A. M. Lilik Agung

Lima prinsip kepemimpinan

Jumat, 29/01/2010 07:47:10 WIBOleh: A. M. Lilik Agung
Petang menjelang malam. Di sekolah bisnis, di tengah kota Jakarta. Sambil menunggu sesi diskusi dimulai, kami mulai menyantap hidangan makan malam. Sepenggal petang tersebut merupakan kali pertama saya berjumpa dengan sosok pemimpin bersahaja; Michael Ruslim.

Tidak banyak yang kami bicarakan karena secara pribadi saya belum kenal dengan Michael Ruslim. Benar ada banyak petinggi PT Astra International (AI) yang akrab dengan saya. Justru dengan pucuk pimpinannya saya belum kenal.

Tidak lama Michael Ruslim memimpin AI. Baru pada Mei 2010 lusa genap 5 tahun Michael Ruslim memegang kemudi AI. Walaupun tidak lama, rekam jejak Michael Ruslim akan tertulis dengan tinta emas nan panjang.

Tidak saja pada AI, tetapi juga negeri ini. Di tengah masih masifnya praktik kolusi dan korupsi antara penguasa dan pengusaha, Michael Ruslim bisa berdiri dengan gagah untuk menolak semua praktik bisnis hitam.

Sebagai pemegang estafet kepemimpinan AI, Michael Ruslim mampu menjaga tradisi dan reputasi AI sebagai perusahaan yang selalu mengedepankan etika dan moral tanpa harus kehilangan kaidah-kaidah utama berbisnis.

Tidak mudah menjadi pemimpin puncak AI. Dalam sejarahnya setelah era William Soeryadjaja kemudian diganti para profesional seperti TP Rachmat, Rini Soewandi, dan Budi Setiadharma, para pemimpin ini menorehkan keberhasilan pada eranya masing-masing.

Benar bahwa yang dilakukan Michael Ruslim tak lain keluar dari bayang-bayang para pendahulunya. Untuk kemudian menjadi pribadi otentik tanpa harus meninggalkan nilai-nilai perusahaan yang telah menjadi pedoman perilaku seluruh pimpinan dan karyawan AI.

Selama memimpin AI ada lima strategi yang dilakukan oleh Michael Ruslim yang terkenal dengan nama 5 F. F pertama yaitu Focus. Ada 153 perusa-haan di bawah kendali AI dengan karyawan tetap lebih dari 131.000 orang. Aset yang dikuasi lebih dari Rp 100 triliun.

Dengan segala kebesaran tersebut menjadi sebuah keharusan apabila AI memfokuskan pada lini bisnis tertentu. Oleh Michael Ruslim lini bisnis AI dikelompokkan menjadi enam fokus utama, yaitu otomotif, perkebunan, pertambangan, infrastruktur, tehnologi informasi, dan keuangan.

Strategi fokus yang dijalankan oleh Michael Ruslim menunjukkan keberhasilan. Selama hampir 5 tahun kepemimpinan Michael Ruslim terjadi lonjakan penjualan dan laba perusahaan. Bahkan, ketika dunia dilanda krisis global, AI tetap membukukan keuntungan.

Jika pada 2007 laba bersih AI berada di angka Rp6,519 triliun, pada 2008 melonjak menjadi Rp9,191 triliun. Pun ketika pada 2009 banyak perusahaan rontok, AI tetap mampu mendulang laba di angka Rp7,1 triliun.

F kedua bernama Fast. Tidak salah bahwa 'cepat' menjadi ideologi pebisnis bila ingin memenangkan pasar. Dalam konteks AI ada tiga cepat hal yang pantas dicermati; cepat melakukan inovasi, cepat beradaptasi dengan perubahan, dan cepat menangani keluhan pelanggan.

Menyoal inovasi PTAI hampir selalu menjadi pelopornya. Dalam industri otomotif inovasi produk Toyota Kijang dan kemudian dilanjutkan dengan Avanza membuktikan bahwa AI selalu terdepan.

