Ito vs Rugeh Oleh Lahyanto Nadie Jika dalam pemilihan umum presiden (pilpres) kita harus menunggu hingga 8 Juli, untuk pilpresdir, para anggota bursa akan mencontreng hari ini. Pilpres mencari presiden ke-7 Republik Indonesia, sedangkan pesta demokrasi ini menentukan presiden direktur ke-5 Bursa Efek Indonesia (BEI), sejak bursa diswastakan lewat pendirian PT Bursa Efek Jakarta pada 1992.
Setelah Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono, rakyat Indonesia akan menentukan tiga calon yang bersaing, yaitu Megawati-Prabowo, SBY-Boediono, dan JK-Wiranto.
Bagi 'rakyat' pasar modal Indonesia, mereka hanya disuguhkan dua pilihan, Tim Ito dan Paket Rugeh. Keduanya akan melanjutkan perjuangan pendahulunya, yaitu Hasan Zein Mahmud, Cyrill D. Noerhadi, Mas Achmad Daniri dan Erry Firmansyah.
Meminjam istilah sepak bola, pertandingan diduga berlangsung seru karena head-to-head kedua tim memiliki squad yang seimbang sehingga menyuguhkan permainan yang ketat.
Calon presdir BEI Ito Warsito berhadapan dengan I Made Rugeh Ramia mempunyai kekuatan & kelemahan tersendiri. Kedua kapten kesebelasan akan beradu strategi, kapabilitas, kualitas, dan pengalaman di lantai bursa.
Adu program
Tim Ito dengan tag line "teruji bukan janji" menyatakan timnya dipimpin oleh seorang intelektual yang independen, enerjik dan visioner. Mereka memiliki komitmen yang tinggi pada kualitas layanan, daya saing dan kredibilitas. Alasan lainnya adalah tim ini merupakan perpaduan komposisi yang solid dari tiga pelaku pasar, satu direktur dan tiga kepala divisi BEI. Tim ini juga mengklaim memiliki track record yang teruji, program kerja yang berorientasi pasar dan achievable.
Sementara itu, Paket Rugeh dengan tag line "together, stronger, prosper" memiliki sasaran dengan meningkatkan likuiditas pasar menjadi rata-rata Rp6 triliun per hari. Jumlah pemodal juga akan ditingkatkan menjadi satu investor dalam tiga tahun, jauh lebih kecil dibandingkan target lawannya, 2,3 juta investor. Rugeh yakin jumlah perusahaan go public bisa 450 emitmen dalam tiga tahun. Sasaran lainnya adalah kinerja keuangan AB dan BEI yang sehat.
Tim Ito mengandalkan 20 rencana strategis. Bagi Rugeh cukup delapan aksi untuk meyakinkan anggota bursa memilihnya.
Posisi puncak
Bagaimana pun anggota bursa akan melihat calon dirut sebagai alasan utama memilih satu di antara dua.
Ito meraih gelar MBA dari Harvard Business School pada 1994. Saat ini menjabat sebagai Komisaris Utama PT Bahana Securities sekaligus sebagai Direktur dan Chief Financial Officer PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia.
Rugeh memulai karirnya pada 1967 di Departemen Keuangan dengan posisi terakhir sebagai pejabat pada Biro Pembinaan Bursa BAPEPAM (1979-1989). Selain sebagai Presiden Direktur PT Panin Sekuritas Tbk sejak 1989, dia aktif sebagai Panitia Standar Profesi Pasar Modal sejak 1992 dan sebagai Komisaris pada PT Bursa Efek Jakarta (2001--2004).
Jika menilik pengalaman kedua calon dirut ini, mestinya tak ada yang meragukan lagi. Tapi sebagian anggota bursa mengkhawatirkan usia Rugeh yang telah mencapai 66 tahun. Soal ini, Rugeh menjelaskan sebenarnya usia itu masih terlalu muda jika melihat kepada pimpinan puncak bursa lain. J.Y. Pillay, dirut Singapore Stock Exchange sudah 77 tahun, Atsushi Saito (Tokyo Stock Exchange) sudah 66 tahun dan Chow Man Yiu (Hong Kong Stock Exchange) sudah berusia 62 tahun ketika terpilih, kini sudah 67 tahun.
Melihat kekuatan keduanya, rasanya Ito versus Rugeh berimbang.
Direktur Penilaian Perusahaan
Di lini ini akan bersaing Antara Eddy Sugito dan Agustinus Wishnu Handoyono.
Bagaimana kekuatan keduanya? Eddy saat ini menjabat sebagai Direktur Pencatatan PT BEI sejak 2005. Sementara itu, Wishnu sebagai Presdir Bhakti Securities. Beberapa anggota bursa yang saya hubungi menyatakan persaingan di lini ini juga ketat. Baik Wishnu yang sarat pengalaman dan Eddy yang incumbent, pesaingan di posisi ini fifty-fifty.
