Bisnis Indonesia Online » Sektor Riil » Pariwisata
Rabu, 03/09/2008 13:44 WIB
Masalah klise hambat kunjungan wisman
oleh : Hilda Sabri Sulistyo
JAKARTA (bisnis.com): Kalangan pakar komunikasi menilai pertumbuhan kunjungan wisman pada semester I/2008 yang hanya mencapai 11,43% dari target rata-rata 27% akibat persoalan klise minimnya informasi mengenai Indonesia di mancanegara di tengah program Visit Indonesia Year 2008.
"Selama enam bulan terakhir ini saya berkunjung ke Amerika, Eropa dan China dan kolega bisnis yang saya temui umumnya tidak tahu kalau Indonesia sedang menyelenggarakan Tahun Berkunjung ke Indonesia (VIY)," kata Miranty Abdini, presdir PT Fortune PR siang ini.
Pakar komunikasi yang juga anggota International Public Relations Association (IPRA) ini mengatakan minat turis AS untuk berkunjung ke Indonesia sebenarnya besar. Namun karena pemerintah Indonesia belum memanfaatkan media lokal untuk mengkampanyekan program VIY maka realisasi kunjungan masih terbatas.
"Memang berbeda dengan Malaysia yang serius mengkampanyekan Malaysia Trully Asia, bahkan negara tetangga itu benar-benar mewujudkan ada desa-desa wisata di mana turis bisa nonton reog dan tari srimpi di Malaysia, tak perlu ke Indonesia," ujarnya.
Menurut dia, jika tahun lalu jumlah turis ke Indonesia hanya 5 juta dan kini targetnya 7 juta, maka target pertumbuhan harus dikejar karena sebelum melaksanakan VIY Depbudpar tentunya sudah memiliki perencanaan, persiapan, bagaimana pelaksanaan dan evaluasinya nanti.
Pakar komunikasi lainnya Aselina Trihastuti yang juga anggota IPRA mengatakan target kunjungan wisman ke Indonesia sulit dicapai karena Depbudpar belum dapat membedakan kampanye VIY yang selama ini dilakukan kategori advertising atau public relations.
"Kalau saya lihat sih mereka baru sebatas melakukan advertising, padahal VIY itu justru kuncinya adalah kegiatan public relations baik dengan masyarakat lokal maupun dengan masyarakat dunia terutama yang menjadi pasar pariwisata Indonesia."
Pemilik @PR ini mengatakan kalau program kegiatan public relations (PR) VIY direncanakan dengan matang maka termasuk mengedukasi masyarakat bagaimana harus menjadi tuan rumah yang baik, melakukan sinergi dan kordinasi antara pemerintah, pelaku usaha (industri pariwisata) dan masyarakat.
"Sayangnya Depbudpar bahkan tidak mengkomunikasikan programnya dengan pakar komunikasi yang ada baik dalam wadah IPRA atau Perhumas. Padahal organisasi profesi yang ahli dalam hal komunikasi seharusnya dilibatkan dalam perencanaan awal sehingga bisa ikut berkontribusi," ujarnya. (tw)
bisnis.com
Berita Lain
- Aston Marina Hotel ajak wisnus berwisata kuliner
- Surabaya perlu insentif kembangkan MICE
- Pertumbuhan pariwisata dunia hanya 2%-3%
- Pariwisata RI terkaya dalam olahraga air
- Wisata selam tak terpengaruh krisis global