Bisnis Indonesia Online » Kolom
Kolom - Detail
Jumat, 29/08/2008 12:02 WIB
Pelatihan suara hati
oleh : Ary Ginanjar Agustian
Pendiri dan Pemimpin ESQ Leadership Center
Pada tahun 1960-an, peneliti di Standford University Walter Mischel menguji kesabaran sekelompok murid Taman Kanak-Kanak (TK) berusia empat tahun. Mereka diminta masuk ke dalam satu ruangan dan masing-masing diberi sepotong marshmallow di atas meja di hadapan mereka.
"Kalian boleh memakan marshmallow ini jika mau, tapi kalau kalian memakannya setelah saya kembali ke sini, kalian berhak mendapatkan satu lagi."
Sekitar 14 tahun kemudian, saat mereka lulus SMA, anak-anak yang mau menunggu 20 menit untuk mendapatkan satu marshmallow lagi ternyata punya ketahanan mental lebih tinggi daripada rekan-rekannya yang langsung memakan marshmallow. Mereka cenderung lebih tahan menghadapi stres, tak mudah tersinggung dan tak mudah berkelahi.
Mereka juga meraih nilai rata-rata 210 lebih tinggi (nilai tertinggi 1.600) dalam ujian masuk perguruan tinggi. Bahkan, kelak diketahui, anak-anak yang lebih sabar itu lebih sukses dalam dunia kerja, lebih cerdas, minatnya lebih tinggi, dan lebih mampu berkonsentrasi.
Eksperimen marshmallow yang terkenal itu menjadi salah satu penopang teori tentang deferred gratification yang dipopulerkan Daniel Goleman, pakar kecerdasan emosi. Menurut Goleman, deferred gratification atau delayed gratification, yang berarti kemampuan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan, merupakan komponen penting dalam kecerdasan emosi.
Yang perlu dicermati dari eksperimen itu adalah bahwa deferred gratification bukanlah kemampuan yang given pada diri seseorang. Kemampuan itu, dan secara lebih luas kecerdasan emosi, sejatinya bisa dan harus selalu dilatih. Inilah sesungguhnya salah satu output yang diharapkan muncul dari ibadah puasa.
Puasa adalah pelatihan dahsyat yang metodenya langsung diberikan Allah SWT. Inilah bentuk pelatihan efektif untuk melatih pengendalian emosi dan membangun kecerdasan emosi (EQ).
Banyak orang Islam yang belum menyadari makna dan tujuan besar di balik puasa. Untuk memahmi makna puasa itu, harus dipahami terlebih dulu bahwa puasa adalah bagian dari kesatuan rangkaian rukun Islam yang utuh, komprehensif, tak boleh terpisah-pisah.
Ibarat pohon, akarnya adalah shayadat, tiangnya atau batangnya itu salat. Puasa adalah membersihkan hama-hama yang ada di pohon itu, dengan kekuatan fitrah yang ada di dalamnya. Dengan begitu yang keluar adalah dedaunan dan buah-buahan yang sehat, kebaikan-kebaikan nyata yang menjadi produknya. Kesemuanya itu hanya terjadi melalui suatu proses produksi atau gerak nyata yang teratur.
Rangkaian kesatuan rukun Islam itu menuju satu output berupa langkah sukses, yang dilambangkan dengan haji (total action). Nah, untuk sampai pada langkah yang berhasil itu, harus didahului dengan penetapan misi yang kuat melalui syahadat, yaitu deklarasi hidup hanya untuk mengabdi kepada Allah SWT, dan mengikuti teladan Rasulullah. Lalu, karakter pribadi dibangun melalui salat.
Selanjutnya, melalui zakat, fitrah-fitrah yang ada pada dirinya, yaitu suara hati, dikeluarkan, tidak boleh disimpan. Di sinilah puasa berperan untuk memenangkan fitrah atau suara hati, melalui pengasahan selama sebulan penuh. Yang terakhir, haji atau total action, menjadi wujud nyata dari hidup untuk mengabdi kepada Allah dengan bimbingan suara hati.
Jika seseorang memahami misi hidupnya yang sejati (core purpose) dan suara hatinya (core values), niscaya dia bersyukur bahwa puasa membebaskan dirinya dari belenggu dan menjaga fitrahnya dalam rangka memakmurkan Bumi di jalan Allah SWT.
Dengan itulah, dia menjadi pribadi yang mampu mengeluarkan seluruh potensi diri untuk meraih hasil terbaik, lebih dari standar pencapaian duniawi, melalui cara yang bijaksana dan luhur.
Dalam jargon SWOT Analysis, puasa itu sesungguhnya untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan. Puasa memilah-milah mana yang harus diperangi dan mana yang harus dipertahankan. Puasa adalah untuk memerangi hawa nafsu, yang berarti belenggu-belenggu penghambat potensi kemajuan (fitrah).
7 Budi Utama
Dalam pelatihan ESQ, sebagian potensi kemajuan atau fitrah itu diidentifikasi sebagai Tujuh Budi Utama, yaitu Jujur, Tanggungjawab, Visioner, Disiplin, Kerja sama, Adil dan Peduli. Tujuh Budi Utama inilah fitrah yang harus dimenangkan melalui puasa, sehingga muncul karakter manusia yang unggul.
Apabila kita perhatikan lebih mendalam, ritual puasa mengajarkan banyak hal. Salah satunya adalah melatih kesabaran melalui pelatihan menahan diri dari godaan-godaan fisik ataupun nonfisik. Dalam hal ini kesabaran mencakup pula deferred gratification sebagaimana contoh di atas, yang bisa diartikan sebagai pandangan jauh ke depan atau visioner.
Tak seperti ibadah-ibadah lain yang bisa dipamerkan di depan manusia, puasa adalah instrumen untuk mengasah suara hati jujur. Yang tahu seseorang melakukan puasa dengan benar atau tidak hanya dirinya dan Allah SWT.
Karena keistimewaan itu pula puasa mengajarkan suatu perjuangan mengerahkan segenap potensi diri tanpa vested-interest apa pun selain sebagai bentuk tanggung jawab kepada Sang Pemberi potensi. Puasa mengajarkan pula makna empati, merasakan penderitaan sesama manusia (peduli).
Dalam konteks apa pun, output kemampuan yang dilatih melalui puasa, seperti dicontohkan di atas, adalah kemampuan dasar yang mutlak dimiliki seorang pemimpin. Pemimpin yang berhasil memenangkan fitrah atau suara hatinya adalah pemimpin yang mampu mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan diri serta kelompok yang dipimpinnya.
Dia pemimpin yang jujur, penuh tanggung jawab, berwawasan jauh ke depan, mampu bekerja sama, adil, dan peduli pada sesama . Dalam dunia bisnis, misalnya, pemimpin seperti ini akan mampu menjalankan bisnis yang jauh lebih bermakna dari sekadar ukuran bottom-line finansial.
bisnis.com
Kolom »
Optimisme, asset tersembunyi
Anthony Dio Martin
Managing Director HR Excellency
Mengungkap peluang mobile marketing
Hermawan Kartajaya
President of MarkPlus Inc.
Pemimpin di era kapitalisme kreatif
A. M. Lilik Agung
Trainer dan Pembicara Publik. Mitra Pengelola High Leap Consulting
Antisipasi risiko dengan diversifikasi
Budi Frensidy
Staf pengajar FEUI dan penulis buku
Kenali emas
Mike R. Sutikno
Mike Rini & Associates- Financial Counselling & Education
Bank Century
Djony Edward
Wartawan Jaringan Berita Bisnis Indonesia