Bisnis Indonesia Online » Konsultasi
Konsultasi - Detail
Anthony Dio Martin
Director HR Excellency
Wakil pimpinan suka marah-marah
Tanya
Yth Bapak Anthony Dio Martin,
Saya adalah pimpinan sebuah bank perkreditan rakyat. Saat ini saya punya masalah dengan salah seorang wakil saya. Orang tersebut sebenarnya secara umum baik dan loyal. Namun, orang ini punya kelemahan dalam hal emosi yang membuat prestasi unit kerjanya menjadi jelek.
Dia sendiri sebenarnya tahu bahwa pengendalian emosinya sangat jelek. Karena sering marah-marah, bawahannya jadi ketakutan. Ketakutan itu berdampak pada memburuknya prestasi anak buahnya.
Akhirnya banyak anak buah yang tersisa justru yang jelek-jelek atau yang di luar tidak 'laku'. Atau anak buahnya akhirnya bekerja tapi banyak bohong serta banyak bikin alasan dengan tujuan agar tidak kena marah.
Bagaimana menurut Bapak sebagai salah satu pakar soal emosi di Indonesia. Saya sendiri belum bicara dengannya. Apa yang bisa saya lakukan untuk membantunya? Terima kasih dan mohon sekali bantuannya.
Hormat saya,
SJ
Jawaban
Yth Pak SJ,
Perlu Anda ketahui, bagaimana kita mengekspresikan emosi sering merupakan hasil proses pembelajaran berdasarkan hasil yang kita dapatkan selama ini. Berdasarkan pengalaman saya sebagai trainer Kecerdasan Emosional (EQ), orang mengungkapkan kemarahannya karena tidak melihat adanya alternatif lain.
Jadi, kalaupun dia tahu cara tersebut tidak ada manfaat, orang tersebut terus melakukannya karena tidak terlatih dan juga tidak melihat adanya alternatif lain.
Untuk itulah ada beberapa langkah manajemen yang sebenarnya bisa Anda tempuh. Pertama, kumpulkan data konkret yang menunjukkan bahwa memang wakil Anda tersebut suka marah dan marahnya kelewatan. Hati-hati untuk tidak terjebak sehingga akhirnya Anda justru jadi melabel orang tersebut.
Kita berfokus pada kebiasaan marah-marahnya saja, bukan memberi cap padanya 'pemarah' atau 'manusia emosional'. Ingat, Mahatma Gandhi mengajarkan suatu prinsip yang sangat baik dipelajari para leader yakni, "Hate the sin but don't hate the sinner" (Bencilah dosanya, tapi jangan benci pendosanya).
Kalau perlu, catat dan dapatkan informasi detail mengenai kapan, di mana dan kepada siapa si wakil Anda tersebut marah-marah dalam konteks yang di luar kewajaran. Mengapa perlu data ini? Karena data ini akan menjadi sumber informasi yang baik pada saat Anda memberi coaching & counseling si wakil Anda tersebut.
Kedua, jika memungkinkan, kumpulkan pula data serta informasi yang mendukung kecurigaan Anda bahwa banyak orang bagus yang akhirnya keluar karena kebiasaannya yang suka marah-marah.
Kalau perlu, Anda sendiri melakukan exit interview langsung dengan anak buahnya yang keluar dan pindah ke tempat lain. Informasi ini akan berguna sekali untuk menjelaskan dampak dari sikapnya yang suka emosi, sehingga dia betul-betul sadar akan akibat dari perilakunya. Anda juga mendapat informasi langsung yang lebih akurat, bukan sekadar karena 'kata orang'.
Ketiga, adalah memanggil wakil Anda dan meluangkan waktu secara khusus untuk bicarakan mengenai kebiasaannya tersebut. Usahakan waktu tersebut betul-betul tidak terinterupsi, kalau perlu betul-betul Anda alokasikan agar hal ini bisa dibicarakan secara tuntas.
Fokuskan pada kebiasaan emosionalnya ini, jangan diembel-embeli dengan masalah yang lain sehingga hal ini bisa menjadi fokus perhatiannya.
Keempat, ini menyangkut apa yang harus Anda bicarakan dengannya saat bertemu. Saya menyarankan, sebaiknya ketika berbicara semua data dan informasi disampaikan kepadanya tanpa banyak 'berputar-putar'. Terkadang, saya melihat banyak pimpinan yang tidak bisa mengoreksi kebiasaan anak buahnya yang buruk karena kurang to the point dengan apa yang dia inginkan.
Setelah, menyampaikan data-data serta informasi yang Anda katakan, maka tugas Andalah untuk secara tegas mengatakan kepadanya 'apa alasan keprihatinan' yang Anda miliki. Jika perlu, jelaskan semua dampak dari perilaku dan kebiasaannya. Misalkan dampaknya terhadap organisasi, timnya, orang-orangnya dan juga dampaknya bagi kariernya sendiri.
Alasan keprihatinan ini perlu disampaikan sebab kita percaya: "orang tidak akan berubah jika tidak melihat alasan yang mendalam mengapa dia harus berubah". Untuk itu, Anda betul-betul harus tegaskan mengapa Anda mengharapkan dia berubah.
Anda pun bisa menggali dari si wakil Anda apakah dia sadar dengan perilakunya serta menggali mengapa dia terus menggunakan emosinya sebagai senjatanya. Bisa jadi dia sendiri punya alasan mengapa dia terus menggunakan kemarahannya.
