Pasar calon Gubernur Bank Indonesia (BI) semakin semarak. Maklum, 17 Februari adalah batas akhir Presiden memasukkan nama kandidat ke DPR setelah menerima masukan dari para pembantu serta dari kalangan internal bank sentral.
Sejumlah nama sudah muncul ke permukaan, tentu dengan segala plus dan minusnya. Nama besar seperti Burhanuddin Abdullah, Aulia Pohan, Miranda Swaray Goeltom, Anwar Nasution, yang merupakan empat seteru disebut-sebut akan masuk di pasar Gubernur BI. Di samping juga dua nama Deputi Gubernur BI Hartadi A. Sarwono dan Muliaman D. Hadad.
Selain itu dari luar muncul nama Dirut Bank Mandiri Agus Martowardojo, Menko Perekonomian Boediono dan Menkeu Sri Mulyani. Nama-nama tersebut merupakan yang dijagokan bakal menjadi pimpinan puncak di bank sentral.
Plus minus
Sudah menjadi pengetahuan umum Burhanuddin Abdullah yang kini menjabat sebagai Gubernur BI merupakan tokoh yang tenang, cermat, dan stabil. Dia membawa iklim stabilitas yang berkelanjutan di bank sentral, dan itu berdampak langsung terhadap besaran makro nasional. Hanya saja Burhanuddin tengah berperkara dan jadi tersangka dalam kasus aliran dana BI Rp100 miliar.
Kendati berpeluang, bankir terbaik di antara bankir-bankir bank sentral dunia ini, kecil harapannya untuk dicalonkan kembali oleh Presiden untuk yang kedua kalinya.
Aulia Pohan yang pernah menjabat sebagai Deputi Gubernur BI dimasa peralihan Syahril Sabirin dan Burhanuddin, merupakan sosok yang ceplas-ceplos. Lobinya yang kuat di DPR, ditambah rekam jejaknya yang baik membuka peluang untuk menduduki jabatan itu.
Faktor kekerabatannya dengan Presiden SBY, sebagai besan, akan menjadi faktor positif sekaligus negatif. Positifnya, pencalonan Gubernur BI diusulkan langsung oleh Presiden kepada DPR. Sebagai orang dekat Cikeas tentu sangat mudah bagi Presiden memasukkan namanya.
Pada saat yang sama, justru menjadi resisten terhadap program pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Pencalonan Aulia bisa dipojokkan dengan isu nepotisme. Aulia juga sedang mengikuti proses pemeriksaan dalam kasus aliran dana BI.
Miranda Swaray Goeltom merupakan wanita karir yang sukses, di bawah didikan langsung mantan Menko Ekuin Saleh Affif, wanita Batak yang cerdas ini dititipkan ke Bank Indonesia. Karirnya makin cemerlang setelah di BI, secara berturut-turut menjabat sebagai Deputi Gubernur dan kini Deputi Gubernur Senior. Kepakarannya di bidang moneter diperkirakan dapat mengantarkannya ke kursi BI1.
Namun rekam jejaknya yang pernah gagal menduduki jabatan Gubernur BI karena hembusan isu permainan Sertifikat Bank Indonesia (SBI), bisa terulang pada periode ini. Walaupun tekadnya kuat, isu ini bisa dibangkitkan lagi oleh lawan politiknya. Perannya dalam kasus aliran dana BI juga menjadi faktor pengurang kredibilitasnya.
Anwar Nasution merupakan sosok pejabat, juga mantan pengamat, yang tegas. Gaya bicaranya yang blak-blakan dengan keberaniannya yang tak terbendung, membuat lelaki kelahiran Sipirok, Sumut, ini berpeluang besar. Lelaki yang terkenal pernyataannya "BI sebagai sarang penyamun", ini pernah menduduki jabatan sebagai Deputi Gubernur Senior.
Hanya saja, ketegasannya yang berlebihan bisa menjadi faktor negatif karena besaran makro bisa gunjang-ganjing, suatu sifat yang bertentangan dengan yang dibutuhkan seorang Gubernur BI. Keikutsertaan Anwar dalam kasus aliran dana BI pada awal dana mengucur sebesar Rp25 miliar, juga akan menjadi faktor pengurang daya tariknya.
Deputi Gubernur BI Hartadi A. Sarwono merupakan pejabat deputi gubernur yang paling senior, walau dari segi usia ada yang lebih senior seperti Ardhayadi dan Budi Rochadi. Keseriusannya membuat dia dipercaya untuk posisi yang strategis untuk mengendalikan moneter. Lelaki yang rambutnya mulai memutih ini dibekali pendidikan yang memadai.
Namun sikapnya yang pendiam dan kurang bergaul diperkirakan mengurangi daya tariknya, terutama terhadap pers Hartadi terbilang sebagai pejabat yang tertutup. Sikap tenangnya memang dapat menjadi modal, tapi itu dapat menjadi bumerang karena beratnya tantangan Gubernur BI.
Muliaman D. Hadad mungkin kandidat yang paling muda. Dia Deputi Gubernur BI yang cerdas, bersemangat, dan berlatar pendidikan memadai. Bedanya, Hartadi lebih banyak berkecimpung di bidang moneter.
Kelebihan Muliaman dari Hartadi adalah, lelaki yang mudah senyum itu akrab dengan wartawan dan politisi, sehingga faktor PR yang bagus dan bisa melejitkan namanya.
Hanya saja, Sekjen ISEI ini dianggap terlalu muda untuk jabatan Gubernur BI. Di usianya yang ke-48, bila dia terpilih dikhawatirkan kurang mendapat topangan kematangan dalam mengambil keputusan. Kendati back up support di BI cukup kuat, tampaknya bakat Muliaman perlu diuji untuk menduduki jabatan di BI1.
