman (1979), psikolog pertama dan satu-satunya yang memenangkan nobel ekonomi pada 2002. Menurut Kahneman, investor itu risk averse kalau sedang mengalami untung. Tapi kalau sedang rugi, investor cenderung menjadi seorang risk taker (pengambil risiko).
Contohnya, seorang investor membeli saham pada harga Rp2.000. Beberapa hari kemudian, katakan harga sahamnya naik menjadi Rp2.200 dan seorang analis mengatakan bahwa pada minggu berikutnya, saham itu mempunyai peluang 50% untuk naik menjadi Rp2.400 dan 50% untuk turun menjadi Rp2.000 lagi. Dihadapkan pada kondisi seperti ini, sebagian besar investor akan risk averse dan memutuskan untuk menjual saham itu.
Dengan merealisasikan keuntungan sebesar Rp200 ini, investor merasa menang dan menilai keputusan pembelian saham yang dilakukannya tepat. Alasan lainnya adalah karena decreasing sensitivity, bahwa keuntungan Rp200 berikutnya (dari Rp2.200 menjadi Rp2.400) memberikan kepuasan yang lebih kecil daripada Rp200 pertama.
Sekarang misalkan keadaan sebaliknya yang terjadi bahwa harga saham itu beberapa hari setelah dibeli turun menjadi Rp1.800. Analis yang dihubungi mengatakan kalau ke depan, saham itu berpeluang sama besar untuk naik ke Rp2.000 atau turun yaitu masing-masing 50%. Dalam situasi seperti ini, hampir pasti investor akan memilih untuk tidak menjual sahamnya.
Teorema Bayesian
Merealisasikan kerugian berarti mengaku salah dan ada rasa malu, jika hal ini diketahui orang lain. Kahneman menyebut ini sebagai disposition effect. Efek dan bias ini dialami hampir seluruh investor saham individu di bursa mana pun yaitu sell the winners too soon and hold the losers too long (Shefrin dan Statman, 1985).
Keempat, EMH mengasumsikan manusia itu dapat melakukan prediksi yang tidak bias yaitu yang sesuai dengan teori Bayes (conditional probability). BF mengasumsikan sebaliknya bahwa prediksi manusia itu seringnya bias (keliru) karena tidak memahami konsep probabilita bersyarat dari Bayes. Berikut ilustrasinya.
Misalkan, ada 100 tas yang masing-masing berisi 100 koin. Dari 100 tas itu, 45 tas masing-masing berisi 70 koin hitam dan 30 koin merah. Sementara 55 tas lainnya berisi sebaliknya yaitu 30 koin hitam dan 70 koin merah. Jika sebuah tas diambil secara acak, berapa peluang tas itu berisi lebih banyak koin hitam? Jawabannya 45%.
Sekarang misalkan keadaan berikut. Sebuah tas diambil secara acak dan dari tas itu diambil 12 koin dengan pengembalian. Dari 12 koin yang terambil itu, 8 berwarna hitam dan 4 berwarna merah. Dengan informasi di atas, berapa peluang tas yang terambil itu adalah tas yang berisi lebih banyak koin hitam?
Ketika Shefrin (2002) melakukan eksperimen ini, dua jawaban yang paling banyak dia peroleh adalah 45% dan 67% yaitu sekitar 55 persen responden. Angka 45% berasal dari proporsi awal dan 67% sangat mungkin dari 8/12. Jawaban sisanya menyebar dan tertinggi adalah jawaban 75%. Tidak ada yang menjawab benar karena jawaban yang diharapkan adalah 96,04%. Ini menunjukkan bahwa prediksi manusia itu jauh dari akurat karena tidak memproses informasi terakhir dengan benar atau tidak berdasarkan teorema Bayes, sesuai dengan yang dikatakan BF.
Kelima, EMH memandang manusia sebagai pengambil keputusan yang selalu berdasarkan rational expectation. Sementara BF mengatakan pengambilan keputusan sering didasarkan pada ekspektasi yang naif atau normal. Jika EMH mengatakan investor akan mencari return yang optimal, BF mengesampingkan kemungkinan itu karena investor berusaha untuk mendapatkan return yang memuaskan. Itulah sebabnya banyak orang Indonesia cukup puas dengan bunga deposito yang relatif rendah itu.
Keenam, EMH mengasumsikan manusia adalah makhluk ekonomi yang rasional (homo economicus) atau rational economic man (REM) dengan profit sebagai motif utama. Sementara BF melihat banyak aspek lain yang juga mendasari keputusan seseorang seperti rasa bangga, bersalah, malu, takut, empati (jiwa sosial) dalam diri setiap manusia.
Contohnya, banyak orang melakukan donasi untuk bencana alam tanpa menyebutkan namanya. Ada juga yang bersusah payah menyelamatkan orang lain dari bangunan yang terbakar atau yang bersedia melakukan apa saja untuk menyaksikan keadilan ditegakkan. Asumsi REM tidak dapat menjelaskan fenomena ini.
bisnis.com
Kolom »
Optimisme, asset tersembunyi
Anthony Dio Martin
Managing Director HR Excellency
Mengungkap peluang mobile marketing
Hermawan Kartajaya
President of MarkPlus Inc.
Pemimpin di era kapitalisme kreatif
A. M. Lilik Agung
Trainer dan Pembicara Publik. Mitra Pengelola High Leap Consulting
Antisipasi risiko dengan diversifikasi
Budi Frensidy
Staf pengajar FEUI dan penulis buku
Kenali emas
Mike R. Sutikno
Mike Rini & Associates- Financial Counselling & Education
Bank Century
Djony Edward
Wartawan Jaringan Berita Bisnis Indonesia