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa
Di posisi ini bersaing Wan Wei Yiong dan Hosea Nicky Hogan. Yiong bergabung di BEI sejak 2000 sebagai Kadiv Pelayanan Anggota Bursa. Kemudian Kadiv Pencatatan Sektor Jasa dan saat ini Kadiv Pemasaran.
Di paket Rugeh, Nicky sebagai pemain pengganti tapi orang lama di pasar modal dengan pengalaman 11 tahun. Kini sebagai Wapresdir PT Reliance Securities Tbk. Awalnya agak sulit menentukan siapa yang unggul, tapi sebagai calon direksi, memang dibutuhkan orang yang lebih perpengalaman di manajemen puncak.
Direktur Pengawasan dan Kepatuhan Anggota Bursa
Uriep Budhi Prasetyo akan berhadapan dengan Hamdi Hassyarbaini. Uriep yang saat ini tengah terbaring di rumah sakit, kini menjabat sebagai Direktur Operasional PT Dhanawibawa Artha Cemerlang, sekaligus sebagai Komisaris KSEI.
Hamdi saat ini sebagai Kadiv Pengawasan Transaksi. Dia mengawali karir sebagai auditor di dunia perbankan dan berbagai divisi dilaluinya mulai sebagai Kepala Satuan Pemeriksa Keuangan, Kadiv Keanggotaan, Kadiv Keuangan dan Kadiv Perdagangan. Independensi Hamdi dinilai sejumlah anggota bursa menjadi bekal untuk mengawasi para anggotanya.
Direktur Pengembangan Usaha
Si cantik Frederica Widyasari Dewi akan bersaing dengan 'ustadz' Rosinu. Kiki, begitu panggilan akrab Frederica, kini sebagai Corporate Secretary BEI, sebelumnya sebagai Kadiv Komunikasi Perusahaan dan Task Force Marketing Coordinator.
Sementara itu, Rosinu yang berkecimpung 12 tahun di pasar modal, kini sebagai Direktur dan Division Head-Corporate Marketing & Corporate Secretary pada PT Trimegah Securities Tbk. Untuk posisi ini tampaknya Rosinu di atas angin.
Direktur Teknologi Informasi
Adikin Basirun versus Achmad Zaky Hamid. Junior melawan senior. Adikin kini sebagai Direktur Utama di PT Pacific Duaribu Investindo. Memulai karir sebagai akuntan, project controller dan senior dealer, di berbagai perusahaan. Zaki memulai karirnya di PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) Bandung di tahun 1983 dan pada tahun 2000, Zaky dipercaya menjadi Direktur PT KPEI. Kini ia sebagai konsultan Teknologi Informasi untuk beberapa proyek di PT KSEI, PT KPEI dan PT BEJ. Adikin unggul dalam perspektif bisnis, sementara Zaki dalam implementasi, keduanya dinilai berimbang.
Direktur Keuangan dan Sumber Daya Manusia
Supandi akan bersaing melawan Susy Meilina. Pandi bergabung di BEI sejak 1992, saat ini menjabat sebagai Kadiv Perdagangan. Jabatan sebelumnya adalah Kadiv Evaluasi Emiten dan Kadiv Pengawasan Perdagangan.
Susy memiliki pengalaman yang kaya dalam kegiatan opersional dan keuangan perusahaan selama hampir 17 tahun. Dia dipercaya sebagai Direktur PT UOB Kay Hian Securities sejak 2000, menjabat sebagai Operations Director yang bertanggung jawab terhadap departemen Keuangan dan Sumber Daya Manusia. Persaingan pada direktorat ini tak terlampau ketat. Susy dinilai unggul.
Dari sisi program, sebenarnya tak ada perbedaan yang signifikan kecuali soal target investor. Ito mematok lokal 1% dari jumlah penduduk yaitu sekitar 2,3 juta investor, sementara Rugeh hanya satu juta. Target perusahaan go public menjadi 450 emiten oleh Rugeh mungkin agak sulit, tapi program Ito soal demutalisasi bursa juga bukan hal yang penting.
Calon direksi yang terpilih, bagaimanapun akan mengangkat gengsi mereka. Gaji yang mencapai Rp60 jutaan per bulan sebenarnya tak terlalu berbeda dengan direksi perusahaan efek yang cukup besar. Akan tetapi jaringan yang kian luas dan tampil sebagai figur publik, serta akses politik yang identik dengan kekuasaan itulah candu yang sebelumnya tak bisa dinikmati.
Keunggulan dan titik lemah terlihat sekali di depan mata para pemilih, anggota bursa sebagai pemilik saham BEI.
Kembali ke soal sepakbola, pertandingan hari ini tampaknya akan seru dengan ball position 45:55. Bagaimana hasilnya? Itulah yang turut menentukan masa depan sepak bola, eh pasar modal Indonesia. (lahyanto.nadie@bisnis.co.id)