Anthony Dio Martin

Pendidikan self regulation sejak dini

2010-01-15 09:26:42Oleh: Anthony Dio Martin
Managing Director HR Excellency
Tanya:

Salam antusias Pak Anthony,
Meskipun saya seorang guru, saya senang baca ru-brik Bapak yang ternyata bisa diaplikasikan bukan hanya di pekerjaan, tetapi juga dalam hal mendidik siswa. Saat ini, saya menghadapi dilema bukan hanya mengajarkan bidang studi tetapi membuat anak bisa mengelola diri mereka serta stres akademik yang mereka hadapi.

Saya merasa sangat kasihan dengan mereka. Saya rasa, tingkat stres mereka tidak ada bedanya de-ngan stres orang-orang kantoran lho. Bayang-kan, dengan beban akademik yang begitu tinggi dan kurikulum yang padat, mereka dituntut menyelesaikan sesuai dengan waktu.

PR yang bertumpuk, ulangan rutin, harus me-nguasai berbagai bidang studi yang beda, tahu ber-bagai bahasa (Inggris, Mandarin), plus kegiatan ekstrakurikuler yang padat.

Saya sendiri kadang merasa bersalah karena membuat mereka jadi manusia yang hanya ter-fokus pada akademik. Tatkala menghadapi berbagai persoalan kehidupan sehari-hari, banyak yang mudah frustrasi, bingung, dan merasa sendirian.

Saya tahu karena sering dengar curhatan mereka. Entah itu dari mereka sendiri, maupun dari orang tuanya. Nah Pak, sebenarnya apa yang bisa saya lakukan untuk memperlengkapi mereka dengan kemampuan pengelolaan diri yang lebih baik, selain hanya soal akademik?

Juliana - Jakarta


Jawab :
Ibu Juliana, terima kasih atas atensi yang Anda berikan pada tulisan-tulisan pengembangan diri kami yang dimuat di sini. Saat saya mendengar cerita yang Ibu jabarkan, saya pun jadi teringat kisah seorang jenius yang bernama William James Sidis. Ia adalah anak yang jelas sekali tingkat kejeniusannya. Ibu Juliana, terima kasih atas atensi yang Anda berikan pada tulisan-tulisan pengembangan diri kami yang dimuat di sini. Saat saya mendengar cerita yang Ibu jabarkan, saya pun jadi teringat kisah seorang jenius yang bernama William James Sidis. Ia adalah anak yang jelas sekali tingkat kejeniusannya.

Bayangkan! IQ-nya saja diperkirakan sekitar lebih dari 250 (angka yang sangat fantastis!). Dia dianggap sebagai salah satu manusia tercerdas di muka Bumi ini yang pernah hidup.

Dia pun merupakan mahasiswa termuda di Harvard University dengan usia 11 tahun. William sangat pandai dalam berbagai mata pelajaran bahkan pernah menjadi pengajar mata kuliah yang cukup rumit, seperti geometri dan trigonometri.

Hanya saja dalam pergaulan, dia sering diasingkan oleh rekan sekampus, tidak pernah memiliki pasangan, dan mengasingkan dirinya hingga dia meninggal pada usia 46 tahun. Tragis, bukan?

Memang betul, saat ini salah isu yang paling hangat di kalangan pendidik adalah memperlengkapi para peserta didiknya dengan kemampuan menghadapi tantangan dunia yang semakin keras.

Terlebih adalah menghadapi padatnya jadwal sekolah, pekerjaan rumah, tugas-tugas yang banyak, harapan dari keluarga yang begitu tinggi, tekanan dari teman-teman dan lain-lain.

Dengan tekanan-tekanan seperti itu tidaklah mengherankan bila mereka perlu diajarkan bagaimana untuk mengelola diri yang lebih baik, termasuk mengendalikan level stres mereka.

Peserta didik yang notabene adalah individu yang baru berkembang dan masih butuh arahan dan bimbingan, sering kali merasa kesepian dan tidak mendapatkan bimbingan.

Saya setuju bahwa sifat pemicu stres mereka memang berbeda dengan orang yang bekerja. Namun, mereka tetaplah manusia-manusia yang bisa mengalami stres! Inilah yang terkadang tidak dipahami, sehingga tak jarang kalau di ling-kungan orang tua muncul komentar begini, "Kok tugasnya belajar aja bisa stres!"

