Apa yang paling membahagiakan manakala senja beranjak berubah menjadi malam pada sebuah kota nan macet bernama Jakarta? Tak salah menuju utara Jakarta untuk menikmati alunan ombak malam sambil bercengkerama di sebuah kedai makan yang terbentang lebar menelusuri pantai. Ya, sebuah gaya hidup baru masyarakat Jakarta. Menikmati senja sambil menunggu malam di Ancol.
Gaya hidup ini jelas tidak ditemukan pada tahun-tahun lampau. Ancol pada malam hari tak ubahnya seperti malam-malam lain di Jakarta. Membosankan lantaran begitu klise. Keadaan ini berubah total. Ancol malam hari tak ubahnya oase nan sejuk lagi segar.
Dengan atraksi nan memikat melalui motor utama bernama wisata kuliner. Dikemas dengan suasana pantai, kita akan memperoleh pengalaman spektakuler yang selaras dengan cita-cita Ancol masa depan; Ancol spektakuler.
Menjadikan Ancol spektakuler tentu harus dikawal oleh pemimpin yang spektakuler. Beruntung Ancol memiliki CEO spektakuler dengan visi spektakuler dan kinerja spektakuler. CEO tersebut bernama Budi Karya Sumadi.
Sesuai dengan namanya, Budi berkarya habis-habisan untuk mewujudkan Ancol sebagai perusahaan properti dan pengembang kawasan wisata terbesar dan terbaik di Asia Tenggara.
Membangun manusia
Salah satu tugas paling berat dari seorang pemimpin adalah keluar dari bayang-bayang pemimpin terdahulu yang sudah menunjukkan kinerja luar biasa. Menyebut nama Ancol pasti identik dengan Ciputra.
Melepaskan diri dari bayang-bayang kebesaran Ciputra merupakan tantangan pertama yang menghadang kepemimpinan awalnya di Ancol. Intinya apa yang dilakukan oleh Budi Karya Sumardi harus berbeda dengan apa yang telah dikerjakan oleh Ciputra.
Secara lebih ekstrem, agar masyarakat menilai kinerja Budi Karya Sumardi layak disebut berhasil beliau harus lebih inovatif ketimbang Ciputra. Budi Karya Sumardi berhasil melewati rintangan mahaberat ini.
Dengan mengusung semangat perubahan, Budi Karya Sumardi mencanangkan Ancol Spektakuler. Inti dari Ancol Spektakuler ini adalah menciptakan kawasan wisata melalui sajian hiburan berkualitas yang berunsur seni, budaya. dan pengetahuan yang menjadi kebanggaan bangsa.
Menjadikan Ancol spektakuler bukan perkara mudah. Apalagi selama bertahun-tahun Ancol menghadapi aneka kendala, seperti; (1) kemandegan pertumbuhan pengunjung, (2) kelas menengah bawah dan citra negatif, (3) makanan mahal tanpa ada standar, (4) merupakan perusahaan daerah/BUMD yang dikelola asal-asalan dengan pelayanan asal-asalan dan kebersihan asal-asalan. Aneka kendala ini yang harus ditundukkan oleh Budi Karya Sumadi.
Kiat apa yang dilakukan oleh Budi untuk mengatasi aneka persoalan ini? Dalam sebuah forum yang saya selenggarakan dan kebetulan saya sendiri menjadi moderatornya, Budi menuturkan ada lima strategi yang dijalankan guna mewujudkan Ancol spektakuler.
Pertama, Financial and enterprise resource management. Tak lain mewujudkan sistem manajemen risiko dan keuangan yang mampu meningkatkan nilai perusahaan serta menjamin ketersediaan sumber daya dalam rangka mewujudkan "Ancol Spektakuler".
Kedua, People development acceleration. Tindakannya dengan mewujudkan sistem manajemen SDM yang mampu mencetak kader-kader yang sesuai dengan nilai inti perusahaan dalam jumlah yang cukup untuk menopang agenda "Ancol Spektakuler"
Ketiga, Organization and management development. Caranya merancang dan memfasilitasi proses pemberdayaan manajemen dalam rangka mewujudkan organisasi dengan sistem manajemen yang berbudaya, kreatif, dan dinamis.
Keempat, Business and network development Melakukan inovasi produk secara berkesinambungan serta diversifikasi usaha yang berbasis gaya hidup dan trend-setting dengan tetap menjamin pertumbuhan dan profitabilitas yang berkesinambungan.
Kelima, Public image and corporate social responsibility. Bertujuan mewujudkan kepercayaan masyarakat dan dunia usaha serta minimalisasi gangguan sosial/lingkungan melalui optimalisasi program kepedulian sosial dan komunikasi korporat yang berimbang.
Dari lima strategi ini, Budi Karya Sumadi memfokuskan pada dua strategi utama, yaitu people development acceleration serta organization and management development. Mengapa? Inilah inti dari sebuah program bernama transformasi bisnis seperti dijalankan oleh Ancol.
Fokus ke manusia
Mengembangkan manusia dan membentuk organisasi dengan sistem manajemen yang berbudaya, kreatif, dan dinamis merupakan landasan utama. Tanpa manusia cerdas dan berbudaya, seluruh pranata yang ingin dikembangkan hanya sebentuk retorika kosong hampa kinerja.
Membangun manusia cerdas dan berbudaya tak salah lagi merupakan tanggung jawab pemimpinnya dengan bantuan divisi HRD. Oleh karenanya manajemen Ancol memperbaiki kebijakan strategi HR (Strategic HR Policy) dan sistem manajemen kinerja (Performance Management System/PMS).
Ketika perusahaan menerapkan PMS dapat dipastikan unsur lama yang biasa menghinggapi BUMN dan BUMD yaitu kerja keras dan kerja malas gaji tetap sama, akan tersingkir dengan sendirinya. PMS dengan ukuran-ukuran yang telah disepakati akan mendorong setiap karyawan memberi kontribusi optimal kepada perusahaan, di mana perusahaan sendiri akan memberikan upah sesuai dengan kontribusi karyawan. Unsur suka - tidak suka akan berada di titik terendah, sehingga suasana kerja akan kondusif dan memacu karyawan untuk aktif.
Adapun membangun organisasi dan manajemen akan berhubungan dengan kaidah-kaidah bisnis kontemporer. Ancol dengan berbagai aset yang dimiliki serta berbagai peluang yang dipunyai harus dibangun oleh sistem manajemen modern. Tidak bisa lagi mengandalkan payung proteksi dari pemerintah daerah Jakarta di mana jika merugi bisa ditambal dengan dana APBD.
Sistem manajemen modern akan membuat organisasi perusahaan bergerak dinamis, tanggap menghadapi perubahan dan ditata dalam ukuran-ukuran jelas. Oleh karena itu, Budi Karya Sumadi mencanangkan berbagai macam pendekatan manajemen modern, seperti Six Sigma, strategi alih daya, teknologi informasi dan tentu saja pengembangan budaya perusahaan Ancol.
Ancol spektakuler sudah berada dalam jalur tepat. Dengan arsitek utamanya Budi Karya Sumadi, Ancol akan terus menghasilkan karya-karya spektakuler.
Jika Amerika memiliki Disneyland yang kemudian diekspor ke Prancis, Jepang, dan Hongkong. Maka Indonesia memiliki Ancol yang kelak bisa kita temukan di Vietnam, Philipina, Australia, India, Dubai dan banyak kota lainnya di seluruh penjuru dunia. Ini memang sebuah mimpi. Bukankah sebuah karya besar selalu dimulai dari mimpi?