JAKARTA (Bisnis.com): Asosiasi importir kendaraan bermotor Indonesia (AIKI) menargetkan pertumbuhan penjualan mobil impor CBU tahun ini sebesar 10% dibandingkan tahun lalu dari 5.000 unit menjadi 5.500 unit.
Target pertumbuhan tersebut didasarkan pada keyakinan membaiknya kondisi perekonomian dan meningkatnya daya beli masyarakat selain disebabkan terus menguatnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, khususnya yen.
"Kami senang yen sudah berada di bawah Rp100. Angka Rp95 hingga Rp98 per satu yen sangat pas bagi importer untuk berbisnis," ujar Ketua Umum AIKI Tommy Dwiananda hari ini.
Faktor lainnya yang menjadi stimulan adalah banyaknya model kendaraan face lift major (perubahan tampilan secara ekstrim) yang bakal diluncurkan tahun ini, sehingga memberikan lebih banyak pilihan bagi konsumen.
Model baru tersebut antara lain Toyota Alphard dan Land Cruiser. Melihat kondisi positif seperti ini, dia optimistis target pertumbuhan penjualan 10% dari 5.000 unit tahun lalu menjadi 5.500 unit tahun ini bakal tercapai, asalkan situasi perekonomian tetap terjaga dan tidak ada gejolak politik.
Namun di sisi lain, lanjut Tommy, anggota AIKI kini dihinggapi rasa was-was terhadap khabar bahwa pemerintah akan menaikkan tariff pajak penjualan atas barang mewah (PPn BM) untuk kendaraan di atas 2.400 cc.
Jika rencana tersebut direalisasikan, dipastikan bakal memukul anggota AIKI, dan target pertumbuhan 10% bakal sulit tercapai.
"Dalam kondisi pemulihan seperti sekarang ini, pemerintah seharusnya jangan menghembuskan isu yang merusak semangat pengusaha. Kami kini diliputi rasa ketidakpastian. Kami kini jadi ragu untuk bergerak, jangan-jangan sudah impor mobil banyak, tiba-tiba PPn BM dinaikkan," tuturnya.(fh)