JAKARTA (Antara): Indonesia sangat berpeluang untuk berhasil dalam mengembangkan industri otomotif seperti CHina di Asia.
"Itu mimpi yang bisa jadi kenyataan. Tapi harus ada upaya," kata Presiden Direktur Grup Indomobil Gunadi Sindhuwinata di Jakarta, hari ini.
Dia mengatakan China awalnya tidak memiliki teknologi untuk mengembangkan otomotif, tetapi dukungan kebijakan pemerintah untuk menjadikan negara tersebut sebagai basis industri otomotif sangat kuat. "Support pemerintah kencang, otomatis pendidikan yang mendukung industri tersebut juga akan naik," ujarnya.
Kerja sama Indonesia-Jepang Economic Partnership Agreement (IJEPA) yang menelurkan MIDEC, menurut dia, tidak berjalan semestinya. Sejauh ini, Indonesia belum merasakan manfaat besar termasuk transfer teknologi dan pengetahuan yang disepakati.
"Nilai tambah dari kerja sama itu belum ada, tetapi sebaliknya, Jepang telah merasakan manfaat dengan bea ekspor impor nol persen," ungkap Gunadi.
Menurut dia, Jepang bisa memperoleh manfaat dari kerjasama bilateral tersebut triliunan rupiah setiap tahunnya. Sementara masyarakat otomotif Indonesia belum secara langsung merasakan manfaat kerja sama tersebut.
Dia memberikan masukan kepada pemerintah untuk membangun sebuah wadah, seperti IPTN, untuk dapat menggerakan industri otomotif di Tanah Air.
"Hampir setiap tahun puluhan ahli Indonesia, dari LIPI, BPPT, maupun dari universitas dikirim keluar negeri untuk memperoleh ilmu langsung dari sana, tetapi sayangnya di sini tidak ada wadahnya. Karena itu, wadah semacam IPTN itu perlu ada," tambah Gunadi.
Hal ini sangat berbeda dengan China, sehingga tidak heran jika negara itu menjadi basis industri otomotif terpesat di Asia bahkan menyalip Jepang.
Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk maju dan berkembang mengikuti China mengingat Indonesia menjadi negara di Asia Pasifik yang memiliki potensi pertumbuhan pasar cukup besar.(yn)
Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »