Bisnis Indonesia Online » Konsultasi
Konsultasi - Detail
Anthony Dio Martin
Director HR Excellency
Pemimpin cemas di perusahaan 'keturunan'
Tanya :
Dear Bapak Anthony.
Saya AG, seorang sarjana hukum dan saat ini bekerja sebagai staf di Bag.General Affair di PT. X. Saya termasuk orang yang senang berkembang. Salah satu cara saya berkembang adalah dengan banyak membaca. Salah satunya adalah rubrik motivasi ini.
Pak, saya merupakan new comer di tempat saya bekerja. Umur saya saat ini 30 tahun, saya bercita-cita ingin mencapai posisi lebih baik lagi dari posisi saat ini, misalnya assisten manager atau manager. Saya membawahi ob (office boy), satpam, operator, dan supir yang keseluruhan 20 orang dan kebanyakan sudah berumur lebih dari 30 tahun.
Bagaimana saya dapat memimpin mereka supaya menjadi atasan yang disegani, bukan ditakuti? Perusahaan tempat saya bekerja saat ini adalah perusahaan keluarga dan maaf pak saya melihat dan mendengar untuk posisi tersebut hanya diisi warga keturunan. Inilah masalah saya.
Bagaimana cara saya dapat berkembang lebih untuk dapat mencapai cita-cita saya? Pendekatan bagaimana ke atasan saya, bahwa saya capable untuk dipromosikan kelak, tanpa di cap sebagai carmuk? Mungkin Bapak berkenan membantu memberi motivasi atau komentar atas masalah saya. Terima kasih Bapak berkenan membaca email saya.
Hormat saya,
AG
Jawaban
Dear Mas AG,
Ingatlah Mas AG, persepsi orang lain tidak harus menjadi kenyataan bagi Anda. Jika orang lain mengatakan "Anda bodoh", tidak berarti itu harus menjadi realita bagi Anda. Jika orang lain mengatakan bahwa "Dunia ini kejam", tidak berarti itu harus berlaku bagi Anda.
Orang membangun persepsi dan kita bisa mengambil hikmah dari persepsi orang lain, tetapi tidak berarti Anda harus menerimanya. Banyak orang yang gagal gara-gara hal sepele ini, yakni terlalu mendengarkan lalu menjadikan persepsi orang lain sebagai kenyataan dalam hidupnya.
Mas AG, orang sukses membangun 'realitanya' sendiri. Ingat kejadian waktu guru Fred Smith memberinya nilai buruk untuk tugas rencana bisnis dengan jasa pengantaran semalam. Fred Smith diminta mengubahnya dan dia bisa mendapatkan nilai lebih baik kalau dia rela mengoreksi tugasnya tersebut.
Fred Smith menolak. Dalam hatinya, Fred Smith bilang, "Bapak simpan nilai buruk itu dan saya akan simpan mimpi saya". Akhirnya, Fred Smith menang. Dialah pelopor Federal Expres, jasa pengantaran satu malam.
Apa pelajarannya bagi kita? Persepsi orang lain bisa salah. Nah, sekarang marilah dengan perspektif tersebut kita bedah kasus Anda. Dalam permasalahan Anda, kalau mereka mengatakan bahwa hanya orang keturunan yang berhasil di perusahaan Anda, bisa jadi benar bisa juga tidak, tetapi bagi saya, justru itulah yang menarik untuk diperjuangkan.
Kalau Anda berhasil, Anda bisa menjadi orang 'pribumi ' (terus terang saya sendiri tidak suka dengan sebutan ini) yang berhasil di sana. Dan saya mengenal banyak sekali orang-orang pribumi yang menjadi direksi di antara kerumunan para keturunan. Begitupun sebaliknya.
Terus terang saja, sekarang ini memiliki pemimpin pribumi dalam perusahaan keturunan, ataupun menjadikan warga keturunan sebagai pemimpin dalam perusahaan pribumi, justru memiliki nilai yang strategis buat perusahaan. Mengapa? Karena perusahaan tidak ingin kelihatan diskriminatif dan rasialis.
Karena itu, sebenarnya ada alasan yang mendalam bagi perusahaan keturunan untuk memiliki pemimpin pribumi, begitu pun perusahaan pribumi saat ini tidak sungkan-sungkan lagi mengangkat pemimpin keturunan. Jadi, sebenarnya tidak benar sama sekali kalau dikatakan bahwa tidak ada peluang sama sekali. Bahkan, nilainya sangat strategis.
Tentu saja, saya lebih tertarik bahwa akhirnya kita diangkat menjadi pemimpin karena kemampuan dan karakter kita yang baik, bukan karena masalah 'kulit' kita. Dan saya pikir itulah yang harus diperjuangkan Anda saat ini. Justru buktikan bahwa Anda memiliki integritas, serta selalu mau berkontribusi lebih. Itulah, dua kata kunci penting untuk sukses Anda saat ini: integritas dan kontribusi.
Laporkan perkembangan pekerjaan Anda secara berkala, sehingga atasan Anda selalu tahu bahwa ada kemajuan dalam pekerjaan dan lakukanlah dengan cepat dan tuntas. Jangan menunda-nunda jika disuruh melakukan sesuatu. Percayalah, lama kelamaan, dengan sikap seperti ini Anda akan mengajari pimpinan Anda (yang keturunan tersebut) bahwa Anda adalah karyawan yang pantas untuk diperhitungkan, meskipun kulit Anda beda.
Saya sendiri yakin, jika atasan dan manajemen Anda berkualitas, mereka tidak mungkin buta dengan kemampuan Anda dan menghambat Anda hanya gara-gara masalah ras. Masalahnya, sudah tidak zamannya lagi bicara soal ras dalam era ekonomi sekarang ini.
Akhirnya, tentu saja tidak tertutup kemungkinan bahwa apa yang dikatakan orang bahwa manajemen hanya mengangkat orang keturunan tersebut benar. Lalu, apa yang bisa Anda lakukan? Kalaupun iya, jangan banyak terpengaruh dan lemah semangat. Belajarlah untuk selalu total dalam bekerja. Kalau tidak, mendingan tidak usah sama sekali. Artinya, tetaplah fokuskan apa yang Anda kerjakan sebaik-baiknya.
Kalaupun akhirnya, beberapa tahun ke depan Anda melihat bahwa manajemen kelihatannya sama sekali tidak memberikan apresiasi atas apa yang Anda kontribusikan, mungkin Anda bisa mencari ke tempat lain. Namun, jangan sampai gara-gara orang mengatakan perusahaan Anda hanya senang dengan warga keturunan, lantas Anda pun jadi patah semangat.
Itulah tantangan Anda yang menarik. Anda harus mencoba dan buktikan dulu, baru boleh menyimpulkan. Kalau terbukti bahwa manajemen sama sekali tidak menghargai Anda, barulah pantas Anda meninggalkan perusahaan seperti itu. Dan rasanya perusahaan yang tidak mampu melihat kemampuan dan kontribusi maksimal stafnya tidak layak menjadi tempat untuk meniti karier. Namun, Anda sendiri harus mulai dulu dari yang positif.
Lalu, soal tip terakhir menjadi pemimpin yang berpengaruh, bangunlah hubungan emosional yang baik dengan teman-teman yang Anda pimpin. Oleh karena mereka lebih senior usianya, jangan sok memimpin tetapi usahakan mengajak mereka dengan tabungan emosi yang baik.
Kadang kita harus mendengarkan dan beri kesempatan untuk berbaur dengan mereka. Menjadi teman yang baik bagi mereka, tetapi pelan-pelan mengarahkan mereka. Pada akhirnya, Anda akan diterima dengan baik dan disayangi sebagai pemimpin, sekaligus dihormati. Saya sendiri telah membuktikannya dalam karier saya. Rekan-rekan ber-'kerah biru' seringkali mudah untuk dipimpin asalkan Anda mengerti bagaimana menyentuh 'tombol hati' mereka secara tepat.
bisnis.com
Konsultasi »
Histeria
Yul Iskandar
Psikiater
Susah makan nasi
Dadang Arief Primana
Dokter Spesialis Gizi Klinik dan Kedokteran Olahraga
Barang bersifat strategis yang bebas PPN
Rachmanto Surahmat
Tax Partner, Purwantono, Sarwoko & Sandjaja Consult
Wakil pimpinan suka marah-marah
Anthony Dio Martin
Director HR Excellency
Somnabulisme
Yul Iskandar
Psikiater
Memilih suplemen
Dadang Arief Primana
Dokter Spesialis Gizi Klinik dan Kedokteran Olahraga
Komentar
#5 - takut diskriminasi
Betul, era ekonomi sekarang, pemisahan pribumi dan keturunan sudah mulai tidak ada (minim). Juga saya alami sekarang di perusahaan perseorangan. Karyawan-karyawan pribumipun sejak tahun 90an diberi kesempatan untuk belajar dan bisa menapak beberapa posisi kepala. Bahwa pembedaan pri dan non-pri masih terjadi di beberapa perusahaan "pribadi", tidak tertutup kemungkinan. Karena kenyataannya, Negara sekalipun (yang adalah milik bersama) dalam undang-undang dan apalagi dalam praktiknya masih sangat diskriminatif (soal PNS, TNI, jatah pendidikan, catatan sipil, dll). Padahal, dari Negaralah (UU dan Pemerintahnya) seharusnya kesetaraan itu harus bermula (jangan menuntut rakyatnya dulu). Bravo Indonesia
anton - bandung @ 17/04/2008 - 15:47 WIB dari 124.153.24.5 (124.153.24.5)
#4 - Pemimpin cemas di perusahaan 'keturunan'
Benar yang disarankan oleh Bpk. Anthony : Jalani dulu beberapa bulan atau tahun sambil mempelajari situasi dan mencari kesempatan yang bagus untuk menunjukkan siapa diri kita sebenarnya. Jangan lupa untuk selalu menambah ilmu dan wawasan berpikir kita atau kalau ingin lebih mandiri bisa berwiraswasta sendiri sekaligus menyalurkan hobi seperti yang ingin saya rintis di <a href="http://win4net.googlepages.com/">SINI</a> yang merupakan hobi baru saya.
Wahju Diono - Kediri/Indonesia @ 10/04/2008 - 19:42 WIB dari 125.164.236.16 (16.subnet125-164-236.speedy.telkom.net.id)
#3 - perusahaan keturunan
Saya hormat utk pekerja keras dari bawah karena saya percaya pada prosesnya bukan hasilnya semata. Saya pun sekarang statusnya juga karyawan tapi jangan pernah berprasangka gt dulu. Kalo kita kerja baik pasti kalo g bisa naik 'pangkat' disitu akan selalu ada tempat yang lebih baik yang mampu "melihat" kemampuan kita. Asal kita mau untuk selalu berubah walau kadang melelahkan. Untuk "keturunan" yang mungkin menghambat dan memproteksi. saya juga tidak menyalahkan juga sih, toh saya g pernah liat PNS dari warga "keturunan" sampai sekarang ? iya toh ?
adith - semarang @ 04/04/2008 - 18:16 WIB dari 125.163.200.50 (50.subnet125-163-200.speedy.telkom.net.id)
#2 - Perusahaan Keturunan
Apa yang dikemukakan Mr. AG memang merupakan fakta. Contohnya apa yang dialami keponakan saya sewaktu kerja di suatu perusahaan yang mengelola suatu mall yang dimiliki dan sekaligus dimanajemeni oleh warga keturunan di Palembang. Dalam pemberian gaji pada posisi yang sama terjadi diskriminasi dimana "pribumi" lebih kecil dibanding "keturunan". Tapi saya yakin tidak semua pengusaha warga keturunan berbuat demikian. Lebih baik kita menyikapi hal tsb dengan pandangan positif sebagaimana disarankan oleh Pa Anthony.
Mulyadi - palembang @ 02/04/2008 - 07:35 WIB dari 222.124.7.70 (70.subnet222-124-7.astinet.telkom.net.id)
#1 - Pemimpin Cemas di Perusahaan Keturunan
Yth.Bapak Anthony. Terima kasih atas motivasinya walaupun tujuannya untuk Mr.AG. Kami turut dibangun sebagai bawahan. Kiranya memang yang dijelaskan 'warga turunan' maupun 'warga pribumi' bersatu jangan saling curiga atau membuat batas seperti Tembok Pemisah untuk memagari Kelompok tertentu. TErima kasih. Salam sejehatera Abernat Sidabutar.
Sidabutar Abernat - SUMUT- @ 28/03/2008 - 17:51 WIB dari 125.162.0.150 (150.subnet125-162-0.speedy.telkom.net.id)