Akibat buruk dari tuntutan dan level stres tinggi, yang tidak dibarengi dengan pembekalan yang memadai adalah munculnya keputusan dan tindakan yang salah pada diri anak-anak kita.

Pelarian dari masalah dengan cara instan (mulai dari narkoba sampai usaha bunuh diri) serta pergaulan yang salah adalah salah satu simtom yang kita lihat. Sebenarnya kta perlu merasa kasihan.

Dari berbagai program pengembangan diri yang kita adakan bagi kaum muda, kita mengerti betapa meraka membutuhkan teman. Di balik tuntutan akademik yang tinggi, yang kita saksikan adalah pribadi-pribadi yang terasing: yang merasa sendirian karena jarang dibimbing, yang tidak tahu harus mengadu kepada siapa, yang bingung untuk membuat pilihan, yang sering kali dilabel tanpa pernah dipahami.

Concern Ibu Juliana juga merupakan concern saya. Respons-respons mereka yang emosional dan terkesan tidak dipikirkan dengan matang, perlu difasilitasi. Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan dalam membantu mereka dalam hal mengelola diri (self regulation) yang lebih positif:

Mengenali tanda-tanda stres. Saat ini, pelajaran stres management sudah mulai populer serta perlu dibekalkan pada anak didik kita. Di sini, peserta didik diajari mengenali tanda-tanda stres pada diri mereka.

Dimulai dari faktor pemicu stresnya hingga langkah-langkah preventif apakah yang bisa dilakukan sebelum efek stresnya menjadi tak terkendali. Dimulai dari tanda-tanda fisik yang lebih mudah dikenali.

Satu hal yang paling penting yang perlu mereka ketahui adalah level stres bisa berbeda-beda bagi setiap orang. Nah, apa saja tanda-tanda penting ketika mereka sedang stres? Mereka pun dipandu untuk menjadi lebih peka. Karena kalau bisa mengenali, mereka akan lebih bisa mengendalikannya.

Relaksasi. Salah satu langkah sederhana setelah mengenali kondisi yang stres adalah mengajarkan kemampuan untuk relaksasi. Ketika relaks, mereka bisa lebih tenang memikirkan semua pilihan yang mungkin untuk bertindak.

Penelitian menunjukkan, remaja yang lebih tenang pilihannya jauh lebih baik daripada yang kondisinya sering panik. Dr Herbert Benson dari Harvard University dalam bukunya The Relaxation Response, menjelaskan bagaimana tubuh kita merespons stres secara otomatis.

Dia pun menyarankan meditasi pernapasan sederhana dengan mengulangi kata per kata yang menenangkan. Atau, bisa pula dibantu dengan CD-CD relaksasi. Saat relaks, tubuh dan pikiran menjadi santai, ketegangan menurun dan pikiran menjadi lebih terbuka terhadap berbagi pilihan serta lebih sadar akan konsekuensi jangka panjang.

Positif self talk. Salah satu self regulation lainnya yang penting adalah melakukan self talk yang positif. Dengan berbicara dengan diri sendiri berarti mereka memanfaatkan kekuatan pikiran. Berarti menggunakan pikiran untuk membantu diri sendiri, dan hal ini berarti memberikan 'energi' bagi diri sendiri untuk bertindak secara positif.

Gunakan kata-kata seperti "saya bisa", "tidak ada seorangpun yang dapat mengecilkan saya,kecuali saya sendiri", atau "saya akan sanggup melewatinya".

Gaya hidup yang seimbang. Akhirnya, keseimbangan pun penting untuk diajarkan. Prinsip keseimbangan hidup ini mencakup empat dimensi, yaitu fisik, mental, sosial, serta spiritual.

Di sini mereka senantiasa dibekali mulai dengan kesempatan, serta dengan tip dan pentingnya untuk mengelola dimensi-dimensi ini dengan lebih baik, sejak dini. Dengan terus merawat dan menyeimbangkan keempat dimensi tersebut maka mereka diyakinkan berbagai tekanan hidup mereka, akan bisa diatasi lebih baik.

Kiranya dengan beberapa catatan di atas, Ibu Juliana bersama dengan para guru dan orang tua yang peduli, kita bisa menyiapkan masa depan generasi kita yang lebih baik.

Komentar

Kolom

Hak Cipta © 2007 - 2009 - PT Jurnalindo Aksara Grafika