Handito Joewono

'Me'-marketing

Jumat, 26/06/2009 09:35:23 WIBOleh: Handito Joewono
Hari-hari menjelang pilpres sekarang ini pemberitaan baik di media cetak maupun elektronik dipenuhi dengan pergulatan seputar personal marketing. Adu strategi, adu program, adu taktik, adu argumentasi, adu iklan, adu sms dan adu website maupun facebook tampil begitu seru. JK-Wiranto, SBY-Boediono atau Mega-Prabowo sedang bersaing meraih kepercayaan rakyat untuk kepemimpinan nasional mendatang.

Personal marketing tidak hanya relevan untuk para capres, tetapi juga bagi perorangan siapapun di dunia bisnis, politik, sosial dan bahkan di skala teman sekelas sekolah atau lingkungan rumah. Isu personal marketing menjadi makin marak dengan pemberitaan tentang Prita dan Manohara. Seru seperti jamu komplet.

Pada perdebatan dan kompetisi personal marketing antarcapres, dibincangkan kontroversi mazhab ekonomi neolib, ekonomi kerakyatan serta pentingnya peranan negara dalam perekonomian. Perdebatan kemudian mengarah juga ke personal marketing antartokoh pelaku sejarah ilmu ekonomi seperti Adam Smith atau John Maynard Keynes.

Tiba-tiba saja nama harum Adam Smith jadi 'keseret-seret' sebagai tidak prorakyat. Bahkan 'invisible hand' Adam Smith juga menjadi perbincangan di emperean toko di Pecenongan sambil makan martabak.

Tentu saja almarhum Adam Smith tidak lagi bisa membela diri. Bahkan, ketika brand Adam Smith seolah dicemoohkan, yang bersangkutan tidak punya kesempatan melakukan re-branding.

Mungkin kalau Adam Smith bisa bangun dari liang kuburnya, dia akan melakukan press conference dan melakukan pembelaan atas pencitraan miring atas pemikirannya, atau bisa jadi dia melakukan reposisi atas sikap akademisnya dan meluncurkan 'produk baru' pemikiran Adam Smith versi 9.9.

Kondisi berbeda 'dinikmati' oleh John Maynard Keynes yang tiba-tiba mendapat angin segar atas pemikirannya bahwa diperlukan intervensi negara pada perekonomian. Pendekatan konseptual ekonomi 'zaman dahulu kala' yang digagas oleh Keynes atas pengamatannya ketika terjadi Great Depression pada era 1930-an, kini sekonyong-konyong hidup kembali.

Waktu itu Keynes menyarankan intervensi pemerintah pada perekonomian dengan menggunakan kebijakan fiskal dan moneter untuk menghindari terjadinya resesi atau depresi.

Bisa jadi pemikiran Keynesian kembali 'naik panggung' karena diadopsi oleh Presiden Amerika Barack Obama yang antara lain merancang rencana besar untuk meningkatkan domestic spending untuk melawan ancaman resesi yang merefleksikan pemikiran Keynesian.

Para capres dengan berbagai strateginya berupaya membangun persepsi publik melalui personal marketing dengan mengaitkan pada pemikiran ekonom-ekonom besar tersebut. Hal ini sekaligus menjadi contoh konkret bagaimana personal marketing dilakukan.

Personal marketing dilakukan antara lain dalam rangka meningkatkan customer awareness dan membangun customer image, yang kemudian bermuara pada tingkat preferensi konsumen, yang pada kampanye capres berwujud dalam bentuk tingkat elektabilitias.

Tingkat elektabilitas menjadi kunci terakhir penting menuju perebutan 'market share' sesungguhnya.

"Me"-marketing

Personal marketing yang bisa juga disebut sebagai "me"-marketing, bukan 'mie marketing' atau memasarkan mi, merupakan strategi dan cara pemasaran individu perorangan atau lebih spesifik lagi memasarkan diri sendiri. "Me"-marketing berbeda dengan memasarkan mi atau memasarkan produk pada umumnya.

Personal atau individu tidak sekadar "tangible product" karena kita punya fisik badan, tidak hanya juga "intangible product" karena punya emosi dan kecerdasan, tetapi juga punya jiwa. Karenanya "me"-marketing jauh lebih kompleks dari pada pemasaran produk atau jasa.

Meskipun memasarkan personal jauh lebih kompleks, kita perlu membuatnya tetap sederhana. "Me"-marketing bisa dilakukan dengan mengadopsi prinsip The 5 Arrows of Marketing, menjadi beberapa langkah sebagai berikut:

Personal insight

Kalau dalam pemasaran produk dikenal istilah customer insight, khususnya pemahaman atas perilaku konsumen terhadap produk yang hendak dipasarkan, pada "me"-marketing lebih dipentingkan pemahaman atas personal bersangkutan.

Dalam konteks pemasaran capres, misalnya, meskipun tetap diperlukan pemahaman atas perilaku rakyat pemilih dan para capres kompetitor; tetapi yang harus didahulukan adalah pemahaman utuh atas capres bersangkutan. Boleh dikatakan, pemasaran personal akan sangat dipengaruhi oleh personal bersangkutan.

Personal brand crafting

Strategi pencitraan pribadi diwujudkan dalam bentuk perumusan brand positioning, brand personality, dan personal identity. Karenanya perorangan termasuk capres tidak sekadar 'mengatur' tampilan fisik seperti pakaian, potongan rambut atau gaya bicara.

Perlu juga dirumuskan citra diri yang hendak dibangun, dan bahkan lebih unik lagi brand personality dari personal bersangkutan. Perlu dibedakan antara brand personality dengan personality dari individu bersangkutan.

Tidak selalu brand personality dari individu tertentu merupakan hal yang sama dengan karakteristik riil dari yang bersangkutan. Ada aspek-aspek tertentu yang perlu 'dipoles' khususnya untuk karakteristik individu yang 'kurang menjual'.

Personal communication

Memang masih saja ada 'perdebatan' tentang apakah pemasaran personal sebaiknya dilakukan secara alamiah atau perlu 'direkayasa', yang bermuara pada 'debat aliran' apakah persepsi personal sebaiknya "dibentuk" atau "terbentuk" dengan berbagai argumentasinya.

Personal communication dilakukan dengan 'mengoptimalkan' karakter dan brand personality dari individu bersangkutan dengan memanfaatkan semua media komunikasi yang ada. Facebook sekarang menjadi tren komunikasi untuk "me"-marketing.

Trust building

Kepercayaan terhadap individu yang dipasarkan merupakan tujuan dan sekaligus 'modal' yang menjadi syarat mutlak pemasaran individu. Trust merupakan hasil perpaduan antara pencitraan dan jati diri sesungguhnya dari individu bersangkutan.

Tanpa ada konsistensi dan bukti bahwa pencitraan yang dibangun merupakan hal yang 'nyambung', maka trust tidak akan pernah dicapai.

Sustainability

Pemasaran individu merupakan proses berkelanjutan yang tidak hanya dilakukan kalau sedang perlu. "Me"-marketing harus terus dilakukan sepanjang umur individu yang bersangkutan.

Perbaikan, baik penyempurnaan maupun brand-revovery perlu dilakukan dengan strategi dan program yang berkesinambungan.

Komentar

Kolom

Hak Cipta © 2007 - 2009 - PT Jurnalindo Aksara Grafika