Bisnis Indonesia Online » Sektor Riil » Agribisnis
Selasa, 22/04/2008 19:08 WIB
HKTI nilai kenaikan HPP gabah masih jauh dari harapan
oleh : Asep Dadan Muhanda
JAKARTA: Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menilai kenaikan harga pembeliah pemerintah (HPP) gabah sebesar 10% masih jauh dari harapan karena biaya produksi padi dalam setahun terakhir naik sekitar 25%.
Sekretaris Jendral HKTI Rachmat Pambudy mengatakan para petani melalui lembaganya mengusulkan kenaikan HPP 25% sesuai kenaikan biaya produksi dan inflasi.
"Kenaikan masih jauh dari harapan petani karena tidak signifikan dengan biaya produksi dan biaya hidup akibat naiknya harga berbagai bahan pokok," katanya kepada Bisnis, kemarin.
Pemerintah menaikkan HPP gabah kering panen (GKP)10% menjadi Rp2.200 per kg dari Rp2.200 per kg, gabah kering giling (GKG) naik 9,3% menjadi Rp2.840 per kg, dan HPP beras naik 7,5% menjadi Rp4.300 per kg. Kebijakan itu tertuang dalam Inpres No.1 Tahun 2008 tentang Kebijakan Perberasan Nasional.
Rachmat mengatakan Bulog tetap akan kesulitan menyerap gabah petani dengan harga baru itu. Petani lebih memilih menjual kepada tengkulak dan bandar dibandingkan menjual ke Bulog karena harga baru itu masih jauh dari harapan.
Pada Kesempatan terpisah, Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Barat Oo Sutisna mengatakan kebijakan itu terlambat karena sebagian besar petani sudah panen.
"Seharusnya kenaikkan harga itu ditetapkan pada Januari saat petani masuk musim tanam pertama. Sekarang panennya sudah mau selesai," katanya kepada Bisnis kemarin.
Oo mengatakan sebagian gabah petani Jabar sudah dibeli tengkulak dengan harga di atas HPP baru. Menurut dia, tengkulak dan bandar lebih agresif membeli hasil panen dibandingkan Bulog. (dj)
bisnis.com
Berita Lain
- Pemkab Simeuleu minta izin prinsip 5.000 Ha
- Thailand batal bentuk kartel beras
- Walhi nilai Kepmen Kelautan langkah mundur
- Menhut yakin Jawa jadi sentra jati 2014
- Laba bersih Bakrie Sumatera meroket 794%