
JAKARTA: Produk makanan minuman merek lokal diperkirakan akan tergeser oleh merek nasional dalam lima tahun ke depan seiring agresifnya pertumbuhan pasar modern di Indonesia.
Chairman Frontier Consulting Group Handi Irawan mengatakan produk makanan minuman merek lokal atau merek yang menggunakan simbol daerah tertentu akan kesulitan mengembangkan pemasarannya karena semakin tingginya biaya distribusi.
"Ujung tombak terakhir produk merek lokal itu ada pada pola distribusi, keberadaan jaringan pasar modern di Indonesia merugikan produk lokal," katanya di Jakarta, hari ini.
Karakter pasar ritel modern, kata dia, lebih menyukai produk merek skala nasional yang mampu memasok dalam partai besar.
Beberapa produk makanan dan minuman dengan merek lokal yang masih populer diantaranya produk kopi, jamu, kecap, sirup, serta makanan ringan atau kudapan.
Kopi yang laku di Jawa berbeda dengan kopi yang digemari masyarakat di Sumatera dan Kalimantan karena alasan budaya. Begitu juga dengan produk lainnya, setiap daerah mempunyai keunggulan masing-masing.
Tetapi, produk lokal itu tidak akan bertahan lama karena pergeseran budaya dan persaingan bisnis.
"Beberapa tahun ke depan, rasa nasionalis masyarakat Indonesia semakin tinggi sehingga selera konsumen berubah," katanya.
Produk merek lokal itu umumnya diproduksi melalui usaha kecil dan menengah. Persaingan bisnis yang semakin ketat akan mengakibatkan usaha di sektor itu perlahan turun. (dj)
Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »