Bisnis Indonesia Online » Kolom
Kolom - Detail
Jumat, 05/09/2008 11:17 WIB
Manis dan pahitnya inovasi
oleh : A. B. Susanto
Managing Partner The Jakarta Consulting Group
Pada Oktober 2001, Apple memperkenalkan produk terbarunya, iPod. Meski hanya berukuran kecil, tetapi teknologi baru ini memiliki kemampuan yang luar biasa, yaitu dapat menyimpan tidak kurang dari 10.000 lagu.
Ipod juga dapat mengkopi seluruh CD audio dalam waktu yang sangat singkat sehingga para pencinta musik dapat melepaskan 'kotak musik' mereka dari komputer dan membawa musik yang mereka inginkan dan bahkan file lain dalam komputer ke mana pun mereka pergi.
Pada 2003, Ipod mengumumkan dibukanya ITunes Music Store (ITMS). Hanya dengan membayar 99 sen dolar AS, setiap orang dapat mengunduh lagu yang diinginkan secara legal. Ini adalah cara yang sangat cerdas untuk meningkatkan penjualan IPod.
Hanya sebulan kemudian ITMS telah berhasil menjual jutaan lagu, dan yang lebih penting lagi, jutaan Ipod pada Juni 2003. Hal ini terus berlanjut pada waktu-waktu berikutnya. Kesuksesan Ipod ini turut mendorong kenaikan saham Apple, dari yang semula hanya US$16, kemudian meningkat dengan cepat sehingga lebih dari dua kali lipat hingga Juli 2004, dan lebih dari dua kali lipat lagi hingga November 2004. Dari tahun ke tahun pendapatan bersih meningkat sebesar 530%.
Ini adalah kisah manis kesuksesan inovasi Apple, yang memang tergolong rajin melakukan inovasi. Namun, kita mafhum, Apple pernah mengalami kegagalan yang berakibat kerugian yang besar. Steve Jobs, pendiri dan inovator kunci, pernah ditendang keluar dari perusahaan. Artinya inovasi tidak selalu berbuah manis.
Salah satu contoh produk Apple yang gagal adalah Local Integrated Software Architecture (LISA), sebuat produk komputer baru pada saat itu dengan mouse satu tombol, hard drive berkapasitas lima mega byte, dua floppy drive, dan layer satu warna berukuran 12 inci. Salah satu penyebab kegagalan produk ini karena tidak kompatibel dengan komputer yang saat itu ada. Penyebab lainnya adalah floppy drive yang tidak bisa diandalkan, dan harga yang tinggi.
Menu wajib
Inilah persoalan yang melekat dalam inovasi, kita harus 'berjudi' terhadap kesuksesannya. Namun, apa boleh buat, inovasi merupakan sebuah keharusan di tengah-tengah gelombang perubahan yang demikian cepatnya dan dapat bertahan dari gempuran persaingan yang diwarnai oleh langkah-langkah inovatif dari para kompetitor.
Melalui inovasi, baik inovasi produk maupun inovasi proses, berarti sebuah perusahaan menantang cara-cara lama yang selama ini dipraktikkan untuk memberikan nilai yang lebih kepada pelanggan dalam bentuk produk, proses, dan layanan yang lebih baik daripada para pesaingnya. Langkah ini, bertujuan memenuhi kebutuhan pelanggan pada pasar yang belum tergarap ataupun menciptakan pasar yang benar-benar baru, agar kinerja perusahaan lebih berkilau.
Agar inovasi berbuah manis, dukungan dari para stakeholder, baik internal maupun eksternal, mutlak diperlukan. Demikian pula kemampuan untuk memprediksi kecenderungan perkembangan industri pada masa depan, yang mencakup pemahaman seputar faktor-faktor yang menjadi pendorong bagi perubahan seperti teknologi baru, dinamika persaingan, potensi dislokasi, dan skenario alternatif.
Di samping pemahaman terhadap industri, tentu saja diperlukan pemahaman terhadap pelanggan, baik pelanggan yang ada saat ini maupun pelanggan potensial. Dari sisi internal perusahaan harus memahami kapabilitas, kompetensi, dan aset yang dimilikinya, yang berpotensi sebagai pengungkit untuk memberi nilai tambah kepada pelanggan, termasuk teknologi, kekayaan intelektual, merek, dan hubungan strategis.
Kesiapan organisasi dapat berperan sebagai pendorong sekaligus juga penghalang bagi diimplementasikannya ide dan strategi baru, serta untuk secara sukses mengelola tuntutan operasional, pelanggan, dan finansial yang akan muncul. Kesuksesan sebuah inovasi tidak akan terwujud tanpa adanya implementasi yang efektif.
Berkaitan dengan inovasi, maka Christensen membaginya ke dalam inovasi berkelanjutan (sustainable innovation) dan inovasi disruptif (disruptive innovation). Dalam inovasi berkelanjutan, perusahaan secara berkesinambungan berupaya memperbaiki kualitas produk yang sudah ada. Biasanya hal ini dilakukan oleh perusahaan besar yang sudah mapan. Inovasi disruptif adalah inovasi yang menghasilkam terobosan teknologi baru yang menghasilkan revolusi dalam sebuah industri dan dunia bisnis pada umumnya.
Namun, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Chrioitensen, seiring dengan usaha perbaikan yang berkesinambungan, maka hasil dari inovasi disruptif ini akan menggeser produk hasil inovasi yang bekelanjutan, karena mampu menghasilkan produk yang lebih murah, andal, dan mudah digunakan.
Oleh karena itu, di samping secara berkala terus meningkatkan kinerja produk yang sudah ada, perusahaan pun perlu melakukan inovasi guna memenuhi kebutuhan pasar di luar yang selama ini menjadi sasarannya. Christensen memasukkan IPod sebagai bagian dari contoh kesuksesan inovasi disruptif
Inovasi tidak akan terwujud tanpa dukungan divisi penelitian dan pengembangan R&D yang kuat. Untuk itu, perusahaan wajib mengalokasikan sumber daya dalam jumlah yang memadai bagi divisi R&D-nya, terutama bagi kepentingan sumber daya manusia guna mempertahankan tenaga yang potensial dan berbakat.
Agar sebuah inovasi berbuah manis, paling tidak diperlukan tiga hal, yakni orang-orang memiliki kompetensi yang memadai untuk menunjang langkah-langkah inovatif, strategi yang tepat, dan tentu saja ditunjang oleh sumber daya yang memadai.
bisnis.com
Kolom »
Optimisme, asset tersembunyi
Anthony Dio Martin
Managing Director HR Excellency
Mengungkap peluang mobile marketing
Hermawan Kartajaya
President of MarkPlus Inc.
Pemimpin di era kapitalisme kreatif
A. M. Lilik Agung
Trainer dan Pembicara Publik. Mitra Pengelola High Leap Consulting
Antisipasi risiko dengan diversifikasi
Budi Frensidy
Staf pengajar FEUI dan penulis buku
Kenali emas
Mike R. Sutikno
Mike Rini & Associates- Financial Counselling & Education
Bank Century
Djony Edward
Wartawan Jaringan Berita Bisnis Indonesia