Bisnis Indonesia Online » Kolom
Kolom - Detail
Jumat, 26/09/2008 13:21 WIB
Lebaran tanpa kehabisan uang
oleh : Mike R. Sutikno
Mike Rini & Associates- Financial Counselling & Education
Salah satu ciri khas bulan puasa dan Lebaran adalah meningkatnya acara silaturahim dan kumpul-kumpul. Ya..minimal kita jadi lebih sering ke masjid dan beramah tamah dengan tetangga yang (jujur saja) kadang namanya pun kita lupa.
Budaya kita memang terkenal memiliki hubungan kekerabatan yang cukup dekat. Tidak heran semangat mudik dari tahun ke tahun tidak pernah surut, meskipun kebanyakan orang harus rela bermacet-macet di jalan.
Ada suatu upaya yang patut kita hargai terkait dengan persiapan dana kebutuhan Lebaran dan mudik ini. Demi Lebaran orang rela mempersiapkan jauh-jauh hari dana untuk mudik dan merayakannya. Terutama di kalangan masyarakat kelas bawah yang menjadi anggota dalam kasus arisan Lebaran baru-baru ini.
Mereka rela mengumpulkan hasil jerih payah yang menurut kacamata orang gedongan tak seberapa dari tahun ke tahun. Uang seribu -dua ribu rupiah kelihatannya kecil namun jika diakumulasi terus menerus apalagi dilakukan oleh anggota arisan yang jumlahnya ribuan, hasilnya bisa miliaran rupiah.
Jumlah yang sangat menggiurkan ini memang mengundang godaan untuk disalahgunakan oleh penyelenggara arisan yang tidak amanah. Apalagi sistemnya juga membuka peluang lahirnya individu-individu tukang ngemplang. Akibatnya, Anda bisa lihat sendiri tayangan di berbagai stasiun TV, wajah-wajah putus asa yang menuntut uang mereka kembali.
Arisan bukan investasi. Arisan adalah wadah menghimpun dana dengan sistem setoran kolektif pada jangka waktu tertentu antara anggota arisan dengan pengelola arisan. Pada saat jatuh tempo, anggota arisan berhak menarik sejumlah dana arisan sebesar jumlah yang disetorkan saja.
Dengan definisi tersebut arisan seharusnya tidak menjanjikan tambahan atau keuntungan baik berupa pendapatan bunga, bonus hadiah, maupun sembako. Sebab adanya tambahan atau keuntungan menimbulkan kewajiban pengelola arisan yang harus dibayar kepada anggota. Kesalahan pengelolaan dana oleh pengelola arisan dapat berakibat sangat fatal - dana arisan tidak terbayar.
Arisan juga bukan wadah investasi yang mampu memobilisasi ribuan orang anggota dengan jumlah dana kelolaan yang besar. Karena itu arisan sebaiknya hanya diselenggarakan oleh kalangan terbatas dalam jumlah kecil diantara orang yang satu sama lain saling mengenal.
Tiga dapur
Saya yakin, Anda tidak ingin menjadi salah satu dari para pemudik yang pergi bagaikan raja dan pulang dengan nestapa. Jangan sampai kelabakan, karena nyaris semua uang di rekening Anda habis untuk keperluan mudik. Sehingga ketika sudah kembali ke tempat tinggal, harus hidup super hemat agar uang yang tersisa cukup digunakan untuk keperluan sehari-hari hingga saatnya gajian.
Belum lagi, sekembali dari pulang kampung Anda tetap harus bersilaturahim dengan tetangga kiri kanan, sanak saudara, teman-teman dan kolega yang tinggal di kota yang sama. Ini juga membutuhkan biaya, paling tidak untuk suguhan makanan dan penampilan untuk acara open house di rumah.
Jadi, walaupun mudik dan berlebaran di kampung halaman, bukan berarti Anda tidak merayakan Lebaran di rumah bukan? Alhasil biaya yang harus dikeluarkan pun akan lebih besar lagi
Supaya hal ini tidak menimbulkan masalah harus disiapkan sumber dana tersendiri untuk Lebaran dan mudik dan tidak memakai gaji bulan ini. Bagi yang mendapat THR bisa menggunakan THRnya. Buat yang tidak menerima THR, kemungkinan besar harus menggunakan simpanannya.
