Bisnis Indonesia Online » Sektor Riil » Agribisnis
Jumat, 25/04/2008 14:59 WIB
Perhutani Jateng turunkan kapasitas produksi kayu
oleh : Endot Brilliantono
SEMARANG: Perum Perhutani Unit I, Jateng menurunkan kapasitas produksinya kayu jati dari 184 meter kubik (m3) pada 2007 menjadi 156.000 m3 di tahun ini terkait upaya penghematan potensi tegakan berkualitas dan program Perhutani Hijau.
Ketua Pokja Pengelolaan Hutan Lestari Perum Perhutani Unit I, Jateng, Soetomo SW mengatakan penunruan produksi tidak hanya pada kayu jati melainkan juga kayu rimba campuran. “Kalau tahun lalu Jatah Produksi Tahunan (JPT) kami 267.303 m3 sekarang menjadi 199.000 m3,” katanya kepada Bisnis.
Penurunan kapasitas produksi ini menurut Soetomo merupakan bukti bahwa BUMN bidang kehutanan itu tidak sembarangan menebang pohon untuk memperoleh pendapatan perusahaan. Perusahaan warisan Belanda itu menebang berdasarkan etat atau pertumbuhan produksi kayu layak tebang.
Artinya, jelas Soetomo, perum menebang tetap mempertimbangan sisi ekologi. “Secara luasan saja sudah jelas, yaitu kami menebang hanya di bawah 1% dari luas areal hutan kami,” katanya.
Dia tidak menyebtukan luasan lahan yang diizinkan untuk ditebang. “Namun yang jelas penebangan masih nol koma sekian dari hutan produksi seluas 573.000 ha yang ada,” katanya.
Sementara menyinggung rencana penghijauan di wilayah Jateng, Soetomo mengatakan pihaknya optimistis pada 2009 aeluruh lahan kosong di Jawa Tengah sudah tertanami pohon. Dengan demikian, lanjutnya, program Perhutani hijau pada 2010 bisa direalisasikan tahun depan.
Sebelumnya Kepala Unit I Perum Perhutani, Haryono Kusumo menjelaskan, luas seluruh hutan di Jateng 647.000 ha atau 19% dari luas daratan Jateng. Berdasrkan UU No 41/1999 tentang Kehutanan, keberadaan hutan di Jateng ini masih jauh dibawah standar.
Luas hutan yang ideal, menurut Haryono adalah 30% jadi masih kurang 11% lagi. Untuk memenuhi kekurangan luasan tersebut, Pemda Provinsi Jateng menciptakan hutan rakyat, yang pengelolaannya dilakukan bersama masyarakat pedesaan.
Dari target 11% tadi, hingga 2007 hutan rakyat yang terbangun sudah mencapai 8%.
Melalui pola ini kekurang 3% bisa dirampungkan dalam tahun ini, sehingga pada 2008 dan seterusnya, pemerintah beserta masyarakat tinggal membenahi penanaman yang gagal. (dj)
bisnis.com
Berita Lain
- Pemkab Simeuleu minta izin prinsip 5.000 Ha
- Thailand batal bentuk kartel beras
- Walhi nilai Kepmen Kelautan langkah mundur
- Menhut yakin Jawa jadi sentra jati 2014
- Laba bersih Bakrie Sumatera meroket 794%