Tentang cepat beradaptasi dengan perubahan, lagi-lagi AI hampir selalu menjadi pelopor. Adaptasi ini tak lain implementasi sistem dan strategi dalam berbisnis. Alhasil banyak perusahaan di negeri ini menjadikan AI sebagai tempat berguru sekaligus pembanding (benchmarking) terbaik menyoal implementasi sistem dan strategi bisnis baru.

Berbicara tentang cepat menangani keluhan pelanggan, tak ayal AI menjadi barometer. Bahkan, sebelum timbul keluhan AI sudah mengantisipasi jauh-jauh hari. Melakukan perbaikan rutin ke Auto 2000 akan mengeluarkan biaya lebih mahal ketimbang melakukan perbaikan ke bengkel lain.

Namun, mengapa tetap saja pelanggan antre untuk memperbaiki mobilnya di Auto 2000? Tak lain karena kepuasan pelanggan menjadi paradigma seluruh karyawan Auto 2000. Bukan sekadar retorika melainkan miskin tindakan.

Luwes

F ketiga ialah Flexible. Ada paradoks antara cepat dan fleksibel. Pada satu sisi kecepatan menjadi idiologi, tetapi pada sisi lain fleksibilitas mendapat tempat. Di sinilah peran pemimpin menjadi sentral untuk berdiri sama tegak di antara sisi cepat dan fleksibel.

Pada konteks ini Michael Ruslim menunjukkan kebesaran kepemimpinannya. Dengan sebuah cara nan sederhana; pendelegasian tugas kepada para bawahannya. Benar bahwa inovasi, sistem, strategi, dan pelayanan kepada pelanggan harus cepat dilaksanakan. Namun, para bawahannya jauh lebih tahu kondisi lapangan. Pelaksanaan cepat ini kemudian dibungkus dengan cita rasa fleksibel oleh para bawahannya.

F keempat berjejuluk Friendly. Ecogreen inilah sebuah konsep baru berbisnis yang sedang popu-ler. Intinya dalam berbisnis harus peduli dengan lingkungan. Tak salah bahwa perusak utama lingkungan lokomotifnya adalah dunia usaha.

Menjadi sebuah kewajiban jika kemudian dunia usaha menjadi pelopor utama penghijauan lingkungan. Bersahabat dengan lingkungan ini kemudian menjadi salah satu kebijakan yang dipopulerkan oleh Michael Ruslim. Rentang panjang lini bisnis AI dengan berbagai ma-cam industri yang dikelola dalam operasional semua tidak boleh merusak lingkungan.

F terakhir, kelima ,yakni Fair. Adil kepada sia-pa? Tentu pertama harus adil kepada pemegang saham. Kemudian kepada karyawan. Dilanjutkan kepada pelanggan dan pemasok. Lalu berujung pada semua pihak yang berkepentingan dengan AI.

Menyoal adil ini Michael Ruslim layak menda-pat piala citra. Tindakan adil yang dilakukan oleh Michael Ruslim tidak sekadar kepada pihak-pihak seperti disebut di atas. Michael Ruslim me-langkah jauh untuk bertindak adil ke-pada negeri yang membesarkannya: Indonesia.

Program "SATU Indonesia" (Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia) yang digelorakan tepat pada hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2009 tak lain ingin menunjukkan bahwa AI dalam berbisnis harus adil terhadap negerinya.

Rabu 20 Januari 2010. Matahari belum utuh menyinari bumi. Di angkasa awan mendung berarak. Terdengar kabar duka. Michael Ruslim dipanggil Sang Maha Kuasa pada umur yang masih produktif, 56 tahun. Negeri ini berduka. Kehilangan salah satu putra terbaiknya. Selamat jalan, Pak Michael. Nirwana sudah menanti Bapak.

Komentar

Kolom

Hak Cipta © 2007 - 2009 - PT Jurnalindo Aksara Grafika