Bisnis Indonesia Online » Sektor Riil » Agribisnis
Selasa, 26/08/2008 15:29 WIB
Greenpeace tak antiindustri kelapa sawit
oleh : M. Tahir Saleh
JAKARTA (bisnis.com): Greenpeace mendesak seluruh produsen, pemasok, dan pembeli kelapa sawit untuk mendukung penerapan segera jeda atau moratorium deforestasi di Indonesia karena industri kelapa sawit menjadi salah satu pendorong kehancuran hutan.
Arief Wicaksono, political advisor Greenpeace Southeast Asia, mengatakan moratorium itu bukanlah penundaan atau pemberhentian perluasan lahan kelapa sawit secara permanen melainkan jeda sejenak.
"Jangan diartikan kata ini [moratorium] ekstrim, ini hanya istirahat sejenak. Misalkan satu contoh kita berlayar dengan kapal. Di tengah perjalanan kapal tersebut bocor. Nah oleh karena itu perlu ditambal dulu bocornya agar bisa berlayar lagi, sama halnya dengan industri kebun kelapa sawit," jelasnya dalam Dialog Sehari Pelaku Industri Kelapa Sawit hari ini.
Menurut dia, sekitar 85% hutan mengalami deforestasi dan industri kelapa merupakan salah satu dari penyebab hal itu. Moratorium deforestasi adalah suatu mekanisme untuk mengentikan penghancuran hutan untuk sementara.
Dalam penghentian sementara itu, lanjutnya, akan disediakan waktu dan ruang yang dibutuhkan dalam membangun jaringan kawasan lindung serta kawasan yang diperuntukkan untuk hutan yang bertanggung jawab secara ekologis, adil, dan sosial secara berkelanjutan.
"Greesnpeace tidak antiindustri kelapa sawit ya, saya tegaskan kami tidak berfikir tentang hal itu. Yang kami fokuskan di sini adalah mari sama-sama kita benahi kerusakan hutan." (tw)
bisnis.com
Berita Lain
- Stok kayu tak terserap industri 15 juta m3
- Pengusaha hutan diminta rehabilitasi hutan
- Peserta lelang hutan alam masih bisa ajukan izin
- Pengawasan distribusi pupuk ditingkatkan
- Deptan jajaki kerja sama dengan BRI