Alternatif solusi
Berikutnya, bersama dengan wakil Anda tersebut bisa dirundingkan apa langkah-langkah yang harus dilakukan. Sebagai pimpinan, mungkin inilah saatnya bagi Anda untuk mendiskusikan dengannya langkah-langkah alternatif lain apa yang bisa dia lakukan saat menemukan kesalahan atau masalah di tempat kerjanya.
Ajak dia untuk melihat alternatif perilaku yang bisa dia miliki selain marah-marah. Ingat, dalam salah satu prinsip kemarahan dalam Emotional Quality Management (EQM) yang kami kembangkan, diajarkan bahwa kemarahan yang kita berikan harus mengacu pada prinsip tertentu dan ada solusinya. Jadi, bukan sekadar marah untuk pelampiasan ataupun sekadar marah-marah, tapi hanya berisi kata makian yang tidak ada solusinya. Mungkin, prinsip inilah yang juga perlu Anda ajarkan kepadanya.
Setelah mengajarkan, jangan lupa Anda sebagai atasan harus menunjukkan ketegasan Anda bahwa Anda sungguh-sungguh mengharapkan dia mengubah sikapnya. Di sisi lain, jangan lupa untuk membicarakan follow up dari pembicaraan Anda. Tegaskan, kapan Anda akan review si wakil Anda tersebut, serta apa harapan Anda.
Kelima, setelah pembicaraan, Anda mulai harus lebih memonitor perkembangan wakil Anda tersebut, khususnya jika bagiannya merupakan salah satu bagian yang penting dalam proses bisnis Anda. Pastikan dia mampu mengendalikan dirinya. Jika perlu bertindaklah sebagai mentor baginya. Dalam hal ini, Anda harus perhatikan apakah terjadi perubahan padanya atau sama saja.
Jika perilakunya terus-menerus tidak mengalami kemajuan, sementara sikapnya betul-betul bisa menjadi kendala utama bagi bisnis Anda, mungkin Anda perlu bersikap tegas serta memberikan bentuk 'hukuman' jabatan atas sikapnya yang negatif tersebut.
bisnis.com
Konsultasi »
Orang IT ber-EQ rendah?
Anthony Dio Martin
Managing Director HR Excellency
Serotonin
Yul Iskandar
Psikiater
Cara menimbang berat badan
Dadang Arief Primana
Dokter Spesialis Gizi Klinik dan Kedokteran Olahraga
Pembayaran ekspor oleh issuing bank hanya sebagian
Saul Daniel Rumeser
Barang bersifat strategis yang bebas PPN
Rachmanto Surahmat
Tax Partner, Purwantono, Sarwoko & Sandjaja Consult
Wakil pimpinan suka marah-marah
Anthony Dio Martin
Director HR Excellency
Komentar
#3 - Jangan Terlalu Cepat Mengambil Kesimpulan
Kasus ini perlu ditelaah dari berbagai sisi dan sebaiknya tidak terlalu cepat mem-vonis dia. Menurut saya, yang pertama kita lihat, apa yang menjadi penyebab kemarahannya, apakah terkait performa kerja atau alasan pribadi. Apakah hal yang menjadi penyebab dia marah itu memang wajar dan demi kepentingan pekerjaan/ perusahaan, atau karena alasan pribadi (suka/ tidak suka). Selain itu dilihat juga prestasi/ performa kerja dia. Kalau dia bagus prestasinya, kita coba untuk memperbaiki sikap/ prilakunya. Untuk itu diperlukan peran mentor dari atasannya. Dari kenyataan yang terjadi, kebanyakan atasan tidak cukup waktu untuk coaching & counselling dan sebagian lagi memang tidak mau atau tidak mampu untuk melakukan peran tsb. Sebaiknya dia dikirim untuk training Communication Skills dan Emotional Management Course. Untuk follow upnya, atasannya perlu berperan dalam day-to-day jobnya....
Eka Wartana - Jakarta - Indonesia @ 04/07/2008 - 08:50 WIB dari 202.51.255.220 (202.51.255.220)
#2 - -
Harusnya orang tersebut dianjurkan untuk ikut program "Anger Management" he..he..!!
nia - Bandung/Indonesia @ 02/06/2008 - 10:59 WIB dari 125.163.73.87 (87.subnet125-163-73.speedy.telkom.net.id)
#1 - Prioritas
Yang Pertama dan yang mutlak harus Bp. S.J lakukan, yakinkan mana yg benar, apakah yg keluar adalah benar2 org2 yg sebenarnya baik ttp krn salah tehknis keluar, ataukah jangan2 wakil Bp. S.J. yg benar memang mereka pantas keluar krn tidak berkualitas. Yg Kedua, kalau memang yg baik keluar krn salahnya kepemimpinan, ya mau nggak mau anda harus prioritaskan Kepentingan Kemajuan Perusahaan, walau sebenarnya loyal tp kalau memang menghambat perusahaan , ya gimana lagi?pindahkan aja kebagian yg cocok dengan marah2nya, atau anda hrs bisa mengakali gimana caranya yg suka marah2 tdk menggangu kemajuan perusahaan, ttp justru dimanfaatkan utk perusahaan. Thx.
Go Hongjin - Surakarta/Indonesia @ 24/05/2008 - 13:19 WIB dari 202.69.110.88 (Subnet-202-69.IP-110-88.netindoo.co.id)