Bisnis Indonesia Online » Kolom
Kolom - Detail
Jumat, 04/01/2008 13:08 WIB
ETF, mainan baru pasar modal
oleh : Budi Frensidy
Staf Pengajar FEUI dan Penulis Buku
Salah satu daya tarik saham adalah investor dapat meminimalkan risiko nonsistematis melalui diversifikasi. Tidak mengherankan jika manajer investasi (MI) reksa dana saham menerapkannya dengan mengoleksi belasan hingga dua puluhan atau lebih saham dalam portofolionya.
Dengan dana kelolaan miliaran rupiah, MI mudah saja untuk melakukan diversifikasi. Tidak demikian halnya dengan investor individu yang umumnya bermodalkan puluhan juta rupiah. Dengan dana pas-pasan, investor individu yang ingin menikmati manfaat diversifikasi hanya mempunyai pilihan reksa dana saham. Untungnya kini sudah ada ETF (exchange-traded fund). Dengan modal hanya Rp300.000 (1 lot), seorang investor saham langsung di BEI saat ini sudah dapat melakukannya.
Dengan diperdagangkannya ETF berbasis Indeks LQ-45 dengan kode R-LQ45X mulai 18 Desember 2007 lalu, investor saham mempunyai alternatif investasi baru. Tanpa melalui reksa dana saham, diversifikasi sekarang dapat dengan mudah dilakukan, dan dengan biaya yang rendah pula. Apa itu ETF LQ-45 dan bedanya dengan reksa dana saham serta apa keunggulan dan risikonya?
Sejak 1990
ETF LQ-45 adalah produk reksa dana terbuka yang berbasis Indeks LQ-45 yang unit penyertaannya diperdagangkan seperti saham di BEI. Untuk pertama kalinya, ETF LQ-45 dari PT Indo Premier Securities diperdagangkan di BEI pada 18 Desember 2007, bersamaan dengan ETF berbasis indeks obligasi R-ABFII yang diluncurkan Bahana TCW Investment Management.
Di tingkat dunia, ETF pertama kali diperdagangkan di Kanada pada 1990 yaitu TIPS (Toronto Index Participation Share). Di Amerika, ETF berbasis Indeks S & P 500 diperdagangkan di Amex mulai 1993 yaitu Spider (Standard & Poor's Depository Receipts) dengan kode SPDR. Sejak saat itu ETF berkembang sangat pesat dan pada awal 2006, jumlah ETF di Amerika sudah mencapai 200 buah dengan dana kelolaan US$300 miliar.
Tujuan diluncurkannya ETF LQ-45 di BEI adalah memberikan kesempatan kepada siapa pun terutama investor kecil dan investor pemula untuk memperoleh hasil investasi yang setara dengan kinerja Indeks LQ-45. MI dari ETF LQ-45 sudah membeli 45 saham LQ-45 berdasarkan bobot masing-masing saham dalam Indeks LQ-45. Mereka kemudian menawarkan unit penyertaan dalam portofolio itu kepada para investor dalam bentuk saham.
Keunggulan
Sama seperti reksa dana saham lain, ETF LQ-45 yang terdiri atas 45 saham itu dapat diperjual-belikan. Bedanya, investor dalam ETF tidak perlu membayar subscription dan redemption fee sebesar 1%-3% tetapi cukup biaya transaksi 0,19%-0,3% untuk membeli dan 0,29%-0,4% saat menjualnya.
Selain biaya transaksi yang jauh lebih rendah, keunggulan ETF adalah transparansi. Dalam reksa dana saham konvensional, nilai aktiva bersih (NAB) akan dihitung pada sore hari setelah bursa tutup dan dapat diketahui esok harinya.
Umumnya NAB akan naik (turun) jika indeks saham naik (turun) tetapi berapa besar naik dan turunnya NAB sebuah reksa dana saham masih tanda tanya besar karena kita tidak tahu persis portofolio reksa dana saham tersebut setiap harinya.
