Bisnis Indonesia Online » Sektor Riil » Properti


Senin, 18/08/2008 15:20 WIB

Konstruksi Jateng nilai eskalasi sangat minim

oleh : Natalina Kasih Wasiyati

SEMARANG (Bisnis.com): Penyedia jasa konstruksi di Jateng menilai estimasi pemberian eskalasi oleh pemerintah pusat sangat minim menyusul kenaikan harga bahan bangunan yang mencapai 100%.

Ketua Forum Masyarakat Jasa Konstruksi se-Jateng Kecuk Hendraryadi mengatakan berdasarkan penghitungan kasar angka ideal penyesuaian harga kontrak adalah lebih dari 10% atau lebih tinggi dari penghitungan pemerintah yang hanya 2%-7%. Menurut dia, rendahnya nilai estimasi pada akhirnya dapat berpengaruh pada menurunnya kualitas fisik bangunan karena harus menyesuaikan harga bahan bangunan.

"Pada akhirnya jika pemerintah memaksakan otoritasnya dengan tidak memikirkan nasib kontraktor, berpengaruh pada mutu atau kualitas bangunan," katanya kepada Bisnis, hari ini.

Dia menjelaskan kontraktor menilai kenaikan harga bahan baku bangunan yang terjadi sejak awal tahun ini berkisar antara 60%-100% atau di luar batas perkiraan, sehingga perlu penyesuaian harga kontrak baru. Kecuk menyatakan selain estimasi harga, alternatif lain untuk mengatasi selisih harga kontrak ini dapat dilakukan dengan persetujuan peninjauan kembali kontrak guna menemukan solusi yang tepat antara pemerintah dan penyedia jasa kontraktor.

Peninjauan kembali tersebut, lanjutnya, meliputi keseluruhan poin-poin kontrak seperti penjadwalan ulang, penyusutan volume bangunan dan perpanjangan waktu penyelesaian proyek.

"Reschedulling ini misalnya penyusutan volume bangunan gedung yang semula tiga lantai, namun karena dana tidak mencukupi hanya diselesaikan dua lantai dulu kemudian sisanya menyusul untuk tahun anggaran berikutnya," ujarnya.

Dia menyadari eskalasi harga ini tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah, namun juga bisa disebabkan oleh kontraktor yang tidak profesional. Terutama pada saat penawaran lelang tender, lanjutnya, harus benar-benar memperhitungkan harga-harga serta volume sehingga persoalan yang muncul akibat kenaikan harga bahan bangunan ini bisa diantisipasi.(yn)

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Potensi gagal bayar cicilan KPR tinggi
  • 'Sistem jaringan utilitas kota DKI perlu dibenahi'
  • BNSP gandeng LPKJ tingkatkan kualitas SDM
  • Wika bidik tiga proyek infrastruktur

Komentar

Beri Komentar