Budi Frensidy

Rugi yang dibatasi, bukan untung

Jumat, 03/07/2009 08:58:29 WIBOleh: Budi Frensidy
Sebuah artikel di kolom investasi sebuah harian terkemuka yang ditulis rekan saya minggu lalu menyulut perhatian saya. Ada dua hal yang ingin saya tanggapi. Pertama, dikatakan kalau investor tidak boleh melawan pasar. Bila harga saham naik, investor harus ikut membeli dan bila harga saham turun, ikut menjual. Ini persis yang diajarkan analisis teknikal dengan efek destabilisasinya yang menyebabkan harga dan indeks saham bergerak turun naik seperti roller coaster.

Nasihat ini mungkin cocok untuk para pemodal yang berdagang saham tetapi sangat tidak pas untuk investor yang berniat investasi saham untuk jangka menengah dan panjang. Ini juga berkebalikan dengan prinsip berinvestasi berbekal analisis fundamental yang menganjurkan kita untuk membeli rendah dan menjual tinggi.

Jika Anda menerapkan strategi ikut-ikutan seperti di atas, yang akan Anda alami adalah beli tinggi dan jual rendah. Ketika membeli saham terlalu tinggi karena mengikuti arus, opsi yang tersedia sering hanya menjualnya pada harga lebih rendah karena tidak ada investor lain yang bersedia membelinya di atas harga perolehan Anda yang ketinggian itu.

Ilustrasinya, ikut-ikutan pasar saham yang sedang naik mungkin membuat Anda memutuskan membeli saham BUMI pada harga Rp8.000-an pertengahan tahun lalu. Sebaliknya, ikut-ikutan menjual saham memaksa Anda melepas saham DEWA dan TRUB pada harga Rp50 dan ASII (Astra) di Rp9.000 beberapa bulan lalu. Anda tahu berapa harga saham-saham di atas awal minggu ini? BUMI berharga sekitar Rp1.900, DEWA Rp205, TRUB Rp170, dan ASII di Rp24.000.

Ada satu prinsip dasar yang dilupakan dalam nasihat di atas bahwa investasi itu sejatinya hanya membandingkan nilai (value) dan harga (price), dan bukan ikut-ikutan. Prinsip ini mestinya berlaku untuk semua investasi, baik aset riil seperti tanah dan properti maupun aset finansial.

Nilai itu adalah worth atau what we get, sedangkan harga itu cost atau what we pay. Prinsip ini berlaku tidak hanya untuk investasi. Dalam membeli apa pun, kita harus selalu membandingkan worth dan cost ini. Itulah sebabnya kita sangat sering mendengar istilah value for money.

Jangan cepat puas

Kedua, rekan saya itu juga mengingatkan investor untuk selalu menggunakan rasio. Bahwa jika investor sudah untung melebihi 5%-10%, investor sebaiknya menjual saham untuk merealisasikan profit. Menurut Anda, apakah investor seperti ini disebut rasional sesuai dengan pernyataan penulis? Saya berpendapat berbeda. Di mata saya, investor yang mengambil strategi investasi seperti yang dianjurkan di atas adalah jauh dari cerdas dan rasional.

Investor ini hampir dapat dipastikan akan mengalami banyak keuntungan kecil (many small gains) dan sangat sedikit keuntungan besar (very few large gains) di satu sisi; dan banyak kerugian besar (many large losses) dan sedikit kerugian kecil (few small losses) di sisi lain. Inilah kesalahan utama investor individual di bursa saham dan disebut efek disposisi yaitu sell the winners too soon and hold the losers too long.

Investor yang cerdas adalah investor yang membatasi kerugian dengan strategi cut loss, tetapi tidak membatasi keuntungan. Investor yang rasional justru investor yang dapat memperoleh banyak keuntungan besar dan terhindar dari kerugian besar. Sekali-kali mengalami kerugian kecil adalah hal biasa yang sering tidak dapat dielakkan.

Anda ingin tahu potensi keuntungan yang terkandung dalam sebuah saham? Bukti empiris di bursa kita menunjukkan kalau setiap tahun ada saja saham yang memberikan profit hingga ratusan persen kecuali pada 2008. Tahun 2005, 10 saham dengan kenaikan harga tertinggi mampu memberikan profit 130% hingga 515%. Persentase ini melonjak menjadi 213% sampai 638% pada 2006, dan 719%-3.940% pada 2007. Pada 2008, saat indeks saham turun lebih dari 50%, 10 emiten teratas masih dapat memberikan kenaikan harga 19,4% hingga 82,9%.

Jika Anda terpengaruh dan mengikuti nasihat yang tidak mendidik di atas untuk segera merealisasikan keuntungan 5%-10%, Anda tidak akan pernah menyaksikan harga saham Anda melonjak puluhan hingga ratusan persen.

Sejatinya, menyaksikan harga saham melonjak dua hingga tiga kali lipatnya, saat pasar bullish, adalah biasa. Kebetulan, saya sempat membeli saham DEWA dan TRUB ratusan lot pada harga Rp50 akhir tahun lalu. Bulan lalu saya merealisasikannya ketika harganya menembus Rp215. Keuntungan lebih dari 300% hanya dalam waktu 7-8 bulan. Sangat lumayan, bukan?

Simetris dengan potensi kenaikannya, harga saham pun dapat turun puluhan persen hingga tersisa hanya belasan persen dalam 1 tahun. Pada 2005, saham Limas turun sebesar 88%. Kemudian saham Sentul City dan Sekar Laut pernah merosot 74% masing-masing pada 2006 dan 2007 lalu serta Trada Maritime yang anjlok 86,8% sepanjang tahun lalu.

Untuk mengatasi kejadian tak menyenangkan ini, ikuti nasihat Goldberg dan Nitzsch dalam bukunya behavioral finance (1995) yaitu tentukan target harga dan strategi stop loss untuk setiap saham. Pastikan target profit sekitar tiga kali dari maksimum kerugian yang masih dapat Anda terima. Jika Anda hanya bersedia menanggung kerugian maksimal 20%, target profit sebaiknya adalah 60%. Let the profits, not the losses, run.

Kesimpulannya, investor itu harus diingatkan untuk cut loss dan bukan untuk membatasi keuntungan sebesar 5%-10%. Tanpa dinasihatkan, menurut Shefrin dan Statman (1985), investor cenderung akan melakukan realisasi profit yang tak seberapa ini, apalagi jika dianjurkan.

Tip dari saya, hati-hati membaca dan memahami nasihat para kolumnis investasi. Tidak semua nasihat dimaksudkan untuk Anda. Jika tidak percaya diri untuk untung besar, Anda sebaiknya tidak menjadi investor saham.

Komentar

Kolom

Hak Cipta © 2007 - 2009 - PT Jurnalindo Aksara Grafika