Kita hanya mendapatkan informasi mengenai 10 saham utama kemarin (satu hari sebelum hari ini) dari suatu reksa dana saham. Bagaimana komposisi portofolio saham hari ini dan persentasenya secara tepat tidak dapat diakses dengan mudah. Sedangkan ETF LQ-45 adalah sangat transparan karena nilainya adalah sekitar Indeks LQ-45 yang setiap saat kita ketahui. Contohnya, saat diperdagangkan pertama kalinya, R-LQ45X berharga 581-586 karena Indeks LQ-45 hari itu bergerak di sekitar angka itu.
Perbedaan lain ETF LQ-45 dan reksa dana saham konvensional adalah dividen dalam reksa dana saham konvensional selalu direinvestasikan sedangkan dalam ETF LQ-45 yang diluncurkan Indo Premier bulan lalu, dividen akan dibagikan setiap semester, jika ada. Dalam 5 tahun terakhir, besar dividend yield tahunan ini cukup besar yaitu berkisar antara 3,37% - 5,88% atau rata-rata 4,58%.
Risiko
Pertama, sama seperti reksa dana saham lainnya, investasi dalam ETF LQ-45 menghadapi risiko pasar yaitu fluktuasi harga saham karena faktor ekonomi makro seperti suku bunga dan nilai tukar, dan faktor stabilitas politik.
Kedua, jika MI reksa dana saham konvensional melakukan stock picking (selection) untuk portofolionya, MI ETF LQ-45 tidak melakukan strategi aktif itu tetapi strategi pasif. Di satu sisi, strategi pasif menghemat biaya transaksi jual-beli saham untuk portofolio.
Di sisi lain, strategi ini juga mempunyai kelemahan. Saham apa pun yang ada dalam Indeks LQ-45 juga harus ada dalam keranjang saham ETF LQ-45 sebesar bobot saham itu dalam Indeks LQ-45 itu. Kita tahu kalau tidak semua saham dalam LQ-45 adalah saham layak koleksi.
Ketiga, investor dalam ETF tidak selalu dapat menjual saham ETF-nya pada harga yang diinginkan. Investor ETF harus siap menghadapi risiko likuiditas ini dan kerugian akibat selisih harga bid-ask. Namun untuk ETF-LQ45X, Anda tidak perlu khawatir karena Bapepam sudah meminta MI (Indo Premier) untuk bersedia menjadi market maker bersama dengan Sinarmas Sekuritas. Kedua perusahaan ini akan siap menjadi pembeli dan penjual stand-by demi terciptanya likuiditas dan menekan ask-bid spread serendah mungkin yaitu hanya Rp1 per saham ETF.
Memahami plus-minus ETF LQ-45 di atas, Anda masih ragu membeli R-LQ45X? Kebetulan saya sempat membelinya pada harga Rp582 pada 18 Desember dan pada 28 Desember lalu harganya sudah naik menjadi Rp596 (2,41%) dalam 10 hari. Lumayan, kan? Dibandingkan dengan reksa dana saham konvensional, ETF memang lebih menarik sehingga sangat cocok untuk investor pemula dan investor dengan dana ngepas yang ingin berinvestasi langsung sekaligus ingin menikmati manfaat diversifikasi.
bisnis.com
Kolom »
Kecerdasan bawah sadar
Anthony Dio Martin
Trainer, Speaker, EQ Motivator ahli psikologi, pakar NLP, Hypnotherapist
Kepemimpinan spektakuler
A. M. Lilik Agung
Trainer dan Pembicara Publik
Berkelit dari rumitnya bisnis wisata
Amalia E. Maulana
Director, Etnomark Consulting
Rugi yang dibatasi, bukan untung
Budi Frensidy
Staf pengajar FEUI dan penulis buku
Investasi tradisional bisa jadi pilihan
Eko Endarto
Financial Planner Finansia Consulting
Spirituality@Work
Arvan Pradiansyah
Managing Director ILM, penulis buku best seller The 7 Laws of Happiness
Komentar
#4 - jawaban redaksi
Untuk Bapak Andy, berikut adalah jawaban pertanyaan Anda dari penulisnya Budi Frensidy: 1. Cara membeli ETF yang berbasis Indeks LQ-45 itu (dengan kode saham R-LQ45X) adalah seperti membeli saham biasa yaitu melalui Bursa Efek Indonesia (BEI) yang buka setiap hari kerja (Senin-Jumat) dari pukul 09.30-12.00 dan 13.30-16.00 untuk Senin-Kamis. Khusus Jumat, jam perdagangan adalah 09.30-11.30 dan 14.00-16.00. Mereka yang tidak mempunyai account di salah satu anggota bursa (AB) harus membukanya terlebih dahulu agar bisa bertransaksi saham dengan mengisi beberapa form dan foto-copy KTP serta mentransfer sejumlah uang ke rekening bank dari perusahaan sekuritas atau AB itu. Jumlah uang minimum yang harus ditransfer bervariasi antar satu AB dengan AB lain, umumnya sekitar Rp20 juta. Beberapa hari setelah penyetoran dan pengisian form itu, seorang investor sudah dapat melakukan transaksi semua saham (ada sekitar 382 saham), rights, warrants, yang diperdagangkan di BEI. Pada awal perdagangan di pagi hari sekitar pukul 10 tanggal 18 Desember 2007 lalu, ETF bisa dibeli pada harga 581 dan hari ini tepatnya pada penutupan sesi pagi jam 12 tadi, harganya sudah 607 sedangkan Indeks LQ-45 sendiri pada jam yang sama berada di angka 609,90. 2. Untuk mengetahui NAB-nya adalah dengan terus mengikuti Indeks LQ-45 itu yang bergerak dan berubah setiap ada perubahan harga perdagangan saham-saham LQ-45 itu. Di koran, di internet yang gratis seperti finance.yahoo.com, Indeks LQ-45 itu dapat kita ketahui yaitu dengan mengetik kode ^JKLQ45. Harga transaksi terakhir dari R-LQ45X juga dapat diikuti dari finance.yahoo.com dengan mengetikkan R-LQ45X.JK. Di koran pun esok akan ada informasi mengenai transaksi saham R-LQ$%X itu dan Indeks LQ45 penutupan hari ini atau ringkasan pergerakan indeks dan perdagangan saham sehari sebelumnya. 3. IHSG dan Indeks LQ-45 berbeda karena IHSG adalah indeks gabungan dari sekitar 382 saham berdasarkan nilai kapitalisasi pasarnya sedangkan Indeks LQ-45 dihitung hanya berdasarkan 45 saham terlikuid (dengan bobot berdasarkan kapitalisasi pasarnya juga) yang diumumkan setiap 6 bulan sekali. tetapi keduanya berhubungan lurus karena bobot dari 45 saham terlikuid itu dalam IHSG adalah sekitar 80%. Bobot sisanya yaitu 20% adalah untuk sekitar 337 saham lainnya. Saham-saham apa saja yang masuk dalam 45 saham terlikuid saat ini bisa ditanyakan ke perusahaan sekuritas tempat Anda menjadi nasabah. Yang pasti ada Telkom, Astra, Bank BCA, Bank Mandiri, PGAS, AALI, PTBA, TINS, BUMI, INCO, dan 35 lainnya yang saya tidak hafal. Jika kita percaya indeks akan naik (IHSG atau Indeks LQ-45) akan naik, tetapi kita tidak tahu pasti saham apa yang akan menyebabkan kenaikan itu, beli produk ETF adalah solusinya. Jika IHSG atau Indeks LQ-45 turun, nilai portofolio Anda tentunya juga akan turun. Terima kasih. salam, Redaksi
Redaksi - Jakarta/Indonesia @ 09/01/2008 - 12:22 WIB dari 202.158.42.30 (202.158.42.30)
#3 - unit ETF
Bagaimana cara utk membelinya ? bagaimana mengetahi NAB ETF ? apakah cukup melalui IHSG di koran ? atau harus mencari di internet ?
andy - jakarta / indonesia @ 07/01/2008 - 17:04 WIB dari 202.73.111.143 (B6-CBN-SOHO-111-143.kabelvision.com)
#2 - ETF mainan baru pasar modal
Bagaimana cara membeli dan persyaratannya (menjual kembali)
arif - Medan/Indonesia @ 05/01/2008 - 09:05 WIB dari 61.94.250.68 (61.94.250.68)
#1 - Cara Membeli ETF
Bagaimana caranya membeli produk ETF ini ?
Cornelius - Jakarta @ 04/01/2008 - 23:19 WIB dari 202.47.75.28 (202.47.75.28)