Ada juga yang memaksakan diri untuk mengambil pinjaman agar bisa berlebaran dan pulang kampung. Merayakan Lebaran dan mudik tidak wajib namun harus kita upayakan. Artinya upaya tersebut harus kita usahakan jauh-jauh hari, misalnya dengan menabung rutin untuk mempersiapkan dana bagi keperluan tersebut.
Jangan sampai kepepet dan memaksakan diri untuk berutang untuk merayakan Lebaran, karena hal ini menandakan ketidaksiapan Anda sendiri.
Untuk memecahkan masalah yang ruwet ini Anda bisa menggunakan cara yang cukup efektif yaitu sistem 'dua dapur' untuk yang berlebaran di tempat tinggal dan memperluasnya dengan sistem 'tiga dapur', bagi Anda yang memutuskan untuk mudik. Begini aturan mainnya :
Dapur 1 : Dapur bulanan rutin. Artinya, pengeluaran rutin bulanan bayarlah dari penghasilan rutin.
Dapur 2 : Dapur Lebaran. Artinya, pengeluaran Lebaran bayarlah dari dana khusus (misalnya THR) . Pada edisi sebelumnya kita telah membahas anggaran Lebaran yang terdiri dari (a) ZIS (zakat, infaq, sedekah) ; (b) hidangan (makanan utama, suguhan dan hantaran); (c) pakaian (busana & perlengkapan ibadah); (d) Lain-lain. Nah, selanjutnya jika Anda memutuskan untuk mudik maka Anda bisa menyiapkan dana mudik tersebut dari pos dana lain-lain ini.
Dapur 3 : Dapur mudik. Artinya, pengeluaran mudik bayarlah dari pos dana lain-lain dari Dapur 2. Hati-hati, ini bisa sedikit membingungkan. Sebab anggaran Lebaran dan anggaran mudik menggunakan sumber dana yang sama.
Caranya adalah dengan membagi pos dana lain-lain menjadi empat bagian pos lainnya untuk keperluan mudik, yaitu : (a) Anggaran transportasi pulang balik; (b) Anggaran penginapan. Buat sebagian orang mudik tidak afdol jika tidak sekalian menginap di rumah orang tua atau saudara dekat di sana. Namun jika kondisi tidak memungkinkan karena tidak tersedianya kamar untuk menginap, maka hotel, losmen atau tempat penginapan lain bisa dipilih. (c) Anggara konsumsi, untuk keperluan makan selama mudik. (d) Anggaran rekreasi, kalau waktu mudik sekaligus digunakan juga untuk rekreasi, anggarkanlah juga biaya khusus untuk rekreasi. Hati-hati anggaran rekreasi ini mudah sekali membengkak, sebab ketika bersenang-senang orang cenderung boros. Perhitungkan juga kemungkinan Anda tidak akan cuma mengajak keluarga Anda jalan-jalan, sebab orang tua atau saudara lain mungkin juga ikut; (e) Biaya tak terduga, sediakan minimal 10% dari total anggaran mudik Anda untuk berjaga-jaga.
Nah, mudah-mudahan setelah acara mudik selesai, Anda sekeluarga tidak perlu kehabisan uang lagi. Semoga Yang Maha Kuasa merahmati kita semua. Selamat Idul-fitri, mohon maaf lahir dan batin.
bisnis.com
Kolom »
Optimisme, asset tersembunyi
Anthony Dio Martin
Managing Director HR Excellency
Mengungkap peluang mobile marketing
Hermawan Kartajaya
President of MarkPlus Inc.
Pemimpin di era kapitalisme kreatif
A. M. Lilik Agung
Trainer dan Pembicara Publik. Mitra Pengelola High Leap Consulting
Antisipasi risiko dengan diversifikasi
Budi Frensidy
Staf pengajar FEUI dan penulis buku
Kenali emas
Mike R. Sutikno
Mike Rini & Associates- Financial Counselling & Education
Bank Century
Djony Edward
Wartawan Jaringan Berita Bisnis Indonesia