Bisnis Indonesia Online » Sektor Riil » Ritel & UKM
Rabu, 14/05/2008 18:58 WIB
Gerai eks Alfa ganti jadi Carrefour
oleh : Dwi Wahyuni
SURABAYA (Bisnis): PT Alfa Retailindo Tbk membuka gerai eks Alfa dengan nama baru Carrefour Express pertama di Indonesia, setelah sekitar 75% dari saham perusahaan itu diakuisisi oleh Carrefour awal 2008.
Presdir PT Alfa Retalindo Tbk Agoes P Adhi mengatakan pergantian nama gerai Alfa, yang berlokasi di Jl. Panjang Jiwo, Surabaya, menjadi Carrefour Express itu, merupakan bagian dari rencana perusahaan untuk mengubah seluruh gerai Alfa dengan nama Carrefour.
Sejak peritel asal Prancis ini menguasai 75% saham Alfa Retalindo dari PT Sigmantara Alfindo dan Prime Horizon Tbk maka seluruh jaringan hipermarket Alfa menyandang nama Carrefour.
"Kami sendiri menargetkan selambat-lambatnya pada Hari Raya Lebaran seluruh gerai Alfa yang berjumlah 29 harus sudah re-launching dengan nama Carrefour," ujar Agoes seusai peresmian Carrefour Express Panjang Jiwo Surabaya.
Menurut dia penggantian brand tersebut dilakukan secara bertahap karena membutuhkan renovasi dan penataan ulang sesuai dengan standar manajemen Carrefour.
"Gerai Carrefour harus dapat menciptakan suasana belanja yang nyaman dan mampu menampung ratusan ribu produk," ujarnya.
Dia mengatakan tidak semua gerai eks Alfa memenuhi syarat menjadi gerai Carrefour. Itu sebabnya, sebagian gerai, khususnya yang luas lahannya kurang dari 3.500 m2 cukup menjadi gerai Carrefour Express. (tw)
bisnis.com
Berita Lain
- Sarana produksi UKM genjot daya saing ekspor
- Carrefour catat untung US$1,1 miliar
- Penjualan Pop Mie diprediksi naik saat puasa
- Danone tingkatkan kualitas & kuantitas susu
- Kenaikan harga elpiji pukul pengusaha kue
Komentar
#1 - Pembelian Saham VS Nasionalisme
Pembelian saham perusahaan Indonesia oleh investor asing sudah biasa di era globalisasi ini. Sebelumnya seperti kita tahu Heinz telah membeli sebagian besar saham ABC, AQUA dikuasai oleh Danone perusahaan asing dari Perancis, Kecap Cap Bango, Unilever yang sepertinya milik bangsa padahal milik Belanda. Kemanakah keuntungan terbesarnya mengalir? tentu ke si empunya saham. Saat ini perusahaan-perusahaan potensial kita sudah menjadi incaran investor asing, memang baik karena dengan adanya investor baru akan memberikan dana segar. Namun saya khawatir suatu saat kita tidak mempunyai perusahaan yang 100% keuntungannya mengalir untuk kemudian diinvestasikan sendiri di dalam negeri. Lelucon saya, kita memohon ke negara-negara maju untuk meminjam uang, sementara uangnya berasal dari keuntungan perusahaan dalam negeri. Sebuah lelucon yang kelihatannya lucu namun menyakitkan. Salam DS Rachmat http://dsrachmat.wordpress.com
DS Rachmat - Sukabumi, Jawa Barat @ 15/05/2008 - 11:45 WIB dari 125.163.3.255 (255.subnet125-163-3.speedy.telkom.net.id)