Bisnis Indonesia Online » Sektor Riil » Properti


Kamis, 28/08/2008 11:38 WIB

Perusahaan realestat di Jepang makin terpuruk

oleh : M. Yunan Hilmi

TOKYO (Bloomberg): Chairman of Daiwa House Industry Co Takeo Higuchi mengatakan perusahaan realestat di Jepang yang bangkrut bakal bertambah tahun ini menyusul makin seretnya kredit bank.

Pengembang dan konstruksi mendominasi perusahaan yang gagal selama Juli, hampir sepertiga dari 1.131 bangkrut dalam bulan itu. Jumlah itu merupakan yang terbesar sejak April 2005.

"Sulit untuk melihat sepercik cahaya di ujung terowongan. Bank akan lebih ketat dalam menyalurkan kredit ke sektor perusahaan properti setelah melihat kemungkinan makin banyaknya perusahaan yang ambruk," kata Higuchi yang pada September memprediksikan pasar properti bakal lesu.

Topix Real Estate Index melonjak tiga kali lipat dalam empat tahun sampai 2006 sebelum terhenti tahun lalu yang di antaranya disebabkan bank memperketat pinjaman kepada pengembang. Sejumlah dana asing yang diinvestasikan sejak 1997 juga ditarik kembali setelah kolapsnya subprime mortgage di AS.

"Ketatnya kredit bank memberi kontribusi atas melambatnya industri properti. Perusahaan memiliki pinjaman yang melebihi kemampuan mereka untuk membayar, bahkan kebijakan pemerintah tidak mampu bisa membantu," ujar Higuchi dalam wawancana dengan Bloomberg Television di Tokyo.

Urban Corp, developer terbesar ke tujuh di Jepang pada 2006, mengajukan pailit ke pengadilan akibat utang senilai US$2,4 miliar. Angka merupakan yang terbesar di Jepang dalam enam tahun. Teikoku Databank Ltd memperlihatkan pada Juli, total kewajiban perusahaan yang meminta perlindungan pailit meningkat dua kali lipat menjadi 640 miliar yen (US$5,87 miliar) dari tahun sebelumnya.

Menkeu Jepang Toshimitsu Motegi pernah mengatakan kerugian kredit macet dari 11 bank terbesar Jepang, termasuk Mitsubishi UFJ Financial Group Inc, naik 62% menjadi 234,1 miliar yen dalam tiga bulan sampai 30 Juni dari periode sama tahun sebelumnya.(yn)

bisnis.com

 

Berita Lain

  • Potensi gagal bayar cicilan KPR tinggi
  • 'Sistem jaringan utilitas kota DKI perlu dibenahi'
  • BNSP gandeng LPKJ tingkatkan kualitas SDM
  • Wika bidik tiga proyek infrastruktur

Komentar

Beri Komentar