Bisnis Indonesia Online » Kolom




Kolom - Detail

Jumat, 29/08/2008 12:10 WIB

Mike R. Sutikno

Belanja amal raih bahagia

oleh : Mike R. Sutikno
Mike Rini & Associates- Financial Counselling & Education

Pada bulan Ramadan umumnya terjadi peningkatan kegiatan ibadah sunah di samping berpuasa yang hukumnya wajib, di luar salat tarawih yang memang hanya dilaksanakan pada bulan puasa, khataman Alquran, dan iktikaf.

Umat Islam memercayai bahwa nilai ibadah yang dilakukan pada bulan puasa akan dibalas berlipat kali dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Tidak heran pengeluaran orang meningkat pada bulan puasa, salah satunya karena pengeluaran untuk amal ini.

Nah ada banyak cara untuk beramal, tetapi yang paling umum adalah dengan menggunakan uang. Karena itu beramal dan perencanaan keuangan pada dasarnya memiliki keterkaitan yang sangat erat. Melalui beramal inilah kita dapat melihat dimensi lain dari perencanaan keuangan yang tidak hanya bersifat manusiawi tetapi juga Illahiah.

Dalam menetapkan prioritas penggunaan uang, saya menganjurkan orang untuk mengalokasikan menabung dan berinvestasi sebesar 30% dari penghasilan rutinnya, bukan hanya 10%.

Mengingat kebanyakan orang masih saja sulit menabung, persentase sebesar itu ternyata dianggap memberatkan "Bisa-bisa tidak makan!". Prioritas demikian juga sesekali mengundang protes, sebab tidak disebut-sebut pos amal, zakat, infaq dan sedekah.

Itulah mengapa 30% dari penghasilan kita adalah jumlah kuota yang diprioritaskan untuk menabung dan berinvestasi .Jika Anda harus mengambil jatah 2,5% - 10% dari penghasilan untuk tabungan akhirat, maka masih tersisa kuota sejumlah 20% - 27,5% untuk tabungan dunia.

Kini Anda bisa beramal setiap bulan dalam jumlah yang sudah dianggarkan dan diprioritaskan pembayarannya sehingga tidak perlu menunggu sisa. Dengan demikian tabungan akhirat dan dunia Anda dapat dijalankan secara disiplin baik dari rutinitasnnya maupun jumlahnya.

Tidak egois

Berbelanja amat menyenangkan, manakala kita menukar uang kita dengan hal-hal yang kita sukai. Mungkin itu bisa berupa tas baru, jam tangan, ganti mobil atau jalan-jalan ke Eropa.

Menabung dan berinvestasi juga sama menyenangkannya sebab dari waktu ke waktu kita dapat melihat akumulasi uang yang kita kumpulkan. Bahkan membeli asuransi membuat kita lebih tenang karena jika terjadi risiko keuangan ada bantuan keuangan sejumlah uang pertanggungannya. Makanya uang disebut berfungsi sebagai alat tukar, karena Anda menukar uang untuk mendapatkan hal-hal yang Anda butuhkan atau inginkan.

Bagaimana beramal dengan uang, apakah dalam beramal konsep uang sebagai nilai tukar juga diterapkan? Kalau ya, apa yang kita tukarkan dalam beramal? Ditinjau dari sisi keagamaan, orang yang beramal umumnya berharap mendapatkan pahala.

Beramal bisa jadi sebuah transaksi tetapi bukan jual beli untuk mendapatkan barang atau jasa tertentu. Karena itu fungsi uang sebagai alat tukar bisa diterapkan dalam beramal sebab kita bisa menukar uang kita untuk mendapatkan pahala.

Di sinilah fungsi beramal sering diibaratkan sebagai persiapan tabungan akhirat. Bagi orang yang percaya ada kehidupan setelah mati - maka dimana posisinya setelah meninggal adalah sesuatu hal harus direncanakan selagi hidup. Orang beramal untuk mengakumulasi pahala, semakin banyak tabungan pahalanya semakin besar kesempatannya masuk surga.

Pemahaman seperti ini rasanya terlalu egois dan dingin untuk sebuah konsep beramal. Tetapi tidakkah manusia itu mahluk yang rasional, karena itu dia cenderung memilih mana yang paling menarik baginya atau yang paling menguntungkannya, termasuk dalam beramal sekalipun.

Bisakah kita memberikan seluruh harta kita untuk beramal? Kebanyakan orang tidak mungkin melakukannya dan rasanya itu cukup bijak. Orang cenderung beramal sejumlah tertentu yang tidak memberatkan. Itulah batas keikhlasan - batas ketidakegoisan seseorang dalam jumlah beramal.

Jika Anda masih ingat bagaimana perasaan Anda tiap kali setelah beramal. Anda senang dan merasa lebih baik dengan diri Anda karena telah melakukan perbuatan baik. Coba Anda hitung berapa banyak dari pembelanjaan Anda yang salah sasaran. Anda menukar uang dengan barang-barang yang Anda inginkan gara-gara terbujuk rayuan diskon, ikut-ikutan teman, ingin pamer atau sekadar pelampiasan akan sesuatu hal. Setelah berbelanja bukannya puas malah menyesal.

Dalam beramal yang terjadi justru sebaliknya Anda menukar uang namun tidak mendapatkan barang tetapi Anda tidak menyesal bahkan merasa senang dan puas. Jadi kurang tepat juga jika dikatakan tidak mendapat apa-apa, sebab setelah beramal Anda mendapatkan kepuasan pribadi. Makanya jika uang bisa membeli kebahagiaan, beramal mungkin salah satu caranya.

Kalau begitu bisakah kita benar-benar ikhlas dalam beramal dan adakah amalan yang tidak egois? Mencoba untuk benar-benar ikhlas adalah suatu tantangan yang luar biasa. Saya yakin ada yang bisa mencapainya walaupun jumlahnya tidak banyak.

Beramal sungguh suatu simulasi yang tepat bagi siapapun yang sedang bergelut diantara keputusan-keputusan moril maupun materiil tentang keuangan. Dia kembali meletakkan uang pada duduk perkara yang sebenarnya, yaitu sarana mencapai tujuan - bukan tujuan itu sendiri.

Beramal selain menjauhkan diri dari sifat serakah yang amat buruk karena sifat itu tidak bisa dipuaskan, juga melepaskan ketergantungan akan uang sehingga kita tidak terobsesi dengannya.

Pada akhirnya beramalpun membutuhkan perencanaan keuangan karena itu beramal turut membantu terbentuknya kebiasaan penggunaan uang yang baik, yaitu berdasarkan prioritas.

bisnis.com

 

Kolom »

  • Pemimpin di era kapitalisme kreatif

    A. M. Lilik Agung
    Trainer dan Pembicara Publik. Mitra Pengelola High Leap Consulting

  • Antisipasi risiko dengan diversifikasi

    Budi Frensidy
    Staf pengajar FEUI dan penulis buku

  • Kenali emas

    Mike R. Sutikno
    Mike Rini & Associates- Financial Counselling & Education

  • Bank Century

    Djony Edward
    Wartawan Jaringan Berita Bisnis Indonesia

Komentar

Beri Komentar