Bisnis Indonesia Online » Sektor Riil » Properti
Senin, 01/09/2008 20:05 WIB
Eksploitasi air tanah dalam tak terkendali
oleh : Nurudin Abdullah
JAKARTA (bisnis.com): Pemprov DKI Jakarta tidak mampu mengendalikan eksploitasi air tanah dalam secara maksimal sehingga dapat menyebabkan banyak permukaan tanah menurun yang mengakibatkan terjadi genangan dan banjir pada musim penghujan.
Anggota Bidang Teknik Badan Regulator Pelayanan Air Minum DKI Jakarta Firdaus Ali mengatakan pengambilan air tanah dalam di Ibu Kota semakin tidak terkendali karena tarifnya hanya sekitar Rp300 per m3 jauh lebih murah dari tarif air bersih Perusahaan Daerah Air Minum Jaya sebesar Rp14.000 per m3.
"Tarif yang lebih murah jauh lebih menarik sehingga banyak yang berusaha mengambil air tanah dalam tanpa memperhatikan risikonya yang sangat buruk bagi lingkungan," katanya hari ini.
Dia menyatakan keyakinannya jumlah sumur bor dan pantek di Jakarta jauh lebih banyak dari catatan Dinas Pertambangan DKI yang menyebutkan hanya sebanyak 3.788 titik dengan jumlah pemakaian sekitar 22.327.643 m3.
Sebab, lanjutnya, banyak pemilik bangunan yang melaporkan sumur bornya hanya dua unit tetapi sesungguhnya di lokasi yang sama terdapat lima unit. Pengelola hanya membayar tarif air tanah dalam untuk dua titik sumur itu saja.
Menurut Firdaus, tingginya eksploitasi cadangan air tahan dalam di Jakarta tidak seimbang dengan kapasitas untuk pemulihan secara alami maupun artificial yang sanat rendah dan terbatas sekali.
Artinya, jumlah air tanah dalam di Jakarta yang disedot tidak seimbang dengan air yang telah dimanfaatkan atau air hujan yang masuk kembali ke dalam tanah untuk menggantikan air yang sudah disedot. Dampak dari kondisi tersebut, pada musim hujan banyak daerah genangan dan banjir karena permukaan tanahnya menurun, atau pada musim kemarau akan semakin kesulitan mendapatkan air bersih. (tw)
bisnis.com
Berita Lain
- DWL optimistis renovasi Pluit Village sesuai jadwal
- Industri perumahan akan terus tumbuh
- DPP REI minta perbankan prioritaskan KPR
- 'Ekspansi kontraktor asing tertunda krisis'
- Harga bahan bangunan turun, eskalasi tak jadi