Bisnis Indonesia Online » Sektor Riil » Pariwisata


Senin, 25/08/2008 12:09 WIB

Buku Bali Travel Planner segera diterbitkan

oleh : Hilda Sabri Sulistiyo

JAKARTA (Bisnis.com): Ketua Bali Tourism Board (BTB), Ida Bagus Ngurah Wijaya mengharapkan buku Bali Travel Planner bisa segera diterbitkan dan didistribusikan ke mancanegara sebelum akhir 2008 untuk mendorong pertumbuhan kegiatan wisata konvensi, insentif dan pameran di Bali.

"Kalau buku itu bisa di distribusikan sebelum akhir tahun yang tinggal empat bulan lagi bukan hanya wisata konvensi saja yang bisa digenjot, semua jenis wisata lainnya di Bali dapat ditingkatkan karena yang dipromosikan adalah destinasi Bali dan datanya bisa dimanfaatkan semua pihak," ujarnya, pagi ini.

Ngurah mengatakan dalam buku Bali Travel Planner tersebut akan menyangkut informasi yang menyeluruh dan detil sehingga memudahkan para profesional conference organizer (PCO) di luar negri dapat memanfaatkannya serta merancang kegiatan Meeting, Incentive, Conference & Exhibition (MICE) di Bali.

"Jadi informasinya bukan hanya soal tempat konvensi, akomodasi, paket tour, obyek wisata tapi detil dan menyeluruh mulai dari persoalan visa, informasi fasilitas di bandara Ngurah Rai, persewaan mobil, sewa master ceremonie (MC), penterjemah, pesan dekorasi bunga berikut peraturan perizinan dan kebijakan Pemprov lainnya,"

Dia berharap setiap provinsi di Indonesia terutama yang menjadi 10 tujuan wisata MICE segera menerbitkan buku Travel Planner tersebut sehingga keinginan pemerintah untuk dapat memboyong event-event internasional ke tanah air dapat ditingkatkan.

"Sayangnya Pemprov Bali yang menjadi tujuan wisata utama di Indonesia saja tidak memberikan respons yang positif saat kami ajukan penerbitan buku'wajib' ini.sehingga Direktorat MICE Depbudpar yang turun tangan untuk membantu merealisasikannya," kata Ngurah Wijaya.

Padahal Pemprov Bali berikut Pemerintah Kabupaten dan kotalah yang paling berkepentingan dengan buku Bali Travel Planner tersebut apalagi sudah menikmati Penghasilan Asli Daerah (PAD) yang demikian tinggi dari kegiatan pariwisata termasuk wisata konvensi.

"Informasi yang terdapat dalam buku Travel Planner yang dijual adalah destinasi menyeluruh dari suatu daerah jadi seharusnya pemerintah daerah yang paling bertanggungjawab untuk segera menerbitkannya. Bali Tourism Board (BTB) sebagai lembaga swasta bertugas mengumpulkan data base yang ada dikalangan industri pariwisatanya. Jadi jelas siapa melakukan apa," tandasnya.

Direktur MICE Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Nia Niscaya mengatakan pihaknya memang segera menerbitkan buku Bali Travel Planner tersebut. "Tinggal proses editing dan turun cetak, kita harapkan bisa segera di distribusikan," ujarnya beberapa waktu lalu.

Pihaknya berharap akan lahir buku-buku panduan lainnya bekerjasama dengan kalangan industri pariwisata di 10 destinasi MICE lainnya seperti Jakarta, Batam, Surabaya, Medan, Yogyakarta, Padang, Makassar, Manado dan Bandung sehingga bisa menjadi buku panduan bagi para PCO tingkat dunia.

Ngurah tidak menyebutkan berapa dana yang dibutuhkan untuk penerbitan buku Bali Travel Planner tersebut karena Depbudpar yang akan menerbitkannya. Namun pihaknya mengatakan untuk biaya pencetakan dan pendistribusiannya tidak mahal, ketimbang manfaat ekonomi yang ditimbulkannya.

"PAD Bali dari Kabupaten Badung saja tahun lalu berkisar Rp 500 miliar, Denpasar Rp 100 miliar. Kalau dari dua kabupaten saja sudah sebesar itu seharusnya dikembalikan atau diiventasikan untuk untuk promosi wisata dengan menerbitkan buku Travel Planner. Tapi kenyataannya kepedulian itu dan anggarannya tidak ada," tandasnya.

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Surabaya kembangkan pasar baru di Swedia
  • Kemenangan Obama akan dorong turis ke RI
  • Krisis tak pengaruhi turis Rusia ke Bali
  • Target devisa dari pariwisata US$8 miliar

Komentar

Beri Komentar