Sementara Boediono yang saat ini menjabat sebagai penentu kebijakan ekonomi pemerintah (Menko Perekonomian), di masa Presiden Megawati Soekarnoputri juga pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan.
Jauh sebelum itu Boediono pernah menjabat sebagai Direktur Moneter di BI. Kelengkapan pengalaman di bidang fiskal dan moneter serta dukungan kredibilitasnya yang mapan bisa mengantarkannya sebagai Gubernur BI.
Kendati nyaris tak pernah terlibat masalah dan jebakan resistensi, namun kedekatan kebijakannya dengan Dana Moneter Internasional (IMF) dapat menjadi batu sandungan bagi lelaki Jawa yang kalem ini. Ketundukannya kepada IMF benar-benar tak dapat disembunyikan, bisa saja akan menjadi batu sandungan buatnya.
Calon terakhir, Sri Mulyani Indrawati faham moneter ini memiliki peluang cukup besar. Walau saat ini mendapat amanah mengendalikan fiskal, tapi doktor ini diperkirakan membawa wajah bank sentral lebih semarak, maju dan berani. Kemampuannya bicara di depan publik internasional juga menjadi poin positif.
Faktor kedekatan \'Mbak Ani\', begitu dia kerap disapa, dengan IMF akan menjadi batu sandungan. Sri Mulyani sempat menjadi Direktur IMF untuk Kawasan Asia Pasifik, sebuah penegasan tidak hanya dekat, tapi juga menjadi bagian IMF.
IMF sering diidiomkan negatif karena resepnya kepada Indonesia di masa krisis justru menjerumuskan negeri ini ke kubangan yang lebih dalam.
Program yang jelas
Melihat tantangan yang berat, seorang Gubernur BI haruslah memiliki program yang in line dengan masalah kekinian. Di mana terjadi global imbalance, ketidakseimbangan global, di mana sebaran harga yang semakin tak bisa dikendalikan. Terutama tingginya harga perumahan di AS, sehingga menyulitkan para nasabah dan perbankan di negeri Paman Sam yang berujung pada krisis subprime mortgage.
Rambatan inflasi yang cenderung naik seiring semakin tingginya harga minyak dunia, juga merupakan agenda yang harus menjadi perhatian calon Gubernur BI. Terutama bagaimana dampak inflasi yang segera membawa Amerika ke dalam black hole (kubangan krisis), kemudian merambat ke Jepang, China, India dan Eropa, bisa dieleminasi dampaknya di Indonesia.
Program itu menjadi catatan yang menjadi keharusan untuk diperhatikan sang kandidat. Yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana mensinergikan otoritas moneter dan otoritas fiskal dalam sebuah irama kebijakan yang harmonis, yang selama masa lima tahun yang lalu berhasil dipadankan, menjadi keharusan yang terhindarkan pada masa gubernur berikutnya.
Terkait dengan besarnya dana perbankan yang parkir di SBI hingga di atas Rp200 triliun, Gubernur BI mendatang harus mampu menstimulasi dana pasif tersebut ke sektor riil. Terutama sektor UMKM maupun perumahan rakyat serta jalan tol melalui skema yang aman dan cerdas.
Terkait dengan harmonisasi fiskal dan moneter sudah menjadi kartu mati yang tak bisa ditawar-tawar. Gubernur BI mendatang harus mampu mengoptimalkan harmonisasi fiskal dan moneter ke arah yang lebih kondusif bagi terciptanya peluang usaha.
Tidak seperti sekarang, pengusaha seperti dicegat oleh tingginya harga, naiknya BBM, turunnya daya beli, dan meningkatnya ketidakpastian.
Di tangan Presiden
Lepas dari plus dan minus para kandidat, semua berpulang dari prerogratif Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden nantinya akan mengusulkan tiga dari sembilan nama kepada DPR. DPR melakukan fit and proper test, sehingga muncullah satu nama yang layak menduduki posisi puncak bank sentral itu.
Menurut rencana, Presiden paling lambat akan mengajukan tiga nama itu ke DPR pada 17 Februari. DPR kemudian memprosesnya dan paling lambat pada pertengahan Mei sudah muncul nama calon Gubernur BI terpilih.
Ada tiga spekulasi tiga nama yang bakal diusulkan Presiden dengan formasi dua dari dalam dan satu dari luar BI.
Pertama, Aulia, Hartadi dan Boediono.
Kedua, Hartadi, Muliaman dan Sri Mulyani.
Ketiga, Muliaman, Miranda dan Sri Mulyani.
Bank sentral di negara-negara maju tak ada yang gubernurnya berasal dari birokrat, karena posisi bank sentral independen. Jika dari birokrat, maka gaya kepemimpinannya diwarnai, kalau tidak bisa disebut dikooptasi, oleh penguasa.
Itu sebabnya kredibilitas bank sentral di negara-negara maju sangat terjaga baik dari segi latar belakang pendidikan, pengalaman, kedekatan dengan birokrasi pemerintah, bahkan dari unsur parpol sekalipun. Loyalitas seorang pejabat bank sentral adalah pada upaya penciptaan stabilitas makro dan bukan pada pemerintah, parpol ataupun kelompok tertentu.
Manakah dari ketiga formasi tersebut yang bakal dicalonkan Presiden? Dan manakah dari nama-nama di atas yang akan masuk sebagai Gubernur BI? Semua berpulang pada kejelian DPR dalam melakukan uji kepatutan dan kalayakan terhadap para kandidat tersebut. Semoga BI dipimpin oleh orang yang kredibel, cerdas, bergaul, dan yang terpenting berakhlak mulia.