• BMTR400
  • SDRA320
  • CTTH72
  • MNCN350
  • BMRI5200
  • BUMI2575
  • PGAS4075
  • TLKM8350
  • ASRI155
  • KIAS435
  • ADRO1900
  • ELTY255
  • ASIA106
  • BBTN1170
  • SULI225
  • LPKR530
  • BHIT830
  • VRNA95
  • BAYU173
  • INCO4225
Budi Frensidy

Peminjam-investor sama-sama untung

Jumat, 29/01/2010 07:46:15 WIBOleh: Budi Frensidy
Setelah ORI yang dikeluarkan pada 2006, sejak 25 Februari 2009, para investor bermodal kecil mempunyai alternatif investasi baru yaitu sukuk negara ritel (SRI) 001. Sukses dengan SRI 001 ini, SRI 002 bertenor 4 tahun dengan target Rp3 triliun kembali ditawarkan sejak 25 Januari lalu hingga 5 Februari nanti.

SRI adalah obligasi atau tepatnya surat berharga syariah negara (SBSN) yang dikeluarkan Pemerintah Indonesia untuk para investor kecil. Obligasi, selain saham, dewasa ini adalah alternatif investasi yang utama untuk investor sekaligus alternatif pembiayaan yang penting jika dilihat dari pihak penerbit.

Ketika sebuah perusahaan memerlukan sejumlah uang yang cukup besar untuk keperluan usahanya, perusahaan dahulu hanya mempunyai pilihan meminjamnya dari bank. Uang yang dipinjamkan bank pun sebagian besar bukan miliknya karena bank hanya sebagai perantara keuangan.

Untuk jasanya sebagai perantara keuangan, bank mendapatkan spread atau net interest margin sebesar 7% (14% - 7%). Selama pembiayaan ini tidak bisa dilakukan langsung oleh mereka yang membutuhkan kas dengan mereka yang memiliki kas, pinjaman bank menjadi satu-satunya pilihan seperti keadaan di Indonesia sekitar 30 tahun lalu.

Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin efisien dengan semakin banyak pilihan, peminjam berusaha untuk meminimumkan biaya bunga yang dibayarkan. Mereka yang memiliki uang pun berusaha untuk mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi untuk uangnya. Kedua keinginan ini dapat dipenuhi pada saat yang sama jika peranan bank sebagai perantara keuangan dihilangkan, sehingga pihak yang kelebihan uang dapat berhubungan langsung dengan pihak yang kekurangan uang.

Sebagai bukti, penerima dana mengeluarkan surat berharga yang disebut sukuk untuk diberikan kepada pemberi dana. Keunggulan utama pembiayaan langsung ini adalah kedua pihak diuntungkan. Peminjam atau pengguna dana lebih suka membayar 10% daripada 14% dan investor lebih suka menerima 10% daripada 7%.

Berdasarkan pemahaman ini, kita bisa mendefinisikan sukuk sebagai kontrak jangka panjang yang dikeluarkan penerima uang (emiten) kepada pemberi uang (investor). Karena sifatnya yang langsung tanpa melalui perantara keuangan, kita dapat memastikan imbal hasilnya akan lebih besar daripada bunga deposito tetapi akan lebih rendah daripada bunga pinjaman.

Pihak yang kekurangan uang (kas defisit) tidak hanya perusahaan, tetapi bisa pemerintah nasional atau pemerintah asing. Bagi pemerintah kita, penerbitan SUN, ORI, dan SRI adalah alternatif sumber pembiayaan untuk menyelesaikan permasalahan defisit anggaran negara.

Dengan keluarnya SRI seri 001 sebesar Rp5,6 triliun dengan imbal hasil 12% tahun lalu dan SRI 002 pada tahun ini, alternatif investasi untuk investor kecil bertambah. Minimal pembelian SRI adalah Rp5 juta dan kelipatannya.

Dulu, yang bisa menikmati manisnya keuntungan SUN hanyalah investor institusi seperti bank, perusahaan asuransi dan dana pensiun, serta investor individual kelas kakap. Pasalnya, untuk bisa ikut membeli obligasi, modalnya miliaran rupiah mengingat SUN umumnya diperjualbelikan di harga minimal Rp1 miliar. Sangat menarik bukan?

Sukuk atau deposito?

Dibandingkan dengan deposito, SRI memiliki kesamaan dan perbedaan. Kesamaannya adalah investor sama-sama mendapatkan imbal hasil pasti dan kena pajak penghasilan final. Jika pajak penghasilan atas bunga deposito 20%, pajak atas imbal hasil obligasi dan sukuk lebih rendah yaitu hanya 15%. Investor juga akan mendapatkan pembayaran sebesar nilai nominal deposito dan SRI pada tanggal jatuh tempo; dan memperoleh penjaminan atas nilai investasinya dalam deposito dan SRI. Nilai investasi awal dalam deposito dan SRI dijamin utuh dengan syarat dipegang hingga tanggal jatuh tempo. Enak dan aman bukan?

Jika investasi Anda selama ini adalah deposito, SRI 002 dengan imbal hasil 8,7% p.a. yang dibayarkan bulanan jelas lebih menarik, tetapi Anda perlu mewaspadai satu hal. Mengingat tenor sukuk ini adalah 4 tahun, jangan kaget jika harga pasar sukuk ritel Anda mengalami penurunan saat inflasi dan yield merambat naik mulai akhir tahun ini hingga tahun-tahun ke depan. Tentunya ini tidak menjadi masalah jika Anda berniat memegangnya hingga jatuh tempo hingga 2013. Anda masih berminat, silakan hubungi 18 agen penjual resmi SRI 002 yang terdiri atas 10 bank dan delapan perusahaan sekuritas. Selamat berinvestasi dalam sukuk.

Komentar

Kolom

Hak Cipta © 2007 - 2009 - PT Jurnalindo Aksara Grafika