Eko Endarto

Investasi tradisional bisa jadi pilihan

Jumat, 03/07/2009 08:55:33 WIBOleh: Eko Endarto
Melakukan investasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah perencanaan keuangan seseorang atau keluarga. Pensiun, pendidikan anak, keinginan untuk memiliki harta pada masa depan merupakan tujuan keuangan yang bisa diperoleh dengan perhitungan yang tepat dan pemilihan produk investasi yang tepat pula.

Tujuan keuangan khususnya yang berjangka waktu panjang menjadi sangat penting karena pemilihan produk yang tepat menjadi kunci keberhasilan pencapaian tujuan tersebut. Banyak orang mempersiapkan pensiunnya dengan sekadar menyisihkan sebagian uangnya tanpa menyadari bahwa yang dilakukannya bukanlah investasi tetapi menabung.

Berinvestasi berarti potensi penghasilan yang diterima harus lebih tinggi dari inflasi dan lebih baik lagi bila lebih tinggi dari rata-rata kenaikan harga tujuan keuangan akhir kita.

Untuk tujuan pensiun, produk investasi yang dipilih harus memberikan hasil lebih tinggi dari rata-rata kenaikan inflasi. Kalau dana pendidikan, pastinya harus lebih tinggi dari rata-rata kenaikan biaya pendidikan. Bila hal ini tidak diperhatikan, jangan heran uang yang sudah terkumpul bukannya bertambah nilainya melainkan malah menyusut walau terlihat angkanya banyak.

Investasi tradisional mungkin tidak terlalu populer untuk Anda, bahkan bisa jadi Anda tidak setuju dengan ungkapan di atas, karena investasi tidak ada yang tradisional atau modern karena semuanya bertujuan sama. Istilah ini saya dapatkan dari seorang teman biasa yang sekadar mencoba membagi produk investasi yang dikenalnya.

Istilah investasi tradisional digunakan bagi produk investasi yang tidak terlalu rumit dan telah sejak lama digunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Biasanya produk ini lebih bersifat fisik dan memiliki bentuk, seperti emas, properti, barang koleksi, dan sebagainya.

Yang lebih canggih adalah investasi modern, istilah yang digunakan bagi investasi yang cukup rumit dan biasanya tidak memiliki bentuk fisik produk investasi seperti deposito, saham, tabungan, obligasi dan sebagainya yang hanya dipegang bukti kepemilikannya.

Investasi tradisional biasanya bersifat jangka panjang karena kenaikan nilainya tidak cepat. Sebagai contoh, properti membutuhkan lebih dari 1 tahun agar harganya meningkat. Adapun investasi modern biasanya lebih pendek jangka waktunya, cepat memberi keuntungan. Saham, misalnya, bisa meningkat harganya dalam hitungan hari, jam, menit bahkan detik.

Investasi secara tradisional walaupun sepertinya tidak terlalu keren, banyak digunakan sebagai bagian portofolio investasi seorang investor besar. Trump memiliki properti sebagai bagian portofolio yang dimilikinya. Buffet menggunakan emas selain valas sebagai bagian investasinya. Meski tradisional bukan berarti produk investasi ini tidak layak dilirik.

Investasi di produk pertanian mungkin salah satu yang bisa disebut sebagai investasi tradisional. Dengan kriteria memberikan keuntungan lebih jangka panjang dan memiliki bentuk fisik, produk ini sepertinya bisa disebut demikian. Banyak produk pertanian yang bisa dijadikan investasi. Saya pernah mendengar tentang produk jagung, jamur, jahe, dan sebagainya. Saat ini kita akan coba membahas tentang jati.

Jaty Arthamas

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan tawaran investasi dari PT Jaty Arthamas, salah satu perusahaan investasi pertanian, khususnya pohon jati sejak 1998.

Jaty Arthamas menawarkan bibit jati super yang menjadi andalan mereka. Sebagai salah satu perusahaan yang peduli di bisnis ini mereka tidak sekadar menjual tetapi lebih jauh lagi menjadi pendamping bagi penanaman jati super ini ke seluruh Indonesia sesuai dengan keinginan para investor.

Pemilihan jati yang ditawarkan adalah jati unggulan yang memberikan hasil cepat, tinggi, dan risiko rendah. Artinya, jati jenis ini tumbuh cepat sehingga lebih cepat dipanen dan lebih kuat dari serangan penyakit sehingga menawarkan hasil menggiurkan.

Bila investor tidak memiliki tanah yang cukup untuk menanam bibit jati tersebut, bisa memilih alternatif kedua, yakni seseorang yang ingin berinvestasi cukup menyediakan dana Rp100 juta. Dengan uang sebanyak itu investor mendapatkan 1 hektare tanah bersertifikat hak milik dan berisikan 1.250 bibit kayu jati super. Lokasi tanah yang ditawarkan di Sukabumi yang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kayu jati.

Data historis memperlihatkan bahwa kayu jati harganya naik minimal dua kali lipat atau 200% per 5 tahun. Bisa dibayangkan berapa besar perkembangan investasi dalam 20 atau 30 tahun ke depan. Dengan membelanjakan Rp25 juta saat ini, dengan asumsi tanpa adanya risiko yang besar, kenaikan investasinya dalam 10 tahun ke depan menjadi Rp2 miliar-Rp8 miliar, setara sekitar 8.000%-33.000%.

Panen dilakukan secara bertahap, karena jati super ini sudah bisa dipanen saat berusia minimal 5 tahun, walaupun mereka menyarankan lebih dari itu. Makin tua umur pohon jati akan makin mahal harganya.

Investasi ini memberikan garansi 3 bulan masa pembibitan. Setelah masa garansi habis tentunya kita harus waspada, karena investasi dalam komoditas sangat rawan terhadap lingkungan seperti terkena hama, kebakaran bahkan terburuk terjadinya penjarahan. Belum lagi harus diakui bahwa jenis investasi seperti ini belum memiliki aturan baku layaknya produk investasi lain seperti deposito, saham, dan reksa dana.

Komentar

Kolom

Hak Cipta © 2007 - 2009 - PT Jurnalindo Aksara